Sunday, 29 August 2010

Saat Aku Jauh......


Saat aku jauh

Di situlah

kurasakan bagaimana rindu menyiksaku

Padahal luka itu masih ada

Adakah itu juga yang kau rasa?

Ah…

Mungkin sudah terlupa

Terlalu ku gores kecewa

Di hatimu



Saat kata itu terlontar

Akhi/ukhti...

Aku berhenti di sini

Itulah akhir dari hari-hari yang kita rangkai

Kusimpan dukaku



Andai cerita ini tak ada

Ingin aku tetap di sini

Bersamamu



Tersandung ...

Ku tersungkur

Dalam keputusan yang salah

Bahkan kakiku tak mampu lagi berlari

Padahal mujahid itu sudah jauh didepan



Terlalu lemah…

Ku akui

Aku rapuh



Bantu aku melawan diriku

Meski itu hanya sebait do’a

Ku titip namaku di sana



Saat aku jauh

Betapa berharganya dirimu

Terlanjur.....

Ku hapus beribu cintamu

Hanya karena setitik salah





Saat aku jauh

Di hatimu

Masihkah ada namaku ?







Padang , Mei 2006

Ku tulis Buat sahabat-sahabat ku yang selalu tegar

Aku rindu.....

PKS Tanggap Bencana. Salahkah???


Dalam sebuah diskusi kelompok tutorial yang terdiri dari sepuluh orang mahasiswa dan seorang dosen pembimbing, hari itu kami mendiskusikan masalah manajemen bencana dan tanggap darurat terpadu. Topic yang sangat menarik untuk dibicarakan,selain ini adalah kompetensi seorang dokter umum juga daerah sumatera barat merupakan daerah rawan bencana. Sumatera barat yang dilalui oleh pertemuan lempeng menjadikan daerah ini seringkali dilanda gempa, 3 gunung merapi aktif juga menjadi ancaman serius sewaktu-waktu terjadinya letusan yaitu gunung merapi, gunung talang dan gunung tandikek, sedangkan banjir dan tanah longsor sendiri rasanya sudah jadi langganan daerah ini karena letak geografis sumatera barat yang dilalui rangkaian pegunungan bukit barisan. Sebenarnya dari awal diskusi ini tidak ada yang janggal, tapi yang membuat saya berpikir adalah ketika sang dosen mengatakan di akhir diskusi . “sayang sekali, terkadang sering kali bencana dimamfaatkan beberapa partai politik untuk promosi partai seperti PKS, Demokrat……”. Memang sih disetiap ada bencana di Sumbar baik itu bencana kecil apalagi bencana besar yang namanya Partai Keadilan Sejahtera tak pernah absent, beberapa saat setelah bencana anda akan melihat beberapa posko PKS akan berdiri bahkan sebelum pemerintah bertindak,PKS dengan cepat menurunkan relawan ke daerah bencana. Koordinasi dari partai ini sangat bagus sehingga dalam waktu singkat bantuan akan mengalir dan tersalurkan kepada para korban. Pandu keadilan yang dimiliki partai ini dengan cepat membantu para korban , membersihkan puing-puing rumah dan bahkan mereka dengan semangat membantu mendirikan tenda buat pengungsi. Sebagai contoh waktu gempa beberapa waktu yang lalu melanda sumbar tepatnya di daerah Lunang Silaut, ketika beberapa tim medis dan bantuan dari pemerintah serta organisasi lain menyerah untuk memasuki daerah-daerah yang terisolir. PKS dengan berbagai upaya mengusahakan untuk mencapai daerah tersebut. Beberapa minggu bahkan berbulan pasca bencana di saat bantuan sudah tidak datang lagi disaat posko2 yang didirikan oleh berbagai organisasi dan LSM sudah lengang bahkan sudah dibongkar dengan setia relawan dari Partai Keadilan Sejahtera tetap menyalurkan bantuan dan membantu kembali masyarakat untuk membangun rumah. Meski mungkin media selalu menutup mata dengan ini, meski mungkin seringkali Media tidak berlaku adil untuk sekedar meliput namun dengan segala keikhlasan relawan tetap semangat membantu korban bencana. Bahkan disaat tak ada bencana Partai Keadilan Sejahtera selalu melakukan aksi-aksi social untuk masyarakat ekonomi lemah. Jadi, yang menjadi pertanyaan saya , apakah ini salah? Apakah yang diperbuat partai ini telah melanggar ketentuan yang berlaku?. Memang Negara kita ini aneh, disaat tak ada yang membantu kita mengeluh “kok bantuan gak datang?” dan di saat bantuan pun datang dan ada yang dengan ikhlas membangun bangsa ini pun kita berpikiran sama dan menganggapnya telah melakukan kesalahan. Saat korupsi menghancurkan sendi-sendi ekonomi bangsa ini kita dengan lantang menghujat para koruptor, tapi ketika kita juga dihadapkan dengan orang-orang yang tidak mau menerima uang suap dan korupsi kita juga mengatakan mereka orang aneh “ hari gene gak mau korupsi?????”. Dibilang sok sucilah, dibilang anehlah, dibilang mau menghancurkan NKRIlah dan berbagai fitnah bertebaran.

