Saturday, 7 January 2017

Manajemen Anesthesia pada Hypertiroid

Gangguan tiroid merupakan salah satu disfungsi hormon yang sering terjadi perioperatif.
Hipertiroid/hipotiroid berdampak terhadap anestesi.
Prevalensi disfungsi tiroid meningkat sesuai usia, dan lebih banyak pada wanita.
Diperlukan pemahaman fisiologi tiroid, kegawatan dan penanganannya dalam menjalankan perawatan maupun tindakan anestesi



Selama kehamilan terjadi perubahan fisiologi pada axis HPT :
¡  HCG mirip dengan TSH à merangsang pembentukan T4 dan T3
¡  Estrogen meningkat à meningkatkan TBG à T4 total meningkat.
¡  Trimester 2 dan 3, plasenta deodinase mengubah T4 menjadi T3 meningkatkan metabolisme perifer hormon tiroid
¡  Peningkatan eksresi  iodine akibat peningkatan GFR, sementara kebutuhan iodine meningkat.






—  Pada Janin hormon tiroid  untuk perkembangan otak dan somatic.
—  Janin tergantung pada transfer trans-placental T4 dari ibu.
—  Fungsi sintesa tiroid pada janin dimulai pada usia 10 – 12 minggu, dan axis HPT baru dimulai saat usia 18 minggu berkembang sampai matur saat usia 2 tahun.
—  Janin bergantung pada intake iodium dari ibu melalui plasenta.
Tes Fungsi Tiroid
—  Tes yang dilakukan untuk menilai disfungsi tiroid dapat dibagi menjadi 2:
—  Untuk mengetahui status tiroid:
¡  Mengukur kadar TSH plasma atau serum
¡  Mengukur kadar hormone tiroid T3 dan T4 dalam plasma atau serum.
—  Untuk mencari penyebab disfungsi tiroid :
¡  Tiroid auto antibody
¡  Serum thyroglobulin
¡  Biopsy tiroid
¡  USG atau scan.


Nilai nornal :
TSH : >0,4-5 mU/L
Total T4 :5,0 – 12,0 μg/dl
Total T3 :5,0 – 12,0 μg/dl
Obat
Mekanisme kerja dan efek
Indikasi
Farmakokinetik, Toksisitas, Interaksi
Sediaan Tiroid:
  • Levothyroxine (T4)
  • Liothyronine (T3)
Aktifasi reseptor nucleus untuk pembentukan RNA dan sintesa protein
Hipotiroid
T4 waktu paruh 7 hari.
T3 waktu paruh 1 hari.
Efek maksimal terapi setelah 6-8 minggu terapi.
Gejala toksisitas seperti pada hipertiroid
Antitiroid
Thioamides
  • Propylthiouracil (PTU)
  • Menghambat reaksi tiroid peroxidase.
  • block iodine organification
  • menghambat deiodonisasi dari T4 dan T3
Hipertiroid
  • sediaan oral
  • durasi 6-8 jam.
  • Toksisitas : mual, stress gastrointestinal, rash, agranulositosis, hepatitis, hipotiroid.
Iodides
  • Larutan lugol
  • Potassium iodida
  • Menghambat organifikasi dan pelepasan hormone.
  • Mengurangi ukuran dan vaskularisasi kelenjar.
Persiapan untuk operasi tiroidektomi.
  • Sediaan oral.
  • Toksisitas jarang

Beta blocker
  • Propanolol
  • Inhibisi adrenoreseptor beta
  • Inhibisi T4 menjadi T3 (hanya propanolol)
Hipertiroid, diberikan untuk mengontrol takikardi, hipertensi dan AF
  • Durasi 4-6 jam ( sediaan oral propanolol).
  • Toksisitas : asma, AV block, hipotensi, bradikardi
Radioactive iodine 131 I (RAI)
Radiasi destruksi parenkim tiroid.
  • Hipertiroid
  • Pasien sebaiknya eutiroid atau dalam terapi beta blocker
  • Sebaiknya tidak dilakukan pada wanita hamil atau ibu menyusui
  • Sediaan oral
  • Waktu paruh 5 hari
  • Onset 6-12 minggu
  • Toksisitas : suara serak, hipotiroid.


