Wednesday, 10 November 2010

Jangan Mempersoalkan Bendera



Kawula nyuwun agenging samudra pangaksami, Kanjeng Sultan.

Sangat terkejut mendengar arahan Kanjeng Sultan, agar semua pihak menurunkan bendera di pengungsian Merapi. “Saya kok melihat itu ada gejala pemanfaatan korban. Seolah-olah korban dimanfaatkan untuk kelompok lain. Kan tidak harus pasang bendera, foto dan dimasukkan ke koran, itu kuno,” kata Sultan saat meninjau Posko Utama Pakem, Sleman, Yogyakarta, Senin 1 Nopember 2010.

Kanjeng Sultan, siapa yang akan kita salahkan ? Kenyataannya, sebagaimana telah dilihat banyak pihak, keberadaan institusi-institusi pemerintah yang bertugas menangani masalah seputar dampak bencana alam nyaris sia-sia karena fungsi koordinasi tidak jalan, disamping ruang lingkup tanggung jawab masing-masing tumpang tindih. Ini yang membuat penanganan korban dan dampak bencana alam, seperti dalam kasus letusan Gunung Merapi dan gelombang tsunami di Mentawai sekarang ini berjalan sangat lamban dan amburadul (lihat ulasan di www.suarakarya-online.com, 10 Nopember 2010).

Fungsi dan kewenangan lembaga yang menangani masalah seputar dampak bencana alam ini mestinya disandarkan hanya kepada Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) selaku institusi yang dibentuk dengan amanat undang-undang. Sementara institusi-institusi lain diposisikan penuh di bawah koordinasi BNPB. Kenyatannya, fungsi koordinasi sangat lemah dan berdampak tidak tertanganinya secara terpadu korban bencana alam. Masing-masing pihak bertindak sendiri-sendiri.

BNPB sendiri belum menunjukkan kinerja yang optimal. Sebagai contoh, dalam menangani korban gelombang tsunami di Mentawai, BNPB kalah cepat oleh sukarelawan Palang Merah Indonesia (PMI) dibawah komando mantan Wapres Jusuf Kalla. Padahal, BNPB sudah dibekali dengan penyediaan dana tanggap darurat sebesar Rp 150 miliar. Sebuah jumlah yang tidak bisa disebut kecil. Mungkin masyarakat justru tidak mengetahui mana BNPB, yang mereka tahu justru TNI yang datang pertama, dan beberapa parpol selalu datang awal di setiap bencana.

Kondisi belum optimalnya koordinasi penanganan bencana inilah yang menjadi pemacu munculnya banyak bendera di lingkungan pengungsi. Saya kira sangat wajar jika suatu ormas atau parpol merasa terpanggil untuk mengamankan warga, apalagi ormas atau parpol tersebut merasa memiliki banyak anggota di wilayah bencana. Mereka membuat posko untuk melakukan berbagai kegiatan menolong keperluan para korban bencana. Masyarakat justru akan mempertanyakan jika di sebuah wilayah yang menjadi basis massa sebuah ormas atau parpol, namun ormas atau parpol tersebut tidak menampakkan aktivitas di wilayah bencana.

Jika para anggota TNI tidak mengenakan seragam dan tidak membuat posko khas TNI di wilayah bencana, pasti masyarakat akan mempertanyakan dimana keberadaan mereka, walaupun mereka telah berbuat optimal untuk korban bencana dengan pakaian warga sipil. Jika personil kepolisian tidak mengenakan seragam, dan tidak membuat posko khas Polri, saya yakin masyarakat akan mencari-cari dimana peran Polri di dalam menolong bencana, walaupun setiap hari mereka telah bekerja tanpa kenal lelah dengan pakaian biasa. Jika PMI tidak membawa bendera, masyarakat akan kebingungan apa peran mereka saat bencana.

Jadi jangan dipersoalkan bendera apapun yang dipakai, bendera apapun yang datang, bendera apapun yang dibawa, selama mereka mau datang, membantu, berkontribusi, berbuat sekuat tenaga demi menolong para korban bencana. Ingatkan mereka agar selalu berkoordinasi dengan pihak yang berwenang dan memiliki otoritas di setiap barak pengungsian, juga berkoordinasi dengan BNPB setempat. Esensinya adalah kesediaan berkoordinasi dan selalu berkomunikasi, bukan soal bendera.