Di rumah sakit sendiri ketika ada seorang perempuan yang menjalankan kewajiban dengan menutup aurat memakai jilbab yang menutup hingga dada, banyak dari dosen yang nota bene berpendidikan tinggi sering mengeluarkan kata2 yang menyindir. Dibilang jilbab sumber infeksilah, dibilang orang-orang sok sucilah yang lebih mengutamakan solat dhuha ketimbang pasien padahal pernyataan tersebut tidak beralasan. Apakah karena kebencian terhadap suatu kaum menjadikan kita tidak berlaku adil?. Dan yang lebih ironis dengan kondisi rumah sakit yang tidak mendukung banyak yang dahulunya aktif sewaktu dikampus menjadi lemah, banyak akhwat yang dahulunya berjilbab rapi sewaktu di kampus saat Coass di rumah sakit jilbab pun mulai menciut seiring dengan nyali yang juga menciut

Memang sepertinya bangsa kita masih sulit untuk menerima sebuah perubahan. Kalau kita mendengarkan semua pendapat orang tentang kita , kita tak akan bisa hidup di dunia ini. Serba salah. Pernah suatu riwayat mengisahkan tentang Luqmanul Hakim dengan anaknya. Saat mereka berjalan dengan seekor keledai melewati sebuah perkampungan penduduk, orang berkata “ anak dan bapaknya sama-sama bodoh, ada keledai nggak ditungangi”, kemudian mereka berlalu dan sang anak disuruh untuk naik ke atas keledai,mereka pun melewati perkampungan berikutnya lantas melihat itu orang berkata “ dasar anak tak tau budi, masa bapaknya yang udah tua di suruh jalan?”. Sang anak pun diturunkan dan Lukmanul hakim naik ke atas keledai, mereka kembali melanjutkan perjalanan. Tiba diperkampungan berikutnya melihat itu orang-orang mulai bekomentar “ bapak yang nggak punya tau diri, masa anaknya disuruh jalan di enak-enaan di ata tunggangannya?”. Sang anak pun lantas dinaikkan ke atas keledai dan mereka menungganginya bersama, melihat itu di pekampungan berikunya penduduk langsung berkomentar “ memang bapak dan anaknya nggak punya perasaan, masa keledai sekecil itu di tunggangi berdua”….kemudian Lukmanul Hakim berkata kepada anaknya “ Wahai anakku!!! itulah dunia, kalau engkau mengikuti seluruh kemauannya engkau tak akan bisa”.

Jadi, kalau kita memiliki sebuah prinsip yang benar, apapun kata orang ngapain kita takut, kenapa kita harus ragu. Tetap semangat!!! ^_^

(tulisan ini saya tulis saat masih kuliah ,sehabis diskusi tutorial dengan dosen pada tanggal 10 February 2008.....)

"catatan Harian Calon Dokter"


Dah pernah baca buku “ catatan harian calon dokter” ? buku itu baru aja di terbitkan teman-teman kita dari fuldfk alias forum ukhuwah lembaga dakwah fakultas kedoktran se

indonesia
. klo belum pernah sepertinya anda perlu deh membelinya ( promosi nih ye!!!), klo gak, coba pinjam ama yang udah punya buku itu, insyaallah gak bakalan nyesel bacanya. Sedikit banyaknya dengan baca buku itu kita bisa melihat perjuangan teman-teman kita di kedokteran, karena sangat jarang sekali kita temukan buku yang mencoba mengulas tentang dunia para dokter itu. Buku ini mencoba mengangkatkan kisah-kisah menarik dari keseharian mahasiswa kedokteran. Mulai dari masa-masa spmb, ospek, perkuliahan, masa –masa coas, jadi sedikit banyaknya kita bisa melihat suka duka mereka di