Semua prosedur operasi elektif, termasuk subtotal thyroidectomy, diusahakan sampai klinis dan pemeriksaan laboratorium dalam keadaan euthiroid dengan pengobatan. Pasien harus memiliki nilai normal dari T3 dan T4 , dan tidak boleh takikardia. Obat antitiroid dan antagonis B-adrenergik tetap diberikan pagi hari sebelum operasi. Pemberian PTU dan Methimazole terutama sangat penting sebab waktu parohnya lebih pendek. Jika pada operasi emergency tetap harus dilanjutkan meskipun klinis hipertiroid, kondisi hyperdinamyc bisa dikontrol dengan titrasi infus esmolol.
Fungsi kardiovaskular dan suhu tubuh harus tetap dimonitor pada pasien dengan riwayat hipertiroid. Eksoftalmus akibat penyakit graves meningkatkan resiko abrasi kornea atau ulserasi.
KETAMINE ,indirect agonist adrenergic dan obat lain yang menstimulasi  saraf simpatis  atau antagonis muscarinic lebih baik dihindari pada pasien dengan atau baru saja dikoreksi hipertiroid sebab bisa meningkatkan tekanan darah dan detak jantung. Pengobatan yang tidak tuntas pada pasien hipertiroid bisa menjadi hivopolemik kronik dan rawan memperburuk hipotensi respon terhadap induksi. Anestesi yang adekuat juga harus dipertimbangkan, bagaimanapun, sebelum intubasi dengan laringoscop atau prosedur pembedahan harus dihindari terjadinya takikardi, hipertensi dan aritmia ventricular.
Thyrotoxicosis berhubungan dengan peningkatan insiden miopathi dan myasthenia gravis. Oleh karena itu, harus waspada pemberian neuro muscular blocking agent (NMBs).
Tatalaksana yang penting pada pasien yang sedang menjalani operasi yang mengalami badai tiroid dengan gejala :
-          Hyperpirexia
-          Takikardia
-          Perubahan kesadaran ( agitasi, delirium, koma)
-          Hypotensi
Muncul biasanya 6-24 jam setelah operasi tetapi bisa muncul pada saat operasi. Mirip dengan gejala malignant hyperthermia. Tapi tidak sama dengan malignant hyperthermia , bagaimanapun badai tiroid tidak berhubngan denga kekakuan otot, peningkatan serum kreatinin, atau penenada derajat metabolic ( laktat) dan asidosis respiratorik. Pengobatan termasuk hydrasi dan mendinginkan, pemberian esmolol infus atau B –blocker intravena yang lain dengan target HR < 100 x/menit, PTU 250-500 mg tiap 6 jam peroral atau memalui NGT diikuti pemberian sodium iodide 1 gr/IV tiap 12 jam. Dan koreksi factor yang menyebakan seperti infeksi. Cortisol 100-200 mg tiap 8 jam dianjurkan untuk mencegah komplikasi terhadap penekanan kelenjar adrenal. Badai tyroid merupakan kasus emergency yang harus mendapat tindakan yang agresif dan monitoring yang ketat.
Thyroidektomi berhubungan dengan beberapa potensial komplikasi operasi. Muncul kembali laryngeal nerve palsy yang menyebabkan suara serak ( unilateral ) atau Aphonia dan stridor ( Bilateral ) . fungsi pita suara bisa dievaluasi dengan laringoskope dikjuti dengan ekstubasi dalam, bagaimana ini jarang terjadi. Kegagalan satu atau kedua cord harus direintubasi dan eksplorasi kembali luka. Hematoma mungkin sebab berbahaya karena penyempitan trakea. Sebagian pada pasien dengan trakeomalasia. Pembedahan hematoma untuk mngurangi jaringan lunak yang  membuat leher berubah anaomy airway dan mungkin menyebabkan kesulitan intubasi. Dengan segera buka luka di leher dan evakuasi clot, kemudian memperkirakan kemungkinan kebutuhan untuk reintubasi kembali.
Persiapan preoperative :
-          Obat-obatan tiroid teta diberikan
-          Lugolisasi 10-14 hari menjelang operasi ->10 tetes perhari
-          Pasien emergency -> persiapan singkat Beta blocker, PTU, kortikosteroid, iodine
-          Periksa dan anamnesa yang baik mengenai gejala , gangguan tyroid, cardiorespirasi, comorbid lain dan riwayat pengobatan.
-          Pemeriksaan penunjang -> Laboratorium ( DL,SE,Ca< BUN/SK

B1
  • A : evaluasi jalan nafas (kemungkinan adanya difficult airway) dan tanda-tanda obstruksi jalan nafas karena efek dari massa tiroid.
  • B  :
 Hipertiroid à BMR ↑ à ↑VO2 à mudah terjadi desaturasi saat induksi
       Hipotiroid à↓ventilasi à ↑CO2 dan O2↓ (hati-hati dalam penggunaan
       opioid dan sedasi)
Pemeriksaan penunjang : CXR, bila perlu CT scan leher untuk evaluasi trachea.
B2
Hipertiroid : evaluasi irama jantung (takikardi, AF, palpitasi) ,CHF. HR normal à operasi.  Emergency àpemberian beta blocker (hati-hati pada pasien dengan CHF, harus dilakukan titrasi dan monitoring CO)
Pada pasien hipertiroid dapat terjadi dehidrasi (evaluasi tanda dehidrasi).
Hipotiroid : bradiaritmia, efusi perikard, ↓voltase ECG
Pemeriksaan penunjang : ECG, pertimbangkan untuk echocardiografi.
B3
Hipertiroid : warm, moist skin, nervousness, anxiety (mungkin membutuhkan sedasi)
Hipotiroid : ↓BMR àslow mentation and movement, intoleransi dingin.
B4
Hipotiroid : gangguan fungsi renal, retensi urine, oligouri.
Tes BUN dan serum kreatinin
B5
Hipertiroid : penurunan berat badan, diare ( evaluasi dehidrasi dan ganguan elektrolit)
Hipotiroid : konstipasi, perdarahan GI, ileus
B6
Hipertiroid : meningkatnya insiden terjadinya myastenia gravis (sensitive terhadap muscle relaxan)
Hipotiroid : atralgia dan mialgia

Premedikasi
Pada preoperatif dilakukan pemasangan NGT untuk jalur pemberian obat-obatan bila terjadi kondisi emergency
Hipertiroid :
•       Midazolam 0,025-0,05mg/kg BB iv.
•       Obat-obatan anti tiroid dan beta blocker tetap diteruskan.