Saya mempersoalkan bendera hanya dari dua aspek. Pertama, mereka yang memasang bendera padahal tidak ada aktivitas nyata untuk para korban bencana. Ini berarti penipuan dan kebohongan publik. Kedua, mereka yang sesungguhnya punya bendera, namun tidak tergerak untuk datang membantu korban bencana. Mereka hanya bangga dengan benderanya, namun saat ada bencana tidak mau datang membantu para korban dengan potensi yang mereka punya. Nah, ini dua jenis bendera yang patut dipersoalkan.

Apakah membawa bendera berarti tidak ikhlas ? Kawula nyuwun agenging samudra pangaksami, Kanjeng Sultan. Ikhlas itu letaknya di dalam dada, di dalam hati. Bukan di mulut, bukan di bendera, bukan dimana-mana. Orang yang beramal dengan diam-diam belum tentu lebih ikhlas dari orang yang beramal dengan terang-terangan. Ikhlas itu urusan manusia dengan Tuhannya. Ikhlas itu tidak ada yang mengetahui, tidak ada orang yang punya otoritas untuk memberikan penilaian bahwa anda ikhlas dan anda tidak ikhlas.

Kalau warga datang membawa bendera, dan dibalik kibarnya terdapat semangat dan epos kepahlawanan membela para korban bencana, berikan ucapan selamat kepada mereka. Jika di balik gemerlapnya bendera terdapat kecemerlangan kerja dan semangat membara melakukan tugas kemanusiaan dengan berbagai potensi yang mereka miliki, doakan untuk kebaikan dan kejayaan mereka. Izinkan saya sampaikan ucapan selamat kepada para relawan Mentawai dan Merapi, apapun bendera anda,

Izinkan saya menyapa dan memberikan penghargaan penuh bangga kepada partai politik, ormas, LSM, dan berbagai instansi, institusi, lembaga, bahkan kelompok masyarakat dan pribadi-pribadi yang telah datang memberi bantuan dan berkontribusi. Kibarkan bendera anda, jangan malu, jangan takut. Kibarkan semangat anda. Bela dan tolonglah sesama yang menjadi korban bencana, dan jangan lupa selalu mengkoordinasikan aktivitas lapangan anda dengan pihak berwenang setempat.

Izinkan saya mengucap salam dan selamat pula untuk semua pihak yang telah berkontribusi bagi korban bencana, baik dari unsur Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, legislatif, TNI, Polri, dan semua saja yang telah mengorbankan jiwa, harta, waktu, tenaga dan pikiran untuk menolong sesama. Semoga Allah berikan ganti semua yang anda korbankan dengan segala yang lebih baik.

Saestu, kawula nyuwun agenging samudra pangaksami, Kanjeng Sultan. Mohon jangan pernah mempersoalkan kibaran bendera. Bukan soal kuno atau modern. Ini soal gerakan hati nurani menolong korban bencana. Tolong fokus persoalkan kepada penguatan koordinasi lapangan. Efektifkan jalur-jalur koordinasi dan komunikasi antar seluruh elemen yang sekarang sudah terjun ke lapangan membantu para korban bencana. Percayalah, Pemerintah tidak mungkin mampu mengatasi korban bencana sendirian, BNPB tidak mungkin bisa bekerja sendirian. TNI tidak mungkin bisa bekerja sendirian, dan begitu pula semua pihak tak akan bisa berbuat banyak kalau sendirian.

Kita harus bersama-sama membangun negara, tak bisa kita bangun sendirian saja. Di balik maraknya banyak bendera, kita koordinasikan, kita konsolidasikan, kita optimalkan semua potensi anak bangsa. Jangan cerca mereka yang telah sangat lelah bekerja. Kritik saja mereka yang tidak pernah berbuat apa-apa untuk membantu korban bencana…..

Sepindah malih, saestu kawula nyuwun agenging samudra pangaksami, Kanjeng Sultan.

Lereng Merapi, 8 Nopember 2010


*sumber: cahyadi-takariawan.web.id

Thursday, 4 November 2010

Relawan Tsunami mnetawai



berangkat ke Mahonai dan Purorogat daerah terparah terkena Tsunami



hari pertama nyampai di Sikakap kepulauan mentawai setelah sehari 2 malam terombang ambing dilautan