sana
. Karena buku ini hasil karya dari beberapa mahasiswa kedokteran jadi tiap episode gaya peulisannya jelas beda, namun yang paling menarik buat saya pribadi ada tiga episode menarik di buku ini yaitu tulisan di episode 10 karya Ummu Habibah dengan judul “aku tak akan lupa kisah di pondok cina”, kemudian episode 11 karya Hidayanto Perdana dengan judul “pasien istimewa” , yang ketiga adalah episode 14 karya Yulita Ariana dengan judul “Hati… sudah siapkah aku? ( he..he.. itu persi pribadi lho..bisa saja tiap pembaca beda cara menilainya ). Ketiga karya ini mampu memunculkan emosi saya ketika membacanya. Kelihaian sang penulislah dalam merangkai tiap kata sehingga memunculkan kisah ini menjadi lebih menarik.

Episode 10. Mahasiswi fkui angkatan 2003 ini mencoba mengangkatkan kisahnya dengan setting tempat di stasiun kereta api pondok cina depok. Dengan

gaya
menulisnya di awal cerita ia mencoba membawa pembaca bagaimana sebenarnya perasaannya setelah jadi mahasiswi kedokteran. Rasa penyesalan, kecemasan, lelah sebagai mahasiswa kedokteran menjadikan pembaca tak berhenti hanya sampai di situ, teknik menulis yang cukup bagus untuk membuat orang yang membaca tidak jenuh apalagi sempat berhenti di awal cerita. Tapi sebenarnya bukan ini yang menjadi inti kisah di sini, ini hanya sekedar trik untuk membuat pembaca penasaran dengan kisah selanjutnya. Kalau kita sudah sampai di inti cerita yang ingin di sampaikan penulis kita akan semakin terbawa emosi. Penulis menceritakan kisahnya tentang pertemuannya dengan dua remaja kakak beradik dimana di kisah itu sang kakak mendapat luka dibagian kaki akibat keserempet sehingga tulang-tulang di sekitar itu kelihatan jelas. Perang batin sang penulis antara menolong atau tidak, ketegangan saat mencari kotak obat di tempat petugas loket yang ternyata kosong, pengetahuan dan pengalaman medis yang masih minim sebagai mahasiswa preklinik, memutuskan untuk membawa ke klinik tanpa ada yang bertanggung jawab mengenai masalah biaya pengobatan , dengan kondisi seperti itu kita bisa melihat dan merasakan seperti apa ketegangan yang dialami sang penulis sendiri. Sebagai kisah nyata saya pribadi sangat bangga luar biasa kepada sang penulis, ternyata manusia-manusia langit itu ada di bumi. Sebuah pengorbanan yang luar biasa. Saat membaca tulisan ini pikiran saya langsung teringat dengan kisah yang hampir mirip, namun ini terjadinya bukan di pondok cina tetapi di negeri gonjong limo alias

padang

kota
tercinta( baca : manusia-manusia langit/ www.nasution09.multiply.com).

Episode 11. Pasien Istimewa

Di episode ini sang penulis mencoba membawa kita ke dunia yang lebih jauh , masuk ke dunia klinik. Tepatnya di bagian Obgyn. Dah kebayangkan ceritanya apa ? klo di obgyn ya , cerita melahirkan dong. Hii…hii sereeemmm. Mahasiswa fk UGM ini benar-benar seperti membawaku ada di tempat kejadian. Seakan aku melihat sang ibu muda yang menjerit-jerit dan menoleh ke sebelahnya lagi nyata ku lihat seorang ibu dalam kondisi preeklamsia . situasi yang menegangkan karena ditambah kebingungan dari penulis sebagai mahasiswa Coas yang baru masuk dunia klinik.

Episode 14. Hati….sudah siapkah aku?

Kalau penilaianku nggak meleset ,sepertinya karya ini bukan dari kisah nyata penulis( jadi tulisan di sampul bukunya ada bohongnya donk “kisah-kisah nyata”). Mudah-mudahan aja aku salah. Tapi jujur biar pun sendainya ini bukan dari kisah nyata tulisan mahasiswa universitas diponegoro ini cukup bagus. Suasana hening, sepi, gundah , sedih tergambarkan dengan baik. Klo ini benar-benar dari kisah nyatanya selamat aja buat mbak Yulita Ariana dengan kain biru corak bunganya ‘n keep istiqomah!