Manajemen Intraoperative
—  Persiapan yang dilakukan berupa :
¡  Persiapan mesin anestesi, persiapan general anestesi (peralatan intubasi), dan persiapan difficult airway.
¡  Matras yang dapat dihangatkan maupun didinginkan.
¡  Monitor tensi, ECG, saturasi, dan temperatur core (rectal)
¡  Pada hipertiroid dilakukan pendinginan ruangan dan cairan infus, sedangkan pada hipotiroid ruangan dan cairan infuse dihangatkan.
¡  Obat-obatan emergency.
¡  Pada pasien hipertiroid disiapkan lugol, PTU  400mg  dilarutkan dalam spuit (disiapkan bentuk serbuk 2 bungkus @ 400mg), Propanolol 20mg dilarutkan dalam spuit (disiapkan bentuk serbuk 2 bungkus).
¡  Dapat dilakukan regional dan general.
¡  Regional : block plexus cervical bilateral, epidural cervical.
¡  Pembedahan nonthyroid, Regional anestesi dilakukan pada kondisi tidak ada tanda-tanda gagal jantung.
¡  Tidak dilakukan penambahan epinefrin pada obat anestesi lokal mencegah respon sirkulasi
¡  General anestesi dengan intubasi.
¡  Persiapan yang dilakukan termasuk persiapan penanganan difficult airway.
¡  Succinylcolin tetap menjadi obat pilihan, namun idealnya digunakan vecuronium sebagai relaksan karena karakteristik cardio-stability
¡  Agen anestesi yang dipakai dapat berupa inhalan maupun intravena.  Pilihan utama adalah TIVA (propofol).
¡  Pemberian streroid dilakukan intraoperatif untuk mencegah edema jalan nafas dan mengurangi insiden PONV
¡  Posisi pada saat pembedahan, pasien diganjal pungggung  àHarus diperhatikan drainase dari pembuluh darah dan melindungi mata.
¡  Dilakukan monitoring respiratory, hemodinamik, dan temperature (core à rektal) perioperatif.

Induksi

Induksi standar pada pasien eutiroid. Bila terdapat airway compromise akibat massa tiroid, pertimbangkan untuk intubasi awake dengan fiber optic.
Hipertiroid :
•        obat induksi pilihan adalah thiopental.
•        Hati-hati saat induksi karena pasien hipertiroid biasanya mengalami hipovolemi kronis dan vasodilatasi.
•       Pastikan kedalaman anestesi adekuat sebelum stimulasi dengan laryngoscope untuk mencegah takikardi, hipertensi dan VT.

Maintanance
Eutiroid :Standart maintenance. Maintain muscle relaxan
Hipertiroid :
•       hindari obat-obatan yang dapat menstimulasi sistem saraf simpatis.
•       Pemberian NMBA harus berhati-hati karena pasien dengan tirotoksikosis berhubungan dengan meningkatnya kejadian miopati dan myasthenia gravis.
•       Hipertiroid tidak meningkatkan kebutuhan agen anestesi (tidak ada perubahan MAC)

Monitoring : Monitoring fungsi cardiovascular dan temperature harus dilakukan dengan ketat. Pasang temperature core (rectal).

Ektubasi Dalam -> dapat dihindari terjadinya perdarahan dari luka akibat gerakan selama extubasi, kesulitan untuk evaluasi gerakan pita suara.
Ekstubasi Sadar baik -> relaksan telah hilang, dilakukan leak test sebelum ekstubasi. smooth emergence ,blunting

Manajemen Post Operatif
—  observasi di ruang ICU
—  monitoring ketat tanda vital, temperature (core temperature) dan kesadaran
—  observasi terhadap terjadinya komplikasi postoperative
—  Managemen nyeri.

Komplikasi Post operatif
—  Hematom
—  Edema laring
—  Lesi nervus recurrent laryngeus
—  Lesi nervus superior laryngeus
—  Tracheomalasia.
—  Hipoparatiroid à hipokalsemi
—  Hipotiroid
—  Pneumothorax (pada retrosternal)
—  infeksi

Krisis Tiroid
—  Krisis Tiroid (Badai tiroid)
¡  Monitoring durante operasi dapat menunjukkan tanda :
÷  Demam (>37,4 C)
÷  TD naik sistolik > 140 mmHg, diastolic >100mmHg
÷  Takikardi > 100x/menit ( SVT , AF)
÷  Perubahan status mental (agitasi, psikosis, koma)
÷  Soda lime cepat berubah warna, dan rasakan panasnya selalu secara priodik.
—  Langkah penanganan  badai tiroid :
¡  Penggantian cairan dan elektrolit.
¡  PTU 400-600 mg per NGT, dilanjutkan tiap 6 jam.
¡  Lugol 1cc per NGT, dilanjutkan tiap 8 jam
¡  Propanolol 20 mg per NGT, diulang 3-4 jam
¡  Dexamethasone 5 mg iv, dulang 6-8 jam
¡  Methyl prednisolon 125 mg iv, diulang tiap 6 jam
¡  Dinginkan tubuh pasien lewat :
÷  Kompres
÷  Infuse dingin kristaloid
÷  Catheter spoeling secara periodic 200-300 cc NS dingin diaspirasi setiap 2-3 menit.





