Showing posts with label Ruhiyah. Show all posts
Showing posts with label Ruhiyah. Show all posts

Tuesday, 12 April 2011

Menyublimkan Kepedihan


Mari bekerja di ladang-ladang amal kita yang sangat luas tanpa batas. Silakan mencela bagi yang hobi mencela. Silakan melaknat bagi yang gemar melakukannya. Silakan berhenti dan menepi bagi yang sudah tidak memiliki kepercayaan lagi. Sekecil apapun langkah kebaikan kita lakukan, pasti tetap menjadi kontribusi yang berarti bagi negeri.
...


Oleh Cahyadi Takariawan*
Sesungguhnyalah epos setiap pahlawan dan pejuang selalu menyimpan kisah-kisah kepedihan. Karena semua pahlawan, semua orang besar, tidak bisa menghindarkan diri dari keterbatasan dirinya yang tidak dimengerti publik. Kebesaran nama dirinya telah menyihir opini masyarakat, seakan dia adalah manusia tanpa cela, serba sempurna dan serba tidak ada kekurangannya. Di titik ini, setiap pejuang ditempatkan secara terasing, di posisi yang tidak dia kehendaki.

Ada pejuang yang memilih menjaga citra diri dengan mencoba menjadikan dirinya sesuai harapan publik. Tentu ini tidak mudah. Dia adalah magnet bagi kamera media. Omongannya, responnya, perbuatannya, tindakannya, adalah sebuah berita. Semua mata memandang kepadanya, dimanapun ia berada. Tak ada ruang privat lagi bagi orang seperti dirinya. Media bisa masuk ke semua ruang-ruang pribadinya.

Dengan pilihan ini, ia harus menjadi seseorang seperti yang diharapkan publik. Bukan menjadi dirinya sendiri yang memiliki banyak keterbatasan. Namun ia harus menjadi hero, menjadi superman, menjadi seseorang yang selalu diidolakan semua kalangan masyarakat. Tak ada kesempatan bagi dirinya untuk menjadi dirinya sendiri, menjadi manusia biasa yang bisa menangis, bisa salah, bisa lupa, bisa khilaf, bisa berbuat dosa. Dia dipaksa menjadi seseorang seperti harapan masyarakat terhadap sosok pahlawan dan pejuang. Bahwa para pahlawan selalu tampil elegan, tanpa cela, tanpa cacat. Sedikitpun.

Celakanya, para pemuja sosok pahlawan ini hampir tidak bisa membedakan mana sosok manusia biasa yang tengah berusaha menjadi pejuang atau pahlawan, dengan manusia pilihan yang Tuhan takdirkan menjadi Nabi. Bagi seorang Nabi utusan Tuhan, dirinya mendapatkan dukungan Ketuhanan secara penuh. Karena semua perkataan dan perbuatannya adalah hukum untuk diikuti oleh pemeluk agama sang Nabi. Berbeda dengan manusia yang lainnya, kendati dia adalah seseorang yang berusaha menempatkan diri dalam barisan para pejuang dan para pahlawan, namun tetap saja dia adalah manusia biasa.

Sebuah harapan yang berlebihan bahkan absurd. Saat dunia telah sangat lama ditinggalkan oleh Nabi terakhir, akhirnya menjadi defisit keteladanan dan contoh kebaikan. Dunia muak dengan kemunafikan dan kepura-puraan yang sering ditampakkan banyak aktor politik dan banyak pejabat publik. Masyarakat menghendaki dan mencoba mengidentifikasi tokoh-tokoh yang bisa menjadi sumber inspirasi dan keteladanan dalam kehidupan. Sangat langka. Begitu menemukan beberapa gelintir orang yang dianggap masih memiliki harapan untuk menjadi panutan, maka harapan mereka menjadi berlebihan dan tidak masuk akal.

Para pejuang ini telah dipajang dalam bingkai harapan yang sangat ideal. Tak boleh berdebu, mereka bersihkan setiap hari dengan puji-pujian dan sejuta doa. Para pejuang ini yang akan menjadi penyelamat bangsa, akan menjadi harapan perubahan bagi Indonesia. Sebuah obsesi yang lahir dari dahaga berkepanjangan akan munculnya sosok keteladanan dari para pahlawan. Sangat lama masyarakat menunggu para pahlawan yang akan mensejahterakan rakyat Indonesia dan membebaskan masyarakat dari kebodohan, kemiskinan, kelaparan, ketertinggalan dan keterbelakangan.