Jadi , buat kamu-kamu yang belum punya buku ini buruan beli, ntar keburu habis…

Buat fuldfk saya punya usul, sebenarnya di awal melihat buku ini saya sangat surprise banget, saya berfikiran buku ini bakalan memperlihatkan lebih jauh seperti apa seh kedokteran itu,terlebih dunia klinik yang katanya serem, system feodalisme yang masih mengakar kuat,kerja rodi plus romusa, benturan-benturan ADK sesampainya di Coas, masalah jilbab yang katanya sumber infeksi. Sebenarnya saya berharap itu yang dimunculkan ,apalagi karena saya sendiri belum Coas,

kan
jadi penasaran . jadi usulnya kalau ada rencana buat buku yang kedua klo bisa isinya mengarah ke masalah itu dan lebih selektif lagi untuk naskah yang masuk agar kualitasnya lebih bagus , satu lagi humasnya lebih giat lagi ya untuk menyampaikan informasi sekitar fuldfk ( he..he usulnya ternyata banyak juga ). Tapi, yang jelas buat seluruh pengrus fuldfk selamat ya atas karyanya ini. Selamat berkarya untuk hari ke depan. ( almandily)

Maaf klo ada yang salah atas tulisan ini…..



Padang, 29 juni 2006

bercermin dari film " SANG MURABBI"


ntah aku yang terlalu mudah meneteskan air mata ini atau aku yang terlalu menghayati alur cerita film di depanku aku tak mengerti. namun, pastinya aku sudah menangis. bukanlah cerita bollywood yang ku tonton yang membuatku menangis terisak di kamar sendirian, atau karya-karya hebat negeri paman sam. namun film yang di depanku adalah hasil karya segelintir anak bangsa ini yang rindu akan hadirnya sebuah perubahan. "SANG MUROBBI", betapa aku rindu akan kata-kata itu, betapa aku sangat iri melihat sosok sang tokoh Rahmat Abdullah yang begitu bersahaja, pengorbanan yang tulus, perjuangan yang penuh aura semangat sang mujahid. pengorbananku dalam dakwah ini ternyata tak ada setitik pun di banding beliau, bahkan selama ini sering kali aku melalaikannya. ntah apa yang aku sombongkan,.....
andaikan negeri ini memiliki lebih banyak wakil rakyat sperti beliau mungkin negeri ini akan segera bangkit. bukanlah sebuah khayalan akan nasib bangsa ini menjadi lebih baik, ADALAH sebuah kenyataan akan kau temukan orang-orang yang dengan ikhlas memperjuangkannya.

( tulisan ini ku rangkai tanggal 2 september 2008.....)

Selamat tinggal siklus mata........


sabtu pagi memaksaku untuk tetap berangkat ke rumah sakit. tak seperti biasa koridor rumah sakit M. djamil sepi dari makhluk-makhluk yang namanya koas. satu dua orang ada seh, ntah itu siklus memang gak libur, atau kemungkinan menyakitkan koasnya lagi remedial. seperti layaknya diriku yang menuju bagian mata yang berharap hari ini ketemu ama pak hidayat untuk pamitan. apa mau dikata, rencana acara perpisahan sama preseptor tiba-tiba berubah jadi suasana menyeramkan. " ujian " ( duh....... gak salah dengar pak ).kagak ada persiapan. semua pada panik. upszzz!!! syukurlah masih ada senjata di dalam tas kecilku, sebuah ringkasan yang bisa ku baca sebelum ujian mulai. tetap aja susah buat konsentrasi meski dah berulang-ulang di baca.....tega buangeeet seh pak....masa kagak bilang-bilang klu hari ini kita mau ujian bukan perpisahan...( oh....iya mungkin aja perpisahan sambil ujian kalee....hikss....hikss...). tiba giliranku dipanggil,...(asam lambung meningkat , denyut nadi tak teratur, keringat dingin.....),alhamdulillah gw di tanya tentang astigmatism ama hipermetrop, kebetulan sebelum mulai tadi itu yang gw hafalin.....selamat....selamat....selamat....

semoga aja lulus.....amin ya Alloooh, gw kagak mau balek lagi ke mata ini....biarlah aku merasakan sebulan lebih di sana dan jangan pernah terulang lagi masa-masa itu.....sereeeeemmmmm


(saya tulis pada tanggal 14 september 2008, saat saya masih berstatus koas....
alhamdulillah akhirnya saya lulus juga dari siklus mata meski ujian tanpa persiapan yang bagus....)