Monday, 25 October 2010

Mengajar anak SD

Baru aja saya ngucap salam beberapa anak udah mulai betingkah di kursi belakang, ada yang nyolek kawannya lah, ada yang mulai tukaran tempat duduk.
" pak..pak..kami gak mau disuntik..."
ha ha ha..ternyata ini yang membuat mereka kasak kusuk sedari tadi...
"gak..kita gak ada suntik menyuntik, kita mau belajar cara mencuci tangan yang baik..."
sambil ngasih materi kesehatan tentang cuci tangan, saya ajak mereka buat memperagakannya sambil bermain. ya yang namanya anak-anak klu di ajak maen pasti seneng.
inilah pengalaman pertamaku ngajar anak SD, luar biasa. butuh kesabaran tingkat tinggi. asyik juga sebenarnya berinteraksi dengan mereka, keingintahuan yang luar biasa. tapi, ngontrol kelas yang muridnya hampir 40 orang itu luar biasa juga menguras tenaga....suaraku mulai hilang mengimbagi murid yang paling ribut di belakang....

" pak, kalau main wak lai pak"...seorang anak yang dibarisan depan mengingatkan klu waktu istirahat sudah masuk....

seperti inilah ternyata mengajar anak SD, salut saya buat Guru2 SD yang mendedikasikan diri mendidik anak-anak Negeri ini. terimaksih Guruku....

PKS dan Harapan yang Tersisa untuk Indonesia


PKS dan Harapan yang Tersisa untuk Indonesia
Oleh: Anugrah Roby Syahputra

Jika mendengar nama Partai Keadilan Sejahtera (PKS) disebut, kita akan langsung terbayang pada sosok anak-anak muda berjenggot rapi dan kaum perempuan berbusana rapi dengan jilbab besar yang rajin berdemonstrasi. Ya, partai yang cikal bakalnya disebut Ali Said Damanik (Fenomena Partai Keadilan, 2002) berakar dari Gerakan Tarbiyah yang marak di kampus-kampus pada dekade 80-an itu kini melaksanakan Musyawarah Wilayah ke-2 untuk wilayah Sumatera Utara yang berlangsung di Medan pada tanggal 7-10 Oktober 2010. Ini merupakan momentum yang tepat untuk merumuskan perbaikan bagi tanah bertuah yang berbudi luhur ini.

Banyak hal yang telah ditorehkan oleh partai berlambang dua bulan sabit kembar mengapit padi ini. Sejak awal mula pendiriannya saja, partai yang dulunya bernama Partai Keadilan (PK) ini telah mencengangkan publik Indonesia. Deklarasi pendiriannya di halaman Masjid Al-Azhar, Jakarta dihadiri lima puluh ribu kader. Ini mengagetkan banyak pihak bagaimana mungkin sebuah partai baru bisa menghadirkan massa sebanyak itu. Terlebih lagi setelah mengetahui hasil Pemilu 1999 di mana PK berhasil merebut 7 kursi DPR RI, 26 kursi DPRD Propinisi, 163 kursi DPRD Kabupaten/Kota dan 1,4 juta suara pemilih atau 1,6 % dukungan rakyat. Ini sebuah debut perdana yang mengagumkan. Cuma PK satu-satunya partai baru yang bisa mendapat raihan suara sebanyak itu.

Lalu keajaiban kembali terjadi di 2004. Electoral treshold yang saat itu menjegal banyak kekuatan politik reformasi, tidak menjadi penghalang bagi partai dakwah ini untuk terus bekerja. Mereka memilih baju baru PKS untuk mewarisi dan melanjutkan cita-cita perjuangan PK. Dan hasilnya PKS (bersama Partai Demokrat) menjadi rising star dalam percaturan politik nasional. Capaian suaranya melejit tajam hingga 7,34% (8.325.020) dari jumlah total pemilih dan mendapatkan 45 kursi dari total 550 kursi di DPR. Sementara di Pemilu 2009 sebenarnya PKS mengalami “kekalahan” di beberapa kota besar yang menjadi basis mereka seperti Jakarta, Bandung dan Medan setelah disapu oleh tsunami iklan SBY dan Demokrat, meskipun syukurnya PKS bisa melakukan ekstensifikasi konstituen yang kini semakin melebar tidak hanya di wilayah urban.