Monday, 2 January 2017

KETAMINE


Ketamin adalah satu-satunya obat anestesi yang memiliki sifat analgesic ( anti nyeri ), hypnosis ( membuat tidur ) dan amnesia ( kehilangan memori jangka pendek). Ketika ketamine dipakai dengan tepat sangat berguna dan serba guna.
Ketamin tersedia dalam beberapa konsentrasi 10 mg/ml, 50 mg/ml, dan 100 mg/ml. 50 mg/ml adalah sedian yang sering dipakai karena dapat diberikan secara intramuscular atau diencerkan dahulu sebelum digunakan .
Ketamin bisa diberikan intravena induksi 1-2 mg/kgBB, mantanance 0,5 mg/kgBB, atau pemberian intramyscular dengan dosis induksi 5-10 mg/kgBB, maintance 3-5 mg/kgBB untuk anesthesia, peroral 15mg/KgBB untuk anak dan maximum 500 mg untuk dewasa untuk sedasi

Efek ketamine pada Tubuh
Sistem respirasi
Dengan ketamine jalan nafas biasanya lebih terjaga, reflex laring dan reflex faring bisa dipertahankan. Tetapi ini bukanlah sebuah jaminan, namun untuk mencegah aspirasi dan menjaga jalan nafas pasien sebaiknya digunakan ketamine. Jika ketamine diberikan secara lambat maka pernafasan akan tetap baik, jika diberikan  dengan cepat bisa nafas berhenti sesaat kemudian dalam 1 menit kembali lagi. Inilah yang menyebabkan ketamine mejadilebih logis digunakan didaerah yang tidak ada oksigen atau daerah dengan persedian oksigen terbatas. Ketamin juga berfungsi sebagai bronchodilator.
System kardiovaskular
Dengan ketamine tidak ada peningkatan tekanan darah dan denyut jantung. Biasanya onset 2 menit setelah penyuntikan dan durasi kerja obatnya 15-20 menit.  Ada respon yang luas terhadap orang yang berbeda tentang kenaikan tekanan darah. Resiko ini tidak berhubungan dengan riwayat hipertensi pada pasien sebelum operasi. Kenaikan tekanan darah biasanya merupakan respon ikutan terhadap dosis diazepam intravena yang diberikan 1-2 mg untuk orang dewasa.
Saraf Pusat
Ketamine berbeda dengan agen anestesi lainnya, pada pemakaian ketamine pasien mungkin bisa membuka mata dan gerakan reflex selama operasi. Onsetnya terlihat lambat pada pemberian intravena sekitar 1-5 menit. Durasinya tergantung pemberian 20-30 menit jika diberikan IM dan 10-15 menit pada pemberian IV.
Ketamine merupakan analgesia yang bagus dan mungkin bisa digunakan tanpa analgetik lainnya lagi selama operasi. Pertimbangkan untuk tidak diberikan untuk nyeri postoperative . pemberian opiate atau tramadol pada saat operasi dapat mengurangi pemakaian ketamine dan mengurangi insiden halusinasi postoperative. Namun hal ini meningkatkan resiko terjadinya henti nafas pada saat operasi.
Pada saat pemulihan pasien mungkin mengalami agitasi karena halusinasi yang diakibatkan oleh ketamine . halusinasi bisa dikurangi dengan cara premedikasi dengan benzodizepin biasanya diazepam 0,15 mg/KgBB peroral satu jam sebelum operasi atau 0,1 mg/KgBB.
Ketamine meningkatkan tekanan intracranial oleh karena itu tidak boleh diberikan pada pasien dengan riwayat trauma kepala.
Ketamine meningkatkan produksi air liur. Ini akan meningkatkan resiko terjadinya spasme laryng atau obstruksi. untuk menguranginya bisa diberikan premedikasi atropine 20 mcg/KgBB IM 30 menit sebelum operasi atau pada saat induksi berikan intravena sebanyak 10-20 mcg/kgBB.
Ketamine meningkatkan tonus otot rangka. Biasanya muncul saat awal pemberian dan kemudian menurun kembali. Juga bisa dicegah dengan pemberian benzodisepin. Jarang  menjadi masalah pada saat operasi.
Ketamine meningkatkan tekanan intraocular. Ketamine juga mnyebabkan mata bergerak ( nystagmus) . ini tidak bisa dipakai pada operasi mata.
Ketamin  menembus placenta.

sumber ( Anaesthesia UK)

Sunday, 1 January 2017

Anestesi pada Seksio Sesarea pada Wanita Hamil dengan Obesitas

Menurut WHO obesitas merupakan pandemic yang lebih tinggi terjadi pada wanita, klasifikasiberdasarkan BMI ( Body mass index ) dan komorbid. Morbidity pada ibu berhubungan dengan penigkatan kasus obesitas khususnya hipertensi, diabetes mellitus, penyakit pada saluran nafas( asma dan sleep apnoe) , penyakit tromboemboli, kardiomiopati, infeksi. Di Brazile berdasarkan data  diperoleh sekitar 5,5 % kasus obesitas pada wanita hamil.