Para pejuang telah ditempatkan pada posisi yang mustahil melakukan kesalahan. Mereka tidak ditolerir memiliki kelemahan, bukan hanya untuk diri pribadinya. Namun juga bagi isteri, anak-anak dan semua keluarganya. Masyarakat mudah mengalami kekecewaan fatal bahkan keputusasaan apabila melihat ada kekurangan pada diri sang hero, atau pada isteri dan anak-anaknya. Keteladanan dituntut untuk selalu dipenuhi, bahkan oleh anak-anak yang tidak banyak mengerti beban orang tua mereka yang terlanjurkan diidolakan sebagai sosok pahlawan super. Isterinya harus super, anak-anaknya harus super, keluarga besarnya harus super. Betapa berlebihan tuntutan ini.

Namun ada pula para pejuang yang memilih menikmati menjadi dirinya sendiri apa adanya. Seorang manusia yang penuh kelemahan dan keterbatasan. Di tengah kelemahan dan keterbatasan diri, ia mencoba menjadi seseorang yang memberikan kemanfaatan bagi orang lain. Memberikan kontribusi kebaikan sekuat kemampuan yang dia miliki. Waktu, tenaga, pikiran, harta benda dia curahkan untuk melakukan hal terbaik yang bisa dia sumbangkan bagi perbaikan bangsa dan negara. Mungkin tidak terlalu memuaskan masyarakat, mungkin tidak heroik, mungkin tidak dielu-elukan oleh para pemuja kepahlawanan. Namun ia selalu berusaha memberikan yang terbaik.

Dia melihat dunia dengan dua kacamata pada saat bersamaan. Satu kacamata idealis, dia memiliki visi yang sangat jelas tentang hal-hal ideal yang harus dilakukan dan harus terjadi bagi bangsa dan negara. Satu lagi kacamata realis, bahwa dia melihat Indonesia tidak cukup diubah oleh keteladanan beberapa sosok pahlawan. Indonesia hanya memerlukan kebersamaan untuk melakukan perubahan, memerlukan konsistensi untuk menegakkan aturan, memerlukan kedisiplinan untuk menjalankan agenda kebangsaan dan kenegaraan. Indonesia memerlukan harmoni dari pagelaran orkestra berbangsa dan bernegara.

Dia tidak mau terkurung ke dalam sosok pahlawan ideal seperti yang digambarkan masyarakat. Benarkah perubahan Indonesia harus dimulai dari sosok-sosok profan yang tak memiliki sedikitpun kekurangan, cacat, kelemahan dan kesalahan? Bukankah itu hanya layak dinisbatkan kepada para Nabi dan Rasul yang dimuliakan Tuhan dengan tugas-tugas Ketuhanan? Dia merasa hanyalah manusia biasa yang berusaha melakukan perubahan ke arah kebaikan, semaksimal kemampuan yang dia miliki. Namun dia mengetahui ada sejumlah sisi-sisi kemanusiaan dalam dirinya yang akan sulit dipahami oleh publik.

Sering terbersit dalam kesendiriannya, apakah hanya ada dua pilihan menjalani kehidupan bagi bangsa Indonesia? Pilihan menjadi pahlawan super hero yang dipuja-puja seluruh masyarakat, dan pilihan menjadi pecundang yang dicela oleh semua media, tanpa sisa? Tidak adakah pilihan menjadi diri sendiri yang jujur apa adanya, menjadi seseorang yang penuh keteterbatasan dan kelemahan, namun selalu berusaha menyumbangkan kontribusi terbaik bagi bangsa dan negara? Dimanakah tempat orang-orang seperti ini? Apa nama dan nilai mereka ini? Menjadi pahlawan ataukah pecundang?

Menjadi super hero tanpa cela betapa sangat sulitnya. Siapa yang akan sanggup menempati posisi seperti ini, siapa yang akan merelakan dirinya berada dalam sebuah suasana pencitraan, untuk memenuhi harapan dahaga masyarakat akan sosok-sosok keteladanan? Menjadi pejuang tanpa kelemahan dan kekurangan, betapa beratnya. Menjadi pahlawan tanpa sedikitpun tercemar oleh cela yang dilakukan oleh dirinya, isteri, anak-anak dan keluarga besarnya, siapa sanggup menempuhnya? Inilah episode kepedihan setiap pahlawan dan pejuang.