SAKITNYA SAAT KELUARGA MISKIN MELAHIRKAN...


aku masih duduk di samping pasien itu, seorang ibu yang dari tadi merintih karena mau melahirkan, padahal seharusnya jam segini aku sudah balik ke kost untuk mandi dan kemudian berangkat lagi ke rumah sakit untuk koas. jam di dinding ruangan ini sudah menunjukkan di angka 07.45.... suadh hampir satu jam menunggu namun pasien di sampingku ini belum juga di bawa ke kamar operasi untuk segera dilakukan SC, semuanya pada sibuk dengan urusan masing-masing. koas anastesi yang saling melempar tanggung jawab untuk pasien ini menyebabkan pasien ini semakin lama tertahan dan semakin menderita, beginilah rumah sakit pendidikan, ntah siapa yang perlu disalahkan. koas anastesi yang dinas tadi malam mengatakan kalau pasien ini adalah tangung jawab koas anastesi hari ini, koas yang dinas hari ini belum jelas dimana rimbanya. yang jelas pasien ni makin tersiksa. aku hanya bisa menunggui disampingnya meski hanya kata-kata sabar yang bisa kuberikan. reside di obgyn juga tidak bisa berbuat banyak, tidak mungkin pasien ini mereka bawa ke kamar OK tanpa ada petugas anastesinya. darah di kain ibu itu yang bercampur dengan air ketubannya yang sudah pecah semaki bertambah. ku ajak ibu itu bicara dengan harapan ia bisa mengailhkan rasa sakitnya ke pembicaraa itu. kehamilan ini adalah yang ke 3, anak pertamanya lahir di akhir tahun 2003 lahir normal dan dibantu oleh bidan dengan berat 3100gr, anak keduanya meninggal dalam kandungan saat umur kehamilannya 6 bulan , sedangkan yang ke tiga ini sudah cukup bulan namun bayinya terlalu besar untuk dlahirkan pervaginam sehingga harusdilakukan SC...terkadang kata kasar beterbangan dari petugas lain sat ibu itu merintih, pelayanan yang sungguh tidak ramah, kasar. inilah konsekuensi buat masyarakat miskin yang berobat ke rumah sakit, mereka sudah sangat menderita dengan kehidupan yang menghimpit ditambah lagi dengan petugas yang berlaku kasar terhadap mereka, apa salahnya kita ngomong baik-baik dengan pasien, memberi senyum kepada mereka meski kita sangat lelah dengan tugas di rumah sakit toh itu sudah tugas kita. memang melahirkan sangat sakit, tapi ternyata keluarga miskin melahirkan itu lebih sakit lagi.....