Klasifikasi
BMI (Kg.m2 )
Resiko Komorbid
Normal
18.5-24,9
Medium
Overweight
>25

Pre-Obese
25-29,9
Increased
Obese cls 1
30-34,9
Moderate
Obese cls 2
35-39,9
Severe
Obese cls 3
>40
Very severe
Clasifikasi obesitas oleh WHO

Obesitas merupakan masalah kesehatan di masyarakat. Oleh karena itu, seorang dokter anestesi juga harus disiapkan untuk menangani kasus obesitas pada kehamilan, agar lebih familiar dengan resiko dari obesitas, evaluasi lebih awal, dan agar membuat sebuah protocol untuk penangan obesitas pada ibu hamil untuk mengurangi kegagalan teknik anestesi dan resiko ibu dan bayi selama persalinan.
Perubahan fisiologis selama kehamilan terlebih pada ibu hamil yang obesitas. Posisi supine  menyebabkan gangguan pada fungsi kardiovaskular dan pernafasan yaitu merubah volume dan kapasitas paru. Tekanan abdomen menyebabkan kesulitan bernafas dan hipotensi pada wanita hamil yang obese.
Spinal anestesi merupakan teknik yang biasa dilakukan pada pembiusan operasi seksio sesarea. Resiko terjadinya high blok bisa terjadi yang menyebabkan kesulitan bernafas.
Ruang epidural pada wanita hamil mungkin berkurang karena pelebaran pembuluh darah di ruang ekstradural, kompresi ruang subarachnoid, dan berkurangnya cairan serebrospinal. Pelebaran pembuluh vena di ruang ekstradural dan peningkatan tekanan intrabdominal menyebabkan penekanan pada vena cava inferior dan kosnekuensinya adalah pengurangan cairan serebrospinal. Menjadi lebih sulit untuk mempredikasi kesulitan blok pada wanita hamil obese dan non-obese dengan menggunakan dosis anestesi lokal yang sama.
Spinal anestesi pada wanita hamil yang mengalami obesitas memiliki kesulitan berupa kesulitan dalam mengidentifikasi garis midline. Garis midline bisa dilokalisasi dengan patokan prominence C7 atau celah intergluteal. Bisa juga digunakan USG untuk melokalisasi ruang epidural, tetapi ini jarang dikerjakan. Pada obesitas cls 3 didapatkan lebih sulit untuk mengidentifikasi dan meraba ruang intervertebral dan untuk melakukan penusukan pada lumbal.
Jarak antara kulit dengan ruang epidural jarang melebihi 8 cm, pada 14.000 kasus hanya 1 kasus yang memerlukan jarum spinal melebihi 8 cm.

Persiapan anestesi pada wanita hamil dengan obesitas
Persiapan meliputi evaluasi kembali kondisi pasien, komorbid . jalur intravena dipasang sejak awal. Buatlah perencanaan teknik anestesi
Persiapan alat berupa meja operasi, kursi roda, baju pasien yang lebih besar. Persiapkan monitor untuk tanda vital dan jarum spinal yang panjang.
Pilihan pertama analgesia pada ibuhamil dengan obesitas adalah analgesia regional dengan alternative adalah analgesia melalui intravena, im atau inhalasi.
Analgesia regional yang digunakan adalah epidural atau combinasi spinal epidural.
Pilihan anestesi pada SC adalah anestesi regional atau anestesi umum. Anestesi epidural merupakan teknik pilhan dengan memasukkan kateter pada ruang epidural sehingga selama SC atau post SC kita bisa memasukkan local anestesi. Durasinya lebih panjang, memperbaiki kondisi kardiovaskular. Namun secara teknis memang lebih sulit.
Spinal anestesi memiliki onset yang lebih cepat, durasi yang lebih pendek dan lebih cocok untuk SC, namun teknik lebih suit dan sulit memprediksi ketinggian blok.
Anestesi umum merupakan pilihan kedua setelah anestesi regional pada pasien SC dengan obesitas. Pada anestesi umum kesulitannya adalah kesulitan menguasai jalan nafas, gagal intubasi terjadi 1:200. Selain itu resiko terjadinya regurgitasi dan aspirasi cukup besar, mudah terjadinya hipoksia karena FRC berkurang dan terjadinya peningkatan konsumsi oksigen.  Maka perlu dipersapkan alat-alat untuk airway sulit seperti bogie, stylet, laringoskope blade panjang, fibre optic.

Saturday, 31 December 2016

RSI (rapid sequence intubation) 7 P


RSI terdiri dari 7 P
1.       Preparation ( persiapan )
2.       Preoxygenation
3.       Pretreatment
4.       Paralysis
5.       Protection
6.       Placement
7.       Post intubation management