Saya berusaha memilih sesuatu yang masuk akal dan sesuai hati nurani. Saya bukan seorang pahlawan, bukan seorang super hero, bukan seorang superman, atau semacam itu. Saya hanyalah seorang anak bangsa yang memiliki teramat sangat banyak kekurangan, kelemahan, keterbatasan dan hal-hal tidak ideal. Dari sudut pandang apapun. Namun saya sangat meyakini bahwa kebaikan besar bermula dari kebaikan-kebaikan kecil. Saya sangat meyakini hal-hal luar biasa bisa bermula dari konsistensi melakukan hal-hal yang biasa.

Terserah orang menyebut apa terhadap hal yang saya lakukan. Saya berjalan pada sebuah keyakinan, pada sebuah arah tujuan. Saya berjalan pada sebuah bingkai cita-cita perubahan, namun saya hanyalah seorang manusia yang penuh keterbatasan. Isteri saya hanyalah seorang perempuan biasa, sangat biasa, yang memiliki sangat banyak kekurangan. Anak-anak saya hanyalah anak-anak yang terlahir dari sejarah pernikahan, dan mereka menjadi dirinya yang tidak bisa dibebani dengan harapan orang atas ayah mereka. Namun dengan segala titik kelemahan dan kekurangan kemanusiaan tersebut, saya selalu berusaha melakukan hal-hal baik yang mampu saya lakukan. Memproduksi kebajikan semaksimal kesanggupan yang ada pada saya.

Tidak bolehkah memiliki pilihan sederhana seperti ini? Haruskah kita memilih menjadi pahlawan tanpa cela, atau sekalian memilih menjadi pecundang yang dicela serta dilaknat seluruh media? Sedih sekali hidup kita, jika terbelenggu oleh “apa kata orang kepada kita”. Sedih sekali, jika hidup kita harus menyesuaikan dengan selera media. Sempit sekali dunia, jika kita harus menjadi sosok-sosok utopis yang diimpikan para pemuja epos kepahlawanan dunia. Hingga orang tidak berani berbuat dan berkata apa-apa, karena takut dilaknat media. Hingga orang takut melakukan upaya perbaikan semampu yang dia bisa, karena takut dicela massa.

Setiap hari berseliweran sms, mengkonfirmasi berita ini dan itu di media massa. Mencela, melaknat, mencaci maki, menghakimi semau sendiri, memastikan keburukan orang, mengimani berita media massa tentang perilaku seseorang. Sms berseliweran tanpa tuan, menghakimi tanpa persidangan, memutuskan tanpa penjelasan, memastikan tanpa pertanyaan, menuduh tanpa kelengkapan persyaratan, membunuh karakter tanpa alasan. Semua orang ketakutan, semua orang gelisah, tiarap, takut dirinya tengah dirilis media. Takut dirinya tengah dibicarakan koran. Takut dirinya menjadi berita utama di sms yang berseliweran setiap detik, setiap kesempatan.

Seakan dunia telah kiamat, saat seseorang pejuang dituduh melakukan kesalahan. Seakan kebaikan telah hilang, saat sosok pahlawan yang diidamkan teropinikan melakukan pelanggaran. Hancur sudah dunia kepahlawanan, habis sudah sejarah para pejuang, tamat sudah riwayat para pembela kebenaran. Hari ini juga semua jiwa telah binasa. Kita menjadi orang yang berlebih-lebihan melihat, menanggapi, mengomentari segala sesuatu. Baru running text, baru rilis koran, baru kilas berita televisi dan cybermedia. Tiba-tiba sms sudah menyebar kemana-mana. Tiba-tiba kepercayaan sudah sirna. Tiba-tiba kehangatan sudah tiada. Berpuluh tahun kita merajutnya. Hilang sesaat begitu saja?