(bangsal Obgyn 23 sepetember 2008....saat diriku masih koas) ^_^

Dinas Pertamaku....Coass Obgyn



Hari pertama masuk siklus Obsgyn,gw langsung dapat dinas jaga malam. Tak ada yang tau sama sekali, ilmu waktu di kampus dulu hanya tinggal sedikit lagi yang bisa dimamfaatkan, biasalah tergerus dan terkikis oleh waktu jadi semuanya harus buka buku lagi. Pas ditanyain ama residen tentang persalinan normal gw hanya bisa tersenyum, masa ditanya berapa jam kala aktif aja gw kagak tau.....pimpinan persalinan kala III apalagi.....akhirnya karena para koas Cuma senyam-senyum aja, udanya nyerah juga dan menerangkan tentang persalinan normal. Alhamdulillah ada modal dikit buat dinas ampe besok....Gw diminta untuk kontrol terus pasien preeklamsi di KR, tiap satu jam tensinya harus di ukur dan BJAnya juga harus terus dicatat. Seorang perempuan umur 44 tahun dengan kehamilan 33-34 minggu. Sang ibu sudah punya 3 anak dan sekarang anak yang dikandungnya adalah anak ke 4, alasan kehamilannya adalah karena anaknya yang tiga sebelumnya semuanya adalah perempuan dan dengan kehamilanya ini ia sangat berharap yang lahir nanti adalah seorang laki-laki. Riwayat penyakit sebelumnya sang ibu sebenarnya tak pernah menderita hipertensi, tak ada penyakit jantung, ginjal maupun DM. Tak lain penyebab hipertensinya adalah janin yang sekarang berada dalam perutnya.gw kembali mengukur tensinya 180/120, BJA 124, gw llangsung lapor ama dr. Benny uda residen yang kebetulan dinas malam itu. Akhirnya pasien diberi nifedipine, satu jam kemudian ditensi lagi tidak terlalu jauh turun hanya 170/100. Dari ruangan sebelah seorang ibu dari siang tadi terus-terusan teriak-teriak karena mau melahirkan alias partus. Dari jam pertama masuk dinas ibunya sudah teriak-teriak menahan sakit sampe isya selesai belum juga anaknya keluar-keluar. Ruangan ini rasanya begitu menegangkan, BJA janin yang terus-terus berdetak di ruangan ini seakan menjadi musik pengiring untuk menyambut kelahiran bayi. Para koas dan beberapa anak akbid yang kebetulan dinas malam itu langsung berkumpul saat ibu tersebut mau melahirkan. Begitu beratnya perjuangan seorang ibu saat berjuang untuk melahirkan anaknya, bahkan saat dilakukan episiotomi untuk memperlebar jalan lahir tak ada yang namanya obat bius untuk diberikan. Wajar saja Allah menghadiahi syurga untuk para ibu yang meninggal saat melahirkan dan mengibaratkan bahwa surga di bawah telapak kaki ibu. Ibu betapa besarnya pengorbanan yang engkau berikan, sudah mengandung 9 bulan dengan susah payah, ditambah lagi melahirkan yang mempertaruhkan nyawamu sendiri. Tak layak rasanya seorang anak berlaku kasar kepada ibunya, bahkan untuk berwajah masam saja rasanya itu adalah sebuah kekurang ajaran. Tak sebanding apa yang kita berikan kepadanya dengan peluh dan air matanya yang dikeluarkannya untuk kita saat berteriak kesakitan melahirkan kita. Tak sebanding dengan darahnya yang bersimbah . tak terbayangkan jika setelah besar ada seorang anak yang dengan tega menghardik ibunya bahkan sudah tidak asing lagi ditelinga kita seorang anak yang begitu tega membunuh ibunya. Dimana letak nurani kita sebagai anak.
Untukmu saudaraku yang masih memiliki seorang ibu di dunia ini, janganlah siakan ia, jangan pernah menyakiti hatinya,jangan pernah membuat ia menangis karena ia sudah cukup banyak menderika karena kita, karena air matanya sudah cukup banyak untuk membesarkan kita sampai kita seperti sekarang. Kita pintar adalah semata karena peran besarnya di sana, kita masuk kedokteran adalah karena penjagaan yang begitu baik untuk kita, kita jadi ini jadi itu tak lain adalah hasil jerih payang sang ibu yang melahirkan kita, maka apakah masih wajar setelah kita berhasil kita lupa akan semua pengorbanannya untuk kita.
Saudaraku!!! Sangat perih sekali ketika kita sudah tidak bisa lagi memanggil ibu karena ia telah dipanggil terlebih dahulu, tak ada tempat lagi untuk bermanja, tak ada tempat lagi untuk berkeluh kesah, semuanya rasanya seperti sudah tak berarti tanpa ibu. Bahkan semangat untuk pulang kampung sendiri sudah tidak ada karena dulunya beliaulah yang dengan setia menungguku di depan rumah ketika turun dari mobil, ia memelukku, menciumiku, aku tak pernah malu sama sekali meski aku sudah kuliah dan semua orang melihat ke arah kami. Saat itu rasanya dunia itu begitu indah, begitu bangga untuk berkata pada dunia ini, bahwa ini adalah ibuku. Begitu juga saat aku hendak berangkat lagi untuk kuliah ke padang ia selalu menangis memelukku seakan tak mau berpisah, ia akan menciumiku begitu lama. Ya ...itu adalah cerita dulu, saat beliau masih bisa memelukku, saat beliau masih selalu berusaha untuk memasak makanan kesukaanku. Terakhir aku menciumnya saat tubuhnya sudah dingin dan kaku setelah aku selesai mengimami mensolatkannya.bahkan janjinya untuk hadir pada wisudaku kemarin hanya tinggal sebuah harapan yang tidak tercapai.
Ibu setahun sudah dengan ramadhan ini tak lagi bisa aku memelukmu, setahun sudah aku tak mendengar lagi suaramu, meski sesekali engkau masih hadir dalam mimpiku, tapi hati ini sangat merindukanmu, sangat dan sangat merindukanmu...