Namun, hal yang amat patut diapresiasi adalah semangat PKS yang tak pernah pupus untuk berbuat kebaikan bagi bangsa. Program-program sosial mereka tetap dijalankan, meski tidak diekspos besar-besaran oleh media massa. Dalam penanggulangan bencana, PKS tetap menurukan relawan dan bantuan dana yang tidak pernah sedikit. Termasuk ketika membantu korban musibah gempa Sumatera Barat, Situ Gintung, dan banjir di beberapa daerah. Aksi-aksi solidaritas tetap mereka jalankan meskipun sering difitnah menjadikan kepedihan saudara sendiri di Palestina sebagai komoditas politik. Tulus atau tidak, sedikitnya sudah lebih dari 22 milyar rupiah yang berhasil dihimpun dan disalurkan PKS untuk perjuangan kemerdekaan dan misi kemanusiaan di bumi Al-Quds sana. Begitu pula para anggota legislatifnya yang sampai saat ini Insya Allah masih amanah dan tetap menolak budaya suap walaupun tak jarang dicemooh sebagai orang munafik. Seperti yang dilansir berbagai media, PKS masih tetap menjadi partai terdepan dalam perlawanan terhadap kultur koruptif di pemerintahan. Hal ini dibuktikan dengan data KPK yang menunjukkan bahwa PKS adalah partai yang paling tinggi angka pengembalian gratifikasinya dan tingkat kepatuhan dalam melaporkan kekayaan.

Di samping itu, sejauh ini partai yang kini dipimpin Luthfi Hassan Ishak itu mau tak mau harus diakui telah berhasil melakukan strategi political marketing yang jitu. Terbukti slogan Bersih, Peduli dan Profesional yang didengung-dengungkan telah melekat di benak masyarakat. Hal ini bukanlah semata karena faktor keunggulan konsultan politik sebagaimana yang dilakoni parpol lain, melainkan lebih disebabkan oleh kesantunan sikap berpolitiknya yang tetap mengedepankan prilaku jujur dan bersih, kepekaan pengurus dan kadernya terhadap masalah sosial dan isu-isu kerakyatan serta keberhasilan kader-kadernya yang didaulat menjadi pejabat publik. Kementerian Pertanian yang telah dua kabinet dipegang oleh kader PKS misalnya telah mencatatkan prestasi memperoleh swasembada pangan. Selain itu, kader PKS yang menjad kepala daerah pun juga tak kalah prestasinya. Misalnya, Nurmahmudi Ismail yang mendapat amanah sebagai walikota Depok mendapatkan penghargaan dari KPK sebagai kota yang paling bersih dan tranparan proses pengadaan barang dan jasanya.
Membaca Jalan Moderat PKS

Sejak Mukernasnya pada 2008 di Denpasar, wacana perubahan PKS menjadi partai terbuka menggema di mana-mana. Partai yang selama ini dicap ekslusif ini menyatakan kesiapannya untuk membersamai seluruh komponen bangsa tanpa membeda-bedakan latar belakang suku, agama dan ras. Apalagi setelah Munas ke-2 PKS di Hotel Ritz Carlton, Jakarta yang semakin meneguhkan komitmen mereka menghargai pluralitas dan kebhinekaan Indonesia dengan mengundang tokoh-tokoh Amerika dan negara Eropa untuk duduk bersama membincangkan masa depan bangsa. Hal tersebut, ungkap J. Kristiadi, menunjukkan bahwa PKS adalah partai yang percaya diri dan bukan harus inferior terhadap negara adidaya. Ditambah lagi iklan-iklan yang menampilkan sosok-sosok beragam mulai dari kyai sampai anak punk, mulai dari Natsir sampai Soekarno dengan merahnya yang menyala. Barangkali pencitraan keberagaman yang ditampilkan tersebut adalah dalam kerangka mewujudkan visi dan misi PKS sebagai “Partai Dakwah Penegak Keadilan dan Kesejahteraan dalam Bingkai Persatuan Ummat dan Bangsa” sebagaimana tercantum dalam AD/ART partai. Partai ini kemudian ingin bisa dikategorikan sebagai kelompok “moderat” (Collins, 2004; ICG, 2005), dalam pengertian menerima demokrasi dan bekerja dalam kerangka konstitusional dan non-kekerasan demi memperoleh simpati masyarakat. Sebab, beberapa waktu sebelumnya, santer tuduhan bahwa PKS membawa hidden agenda untuk menegakkan negara Islam yang dikhawatirkan sebagian kalangan akan merugikan kelompok minoritas. Kekhawatiran itu setidaknya terungkap dalam buku Ilusi Negara Islam yang diterbitkan oleh Ma’arif Institute dan LibforAll Foundation. PKS mendapat fitnahan keji sebagai agen kelompok transnasional garis keras yang akan merongrong kedaulatan NKRI. Begitupun, rakyat jualah yang akan menilai siapa yang santun dan siapa yang bersikap kasar layaknya teroris.