Inilah sisi kepedihan dalam setiap epos kepahlawanan dan kepejuangan. Setiap pahlawan, setiap pejuang selalu dihadapkan kepada kondisi-kondisi kemanusiaan yang sulit dimengerti para pemuja mereka. Media telah menghukum tanpa ampunan. Headline setiap hari. Heboh, bombastis, sinistis. Mematikan hati yang terlalu ciut menerima kritik dan lontaran tajam. Mematikan semangat yang terlampau dingin untuk melakukan berbagai kebajikan. Cita-cita dan tujuan seakan sudah terlupakan oleh opini koran dan berita harian.

Silakan tidur dan berhenti dari kebaikan, maka para setan akan pesta pora merayakan kemenangan. Silakan menyesal menempuh jalan panjang bernama kebajikan, tempuh jalan lain yang lebih menyenangkan pemberitaan. Hanya itukah tujuan kita? Mendapat pujian, mendapat pengakuan, mendapat ucapan selamat dan penghargaan atas kesantunan, kesalehan, kebaikan, kejujuran, dan kebersihan yang ditampilkan? Tidak siap mendengar kritik tajam, caci maki, cemoohan masyarakat dan media massa? Tidak kuat mendengar ledekan, tertawaan, gunjingan, dan kekesalan orang?

Adakah anda rasakan kesedihan yang saya tuliskan? Kesedihan di setiap epos kepahlawanan dan kepejuangan. Kesedihan yang tidak bisa dibagi dengan para pemuja pahlawan. Kesedihan yang harus dikunyah dan dinikmati sendiri oleh setiap orang yang berjuang dalam kebaikan. Jika anda merasakan, saya ajak anda menyublimkan kesedihan itu menjadi sebuah karya nyata, sekecil apapun yang kita bisa.

Menyublimkan kepedihan menjadi amal kebaikan berkelanjutan yang kita lakukan dalam setiap tarikan nafas. Jangan menguapkannya, karena jika diuapkan kesedihan hanya akan hilang namun tidak menghasilkan karya. Ya, anda harus menyublimkan kepedihan ini menjadi sesuatu yang sangat berarti. Menjadi sesuatu yang menyemangati diri. Menjadi sesuatu yang menasihati. Menjadi sesuatu yang bernilai abadi. Menjadi sesuatu yang bernama KONTRIBUSI.

Setiap cemoohan dan ejekan akan menambah kesedihan di hati para pejuang. Setiap ketidakberhasilan akan menggoreskan kegetiran pada dada setiap pejuang. Kesedihan itu harus disublimasi menjadi karya yang berarti. Setiap hari kita telah terbiasa menumpuk kelelahan, kesedihan, kegetiran, kepedihan, dari yang terkecil hingga yang paling dalam. Menyublimkan kegetiran akan mengubahnya menjadi kerja nyata bagi bangsa dan negara. Apa artinya dipuji-puji jika tidak memiliki kontribusi yang berkelanjutan? Apa salahnya dicaci maki jika itu memacu kontribusi yang lebih berarti bagi perbaikan?

Mari bekerja di ladang-ladang amal kita yang sangat luas tanpa batas. Silakan mencela bagi yang hobi mencela. Silakan melaknat bagi yang gemar melakukannya. Silakan berhenti dan menepi bagi yang sudah tidak memiliki kepercayaan lagi. Sekecil apapun langkah kebaikan kita lakukan, pasti tetap menjadi kontribusi yang berarti bagi negeri. Keyakinan ini tak bisa ditawar lagi. Tuhan telah mengumandangkan, hal jaza-ul ihsan illal ihsan. Apakah kita tetap juga tidak memahami?

Kita serahkan semuanya kepada Tuhan Yang Maha Mengerti.

Malili, Luwu Timur, Sulawesi Selatan 9 April 2011


[Terimakasih kepada ustadz Abdussalam yang telah meminjamkan laptop dan koneksi internetnya di Masamba, Luwu Utara, Sulawesi Selatan]

*sumber: http://cahyadi-takariawan.web.id/

Sunday, 3 April 2011

Membangun Kekuatan Diri


#Tidak ada pilihan lain ,Jika ingin menang jadilah pribadi yang kuat

#Kita tdk akan pernah menjadi pribadi yang kuat jika kita tetap tenggelam dlm ruang gelap ,yakni kelemahan diri

#kita diberi kekuatan untuk memilih& mengambil keputusan, maka tentukanlah langkah kita benar atau salah,bermanfaat atau tidak



#Kekuatan yg dimaksud bknlah trbatas pd kkuatan fisik, mampu mngendalikan hidup juga adalah sebuah kekuatan

#Kkuatan k 3 adalh kekuatan mpengaruhi orang lain, ini pun bisa kita capai stelah kita trlebih dahulu mperbaiki diri kita sndiri.