1.       Preparation ( Persiapan)
Sebelum melakukan RSI kita harus menyiapkan alat dan obat yang kita perlukan
-          Monitor, Pulse oksimetri, Tekanan darah, EKG, dll
-          Pastikan IV line menetes lancer, jika perlu pasang 2 IV line
-          BVM, suction, ETCO2
-          Laringoscope dengan berbagai ukuran blade
-          ETT sesuai nomor yang dibutuhkan. Siapkan STATICs ( Scope, Tube, Airway,Tape,Introduction, conector, suction)
-          Obat emergency dan obat-obat induksi
-          Alat-alat untuk airway sulit
2.       Preoksigenasi
-          Berikan oksigen 100 % selama 3-5 menit
3.       Pretreatment
-          Lidocain 1,5 mg/kg/iv- mengurangi intracranial dan bronkopastik respon pada pasien dengan peningkatan tekanan intrkranial atau penyakit pada saluran nafas
-          Fentanyl 3 Mcg/Kg/IV -> mengurangi respon simpatis peningkatan HR dan peningkatan tekanan darah pada pasien dengan peningkatan ICP, peradarahan intracranial, ischemia, atau aorta diseksi
-          Vecuronium Bromide 0,01 mg/Kg/IV atau Pancuronium, jangan menggunakan sucsinyl colin
-          Atropine -> pretreatmen atropine pada anak-anak di bawah 1 tahun
4.       Paralisis dengan Induksi
a.       Berikan indusi dengan :
                                                               i.      Etomidate 0,3 mg/Kg Iv
                                                             ii.      Midazolame 0,3 mg/Kg IV
                                                            iii.      Ketamin 1,5 mg/Kg IV
                                                           iv.      Propofol 1-2 mg/Kg IV
b.      Berikan pelumpuh otot langsung setelah pemberian agent induksi :
                                                               i.      Sucsinil colin 1,5 mg/Kg IV
                                                             ii.      Rocuronium 1 mg/Kg IV jika suksinil colin kontraindikasi
5.       Proteksi
Proteksi dengan cara sellick maneuver-> tekan tulang rawan crioid untuk mencegah regurgitasi dari lambung

6.       Placement
Masukkan ETT, pasang cuff, cek apakah masuk atautidak, cek simetris kiri dan kanan lapangan paru, kemudian fiksasi

7.       Post Intubasi
-          Foto thoraks untuk memastikan letak ETT
-          Berikan long acting sedasi jika perlu pelumpuh otot
o   Lorazepam 0,05mg /Kg IV untuk sedasi
o   Vecuronium 0,1 mg/ IV untuk pelumpuh otot
-          Mecanical ventilasi
-          Sedative : Propofol drip/bolus


Kontraindikasi pemberian Sucsinilcolin
1.       Hiperkalemia
a.       Luka bakar >10 % lebih dari 72 jam dan kurang dari 6 bulan
b.      Paralisis lebih dari 3 hari dan kurang dari 6 bulan
c.       Denervation syndrome sehingga tidak aktif dalam 6 bulan
d.      Crush injury lebih dari 3 hari dan kurang dari 6 bulan
e.      Sepsis lebih dari 3 hari
2.       Peningkatan tekanan intraocular
3.       Riwayat malignan hipertermia
4.       Muscular dystropi, multiple sclerosis

Contoh RSI pada psien berat 70 Kg
-          Preoksigenasi dengan O2 100% selama 3 menit atau 8 kali tarikan nafas
-          Etomidate 20mg IV
-          Sucsinilcolin 100 mg Iv
-          Tunggu 45 menit
-          Intubasi

Contoh RSI pasien dengan peningkatan ICP berat 70 kg
-          Preoksigenasi dengan O2 100 % selama 3 menit
-          Lidocaine 100 mg IV
-          Vecuronium 1 mg IV
-          Fentanyl 200 mcg IV
-          Tunggu 3 menit
-          Etomidate 20 mg IV
-          Sucsinilcholine 100 mg IV
-          Tunggu 45 detik
-          Intubasi

Selamat Datang 2017

" Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yangtelah diperbuatnya untuk hari esok... (Q.S. Al-Hasyr:18).

Berlalu sudah 2016 dan selamat datang 2017. Pastinya kita punya target ke depan seperti apa. buat merayakan pergantian tahun sih gak ya. biasa aja, sama mau tahun masehi atau tahun Islam saya gak pernah ikut merayakannya. mengharamkan sih gak, cuma malas aja buat keluar rumah. padahal karena tugas banyak..hehe he..akhirnya terpaksa rajin berkutat dengan buku-buku dan jurnal-jurnal tentang anesthesia obstetri. mendadak rajin. 

Target pertama saya, saya akan lebih memanfaatkan waktu untuk belajar, membaca, target minimal 1 jurnal anestesi sehari bisa saya selesaikan.... ha?...sebenarnya dengan kondisi super sibuk di anestesi kita bisa membagi waktu,hanya saja seringkali kita dikalahkan rasa malas dan godaan tempat tidur yang memang menggoda buat rebahan...awalnya biasanya sudah niat mau baca, nyampe rumah liat kasur empuk, baring baring bentar deh, tugas ntar aja, luruskan pinggung bentar. kayaknya aku tidur bentar sejam dua jam biar ntar bangunnya lebih segar buat ngerjain tugas. tapi apalah daya, mata sudah tak mampu terbuka, hanya adzan subuh yang membuat panik seisi rumah...oh tugasku yang dikasih kakak kelas belum buat, buku kerja belum bikin, duh ini belum baca, duh ini belum, itu belum.....harishun ala waqtihi 

Target kedua , selama 2016 saya rasakan kualitas ibadah sangat menurun, lagi-lagi yang jadi kambing hitam ya kesibukan. sibuk sana sibuk sini, sibuk tugas ini sibuk tugas itu, akhirnya semua keteteran. jangankan 1 juz sehari yang tinggal minum jus doank. shalat malam jarang padahal kadang smalaman gak tidur jagain pasien, apa sulitnya sempatkan 2 rakaat tahajjud, sambil berdoa semoga dinas jaganya aman damai sentosa, pasien lekas sembuh dan besok kagak ditanya macam-macam pas Morning report atau MRnya gak jadi sekalian...ehhh...becanda he he he...sebenarnya sering berdoa itu dalam ati, apalagi ngebayangin saat-saat dijejali pertanyaan, mumet gak bisa jawab, jangankan jawab, pertanyaannya aja bisa ngerti dah syukur. jurus ampuh bikin wajah memelas, perlu dikasihani agar nada konsutan tidak semakin tinggi dan semoga gak dibombardir pertanyaan lagi, scrotal position, keringat jagung jatuh satu persatu,gempa lokal....ampuuunnnn. 

Target ketiga, bisa kumpul lagi bareng keluarga, istri dan anak-anak.kangen mereka semua. hiksss.....yang ini agak-agak melow,gak usah dilanjut ya...pliisss... nangis di pojokan.

Target keempat, saya akan aktif lagi menulis dan cuap-cuap di blog ini, selain buat refreshing tapi juga mungkin bisa berbagi ilmu, klo ada salah-salah gak pa pa dikoreksi...( pede amat emang ada yang baca blognya...hahaha). blog ini lama gak diupdate, banyak debu dan laba-laba. klo ada yg sempat berkunjung kesini mungkin pikirnya pemiliknya sudah mati ya...belom kok, hahaha...insyaallah blog ini akan lebih bermanfaat lagi. semoga aja ya....

Target kelima...dah yang penting makin ganteng dan soleh aja....haha ha. dilarang komen buat yang ini, klo iri bilang....ape lo?

Selamat tahun baru 2017 buat teman-teman semua. semoga kita senantiasa mampu memperbiki diri . semoga hari esok lebih baik dari hari ini. siapkan bekal untuk dunia tapi jangan lupa untuk akhirat kita yang lebih utama. 



Komplikasi yang Tidak Biasa Spinal Anesthesia pada Seksio Sesarea

Spinal anesthesia adalah memasukkan obat anestesi local ke dalam ruang subarachnoid untuk menghilangkan sensasi nyeri. Umumnya komplikasi pada spinal anesthesia adalah hipotensi yang diikuti mual dan muntah, gagal spinal anestesi dan post dural puncture. Komplikasi yang tidak umum lainnya adalah high dan total spinal dan hematoma. Pada kasus ini dilaporkan pasien dengan gerakan tungkai bawah yang tidak terkontrol, Hipertensi, aritmia dan cardiac arrest berulang setelah resusitasi.

1.       Pendahuluan
Spinal anesthesia merupakan teknik yang aman dengan sedikit komplikasi yang bisa mudah ditangani. Memasukkan obat-obatan local anestesi misalnya Bupivacain 0,5% ke dalam ruang subarachnoid. Obat lain bisa ditambahkan seperti opioid dan clonidine untuk meningkatkan kualitas blok.
Meskipun prosedur tindakan ini lebih aman, ada didaptkan laporan  komplikasi yang dihubungkan dengan kesalahan manusia seperti kurangnya kewaspadaan, salah label atau salah memasukkan spuit denngan ampul obat, atau menganggap remeh konsep double check. Di tempat kami ada 4000 seksio sesarea yang dilakukan tiap tahun dan 85 % dengan spinal anestesi . ini merupakan laporan pertama kasus pasien dengan gerakan tungkai bawah yang tak bisa dikontrol diikuti oleh hipertensi dan aritmia setelah pemberian spinal anesthesia.