#Karunia k 4 yg kita miliki adlh kmampuan brkomunikasi dgn orang lain

#Tetaplah kokoh& brpegang kuat pada Islam, komitmen kita adalh salah satu modal kebaikan yang kita miliki

#Bagaimana mungkin kita akan menuai hasil yg baik jika kita tdk mngsah kpercayaan diri. Percayalah tdk ada yg tdk mungkin

(@Almandily_nst on Twitter)

Saturday, 2 April 2011

Membuang Sikap Pesimis


Terkadang memang susah untuk membangun rasa Optimis, apalagi kondisi kita berada paling bawah, keberuntungan seakan tak berpihak dengan kita, kondisi tertindas, jadilah kata-kata kita bernada pesimis. Ini tak mungkin, yang itu apalagi. Pesimis merupakan sikap keterkungkungan yang kita buat sendiri, kita membelenggu diri kita sendiri dengan rantai ketidak percayaan. Semakin kita pesimis terhadap sesuatu hal, maka yakinlah semakin jauh kita akan mencapai sebuah kesuksesan.


Masih ingatkah kita ketika para sahabat menyaksikan saat Rasulullah menggali parit sebelum perang Khandak terjadi, ketika Rasulullah memukul batu keluarlah percikan cahaya …” Allohu Akbar, aku akan menerima kunci Negeri Syam. Demi Allah aku melihat bagaimana Istana-Istana Syam yang merah saat ini. “
Mendengar ucapan tersebut Yahudi dan orang-orang munafik mulai mencibir Rasulullah, bagaimana mungkin Islam bisa menguasai syam disini sendiri mereka kelaparan dan akan segera dihabisi oleh Quraisy.
Rasulullah kembali memukul batu tersebut kemudian keluar lagi percikan…” allohu Akbar, Aku akan menerima kunci Persia. Demi Allah aku melihat Istana mereka yang putih sekarang.”
Kembali orang-orang munafik mencibir Rasulullah, “ Muhammad semakin gila, bagaimana mungkin Persia yang begitu kuat mampu dikuasai oleh ummat Islam, bahkan sekarang saja untuk makan mereka kesusahan, musuh mereka mengepung dimana-mana.”
Rasulullah memukul batu itu lagi hingga batu tersebut pecah. “ Allahu Akbar, aku akan menerima kunci Yaman. Demi Allah aku melihat pintu-pintu Shan’a dari tempatku sekarang.”
Meski kata-kata Rasulullah tersebut terdengar konyol di telinga Yahudi dan orang-orang Munafik, ternyata sikap Rasulullah tersebut terjadi setelah beberapa ratus tahun kemudian setelah kata-kata itu beliau ucapkan. Sebuah kata-kata optimis yang menumbuhkan semangat pada diri kaum Muslimin saat itu.
Yakinlah, bahwa rasa pesimis merupakan ketakutan yang berlebihan terhadap suatu kondisi yang tidak kita inginkan, ketakutan kita akan sebuah kegagalan dan itu menunjukkan kurangnya keimanan kita, mulai hilangnya kepercayaan kita bahwa Allah itu ada untuk menolong dan menjaga kita.
Robert sigler menguraikan 10 sikap yang mampu mengikis sikap pesimis dari dalam diri kita
1. Berusaha
Sikap pesimis bukanlah merupakan sikap genetic yang tidak bisa dilepaskan dari diri seseorang. Jika ada kemauan kita untuk terlepas dari sebuah masalah , maka insyaallah kita akan mendapatkan kebebasan itu sendiri.
2. Belajar
Tidak mungkin juga ketika kita menginginkan sesuatu, bercita-cita setinggi langit namun kita tidak ada usaha, kita tidak belajar. Tentukanlah target apa yang akan kita raih dan rinci apa saja jalan yang akan kita tempuh untuk menggapai target tersebut.
3. Berubah
Berubahlah untuk sebuah kebaikan, jangan terlena dan merasa puas pada kondisi yang sudah kita dapatkan sekarang. Apalagi kita nyaman dengan kondisi kita yang berada pada lingkungan dan sikap yang tidak baik. Berhijrahlah menuju sebuah kesuksesan.
4. Yang tersisa
Cobalah lihat potensi apa yang masih tersisa dalam diri kita. Misalnya kita ingin mengambil spesialisasi dalam dunia kedokteran, namun melihat persaingan saat ini yang kurang sehat kita semakin tak percaya diri, sehingga ada yang menyebutkan PPDS itu adalah Putra Putri dokter spesialis karena memang dilapangan kita temukan mereka memiliki peluang lebih besar untuk diterima dibanding kita yang tidak memiliki vertebrae. Sedangkan dari segi ekonomi pun kita bukanlah terlahir dari keluarga kaya raya. Tapi lihatlah potensi yang masih tersisa dalam diri kita, Allah begitu agungnya menganugrahkan kita sebuah Otak yang , kepintaran yang ada pada diri kita meskinya lebih kita syukuri. Lihat saja, bahkan mungkin dahulu kita tidak pernah membayangkan bisa memakai jas putih ini, sekarang tanpa disadari kita sudah menggapainya. Yakinlah dengan pertolonganNYA selagi niat kita untuk sebuah kebaikan.
5. Positif
Biasakanlah untuk berfikiran positif. Janganlah tenggelam dalam pemikiran-pemikiran negative yang akan semakin menjauhkan kita dari kesuksesan. Cobalah memandang setiap permasalhan dari sisi positifnya. Kita terlahir dari keluarga yang kurag mampu, maka jalan inilah mungkin yang Allah berikan kepada kita agar kita lebih keras lagi untuk bekerja meraih sebuah cita-cita.
6. Tenang dan lapang
Bersikaplah tenang dan lapangkanlah dada kita. Jangan pernah berpikiran untuk mundur meski beberapa kali kita sudah mencoba namun tetap menuai kegagalan. Yakinlah, itu merupakan sebuah keberhasilan yang masih tertunda.
7. Reaktif
Berlatihlah untuk memberikan reaksi positif terhadap setiap permasalahan yang kita hadapi. Yakinlah ujian dalam bentuk apapun bisa saja kita arahkan ke arah yang lebih baik.
8. Kemungkinan
Yakinlah bahwa setiap apapun mungkin kita lakukan, tidak ada hal yang tidak mungkin. Lihat saja bagaimana orang bisa pergi ke Bulan, bisa mengelilingi dunia. Si ini yang bukan siapa-siapa bisa menjadi seorang professor, bisa menjadi sukses.
9. Di Balik Hambatan
“maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. (QS.94;5-6). Bahkan dua kali Allah mengulang perkataan tersebut. Kemudian dilanjutkan dengan ayat berikutnya “ maka apabila engkau telah selesai dari suatu urusan, tetaplah bekerja keras untuk urusan yang lain.” (QS.94;7)
10. Janji
Berjanjilah pada diri sendiri untuk selalu menyuplai energy positif, senantiasa mendekatkan diri kepadaNYA, meminta tolong akan segala permasalahan yang kita hadapi.

Pesimis ini merupakan belenggu yang kita ciptakan sendiri, kebebasan yang kita kekang sendiri dengan sikap ketidakpercayaan kita. Maka untuk itu marilah kita berusaha untuk melepaskannya.

Tuesday, 20 April 2010

Tingkatan Dengki

Tingkatan Dengki
1. Seorang yang mengharapkan hilangnya kenikmatan dari orang lain walaupun kenikmatan itu tidak ia dapatkan
2. Mengharapkan hilangnya kenikmatan dari orang lain karena ia menginginkan kenikmatan itu untuk dirinya sendiri
3. Seorang yang mengharapkan kenikmatan seperti yang dimiliki orang lain tetapi ia tidak berharap kenikmatan itu hilang dari orang tersebut, akan tetapi apabila ia sudah mendapatkan kenimatan itu ia pun berharap kenikmatan itu hilang dari orang tersebut
4. Orang yang mengharapkan kenikmatan seperti yang diperoleh orang lain akan tetapi ia tidak berharap kenikmatan itu hilang dari orang tersebut………..perbuatan ini bisa masuk kedalam katagori dengki ( hasad) atau bisa juga kedalam munafasah ( persaingan ) maka ini adalah perbuatan yang dimaafkan