2.       Deskripsi Kasus
Ampul Asam Tranexamat dan Bupivacaine 0,5 % yang mirip
Pasien wanita 27 tahun dengan G2P1 datang sekitar pukul 07.00 untuk dilakukan seksio sesarea dengan riwayat seksio sesarea.
Pasien telah dibawa ke klinik bersalin sekitar pukl 07.00 untuk dilakukan operasi seksio dengan riwayat seksio sebelumnya. Pasien adalah wanita 27 tahun dengan G2P101. Pasien telah dianestesi dan sudah disiapkan untuk pembedahan. Pasien dengan PS ASA 1.
Spinal anetsesia dikerjakan dengan posisi duduk di interspase L4-L5, dengan jarum 25 G. perawat anestesi memberikan ampul Bupivacain 0,5% 4 ml ke residen anestesi yang akan melakukan tindakan. Setelah injeksi Bupivacain, tekanan darah pasien stabile.namun, pasien masih bisa menggerakkan kedua kakinya setelah 5 menit dilakukan spinal. Tidak ada keluhan yang lain dan perawat anestesi menyarankan agar dokter bedah menunggu obat bekerja.
Setelah dilakukan pembersihan dan draping ketika dokter bedah menguji ketinggian bok spinal pasien merasa nyeri. Pasien mulai kejang mioklonik sebatas anggota gerak bawah dan perut. Pasien menjadi sangat cemas dan tekanan darah 175/95 mmhg dan perawat anestesi memutuskan untuk merubah sipinal anestesi ke anestesi umum. Dia tidak bisa menjelaskan alas an kenapa terjadi kejang mioklonik dan hipertensi.
Induksi anestesi umum dengan Thiopentone 450 mg diikuti dengan pemberian Suxamethorium 100mg setelah itu pasien berhasil diintubasi.
Bayi berhasil lahir setelah 5 menit insisi. APGAR skore 1 menit pertama 8/10. Diberikan Syntoncinon 10 Unit untuk kontraksi otot dan fentanyl 100 mcg untuk analgetik.  Pasien juga mendapatkan Augmentin 1,2 gr.
Setelah bayi lahir dokter bedah melihat kejang lagi, tapi ia berpikir itu mungkin gerakan disebabkan oleh kuran dalamnya anestesi. Perawat anestesi kemudian mendalamkan anestesi dan meyakinkan dokter bedah untuk melanjutkan operasi.
Setelah operasi selesai 30 menit dan agen inhalasi sudah distop, kejang mioklonik semakin memburuk. Pasien bisa membuka mata tetapi gelisah dan tidak bisa diekstubasi. Pasien akhirnya dikirim ke ICU untuk pengelolaan selanjutnya.
Pasien diterima di ICU tidak sadar dengan GCS 3/15.
Pupil ukuran sama kiri dan kanan. Reflex cahaya positif. Tidak ada tanda lateralisasi. Namun pasien masih kejang mioklonik pada anggota gerak bawah dan otot perut.
Pemeriksaan RBS 7,4 mmol/l. suhu 38,4 C. pasien diberikan thiopentone untuk mengontrol kejang dan pemakaian ventilator untuk support ventilasi.
Dokter anestesi di ICU menduga ini adalah eklampsia dan mungkin salah memasukkan obat ke ruang subarchnoid. CT scan kepala dan Lumbosacral normal. Semua pemeriksaan laboratorium KFT, LFT, TFT dan FBC normal.
Ketika dicek ke tempat operasi ditemukan disebelah kiri troli anestesi asam tranexamat. Ampulnya kelihatan mirip dengan ampul Bupivacain. Mahasiswi perawat anestesi dikompirmasi  bawah ampul tanexamat itu yang diberikan kepadanya oleh perawat anestesi.
Kondisi pasien memburuk dengan semakin sering kejang meskipun dengan pemberian antikejang. Pasien juga mengalami takiaritmia dan cardiac arrest 24 jam setelah dilakukan resusitasi. 12 jam setlah terjadi ventricular takikardi dan akhirnya muncul verikular fibrilasi yang berulang untuk resusitasi. Pasien dinyatakan meninggal setalh 48 jam masuk ICU. Post mortem dianjurkan tapi kerabat menolak.

3.       Diskusi
Kesalahan penyuntikan asam tranexamat tidak biasa terjadi. Firouzeh at al . melaporkan kasus pasien obstetric yang tidak sengaja diberikan asam tranexamat melalui intratekal. Setelah 3 menit injeksi, pasien masih bergerakdan merasakan nyeri di perut bagian bawah. Pasien merasa tidak nyaman dan pusing. Anestesi umum dilakukan untuk melahirkan bayi. Setelah operasi pada pasien muncul takiaritmia dan gerakan-gerakan tidak terkendali pada ektremitas bawah seperti kejang. Pasien mengalami cardiac arrest dan telah berulang diresusitasi.
De Leede-Van der Maarl at al. melaporkan kasus pasien laki2 68 tahun yang tidak sengaja diinjeksikan asam tranexamat 50mg  melalui intratekal. Segera setalah pemberian obat, pasien mengalami status epileptikus. Komplikasi parese pada semua anggota gerak. , bilateral peroneal palsy. Kasus yang dialporkan oleh Yeh et al, kejang umum dan ventricular fibrilasi berulang setelah pemberian asam tranexamat 500 mg melalui intratekal. Pada duakasus lainnya dilaporkan pemberian asam tranexmat 150mg melalui intratekal menyebabakan ventricular fibrilasi berulang.
Mekanisme kejang dan ventricular fibrilasiyang disebabkan oleh pemberian asam tranexamat tidak diketahui. Bagaimanapun dosis asam tranexamat yang tinggi akan menyebabkan pemblokan saraf simpatis yang menyebabkan hipertensi dan ventricular takikardi. Furtmuller et al juga melaporkan antagonis dari TXA pada reseptor gamma amino butyric acid –a ( GABA) menjelaskan kejang pada ektremitas bawahyang disebabkan oleh TXA. Pasien kami menerima TXA 200 mg melalui intratekal menyebabkan kejang klonik, takikardia dan meninggal setelah 48 jam.

4.       Kesimpulan
Pada literature, kasus yang dilaporkan tentang insiden pemberian intratekal TXA karena susah membedakan antara ampul TXA dan Bupivacaine 0,5 %. Ini karena ampul keduanya hampir mirip.
Kami merekomendasikan untuk obat yang penting seperti obat spinal anesthesia dibuat kemasan yang unik agar mengurangi kebingungan. Pada waktu yang sama dokter anestesi harus mencek label ampul dan menjalankan konsep cek dua kali.
Pada akhirnya, proses hukum harus dijalankan terlepas dari status pasien. Dalam hal ini pasien dating untuk operasi SC. Kami percaya bahwa perawat anestesi yang mengerjakan ini dia telah bekerja selama 11 jam dan pasti sangat lelah. 

Sumber : ( Unusual Complication Following spinal anesthesia for caesarean section. A.Antwi-Kusi et al)