PKS dan Harapan yang Tersisa

Jujur saja, mungkin polah politik otoriter orde baru yang koruptif telah membuat sebagian besar masyarakat republik ini mengimani kepercayaan Machiavelli bahwa politik itu kotor. Wajar saja kalau kepercayaan rakyat terhadap parpol rendah. Hal itu tercermin dari semakin rendahnya tingkat partisipasi pemilih di berbagai Pemilu dan Pilkada. Hingga kemudian datang PKS yang menggabungkan dua unsur kebaikan: semangat anak muda (hamasatusy-syabab) dan kebijaksanaan para ulama (hikmatusy-syuyukh). Inilah jawaban akan penantian masyarakat akan perbaikan negeri ini. Satu-satunya harapan yang masih tersisa setelah berbagai perilaku amoral dipertontonkan oleh pejabat pemerintahan dan kader partai lain. Maka, sisa harap itu tertumpu di pundak PKS yang menasbihkan diri sebagai agent of change.

Oleh karenanya, PKS tak boleh membuat rakyat kecewa. PKS harus terus berikhtiar untuk kebaikan Indonesia. Dan, tentunya partai ini bukanlah kumpulan malaikat tanpa noda dan dosa. Ada beberapa hal yang perlu dibenahi dalam tubuh partai ini. Pertama, menjaga orisinalitas (ashalah) gerakan. Menjadi partai terbuka memanglah tuntutan konstitusi dan agama. Sebab ini adalah sarana untuk menyebarkan kebaikan Islam sebagai rahmatan lil alamin. Namun yang harus digarisbawahi adalah jangan sampai karena kepentingan taktis seperti ini PKS kehilangan ruhnya sebagai sebuah gerakan dakwah. Core aktivitasnya sebagai pemikul amanah dakwah tak boleh terlupakan. Para pemimpinnya juga harus mengingat bahwa PKS bukanlah partai yang besar karena popularitas atau kharisma pemimpinnya, namun ia besar karena loyalitas dan militansi kadernya yang terbangun dari proses kaderisasi yang matang. Itulah mengapa aspek pembinaan internal dengan mensolidkan struktur dan terus-menerus meng-up-grade kader menjadi prioritas penting.

Kedua, memelihara keteladanan tokoh dan kader. Kasus yang menimpa Misbakhun sudah semestinya menjadi pelajaran bagi pengurus PKS. Meski aleg PKS tersebut belum terbukti bersalah, namun tak pelak kejadian itu telah mencoreng nama baik PKS yang telah lama dibangun. Ibarat kata pepatah, gara-gara nila setitik rusak susu sebelanga. Profil kader PKS yang kokoh dan mandiri, dinamiis dan kreatif, spesialis dan berwawasan global dan lainnya itu haruslah terejawantahkan dalam laku sehari-hari kadernya sehingga kalau bisa akan terbit lagi seri-seri berikutnya dari buku Bukan di Negeri Dongeng (Kisah Para Pejuang Keadilan). Karena rakyat kita merindukan sosok yang sederhana dan bersahaja layaknya KH Rahmat Abdullah atau DR. Hidayat Nur Wahid yang bisa mereka teladani, yang sama antara tutur dan lakunya.

Ketiga, mengeluarkan kebijakan dan sikap politik yang populis. Sejarah adalah guru yang paling jujur. Maka PKS wajib bercermin pada gonjang-ganjing akibat iklan Soeharto dan tokoh-tokoh ormas Islam yang dicatut. PKS juga harus mengevaluasi statement kontroversial yang sering disampaikan oleh kadernya seperti Fahri Hamzah dan Anis Matta. Tak ada salahnya memang melakukan manuver politik. Apalagi untuk sebuah strategi agar dapat menjadi headline media massa. Namun ijtihad itu perlu dikaji ulang jika kemudian justru menimbulkan keresahan di masyarakat atau bahkan tubuh internal partai sendiri. Ada baiknya PKS berhati-hati dalam menyampaikan sikap politik ini khususnya yang berkaitan dengan hajat hidup orang banyak semisal harga BMM dan tarif dasar listrik.

Termasuk bagaimana PKS harus mencari posisi aman atas dua tuntutan kelompok yang berseberangan: pendukung formalisasi syariat Islam yang kaffah dan pembela kebebasan berekspresi dan hak asasi manusia yang berideologi liberal bahkan cenderung fobia terhadap Islam. Untuk hal ini, PKS dapat belajar dari merosotnya suara PAS di Malaysia setelah mereka mengeluarkan buku yang berjudul Negara Islam, sebuah buku yang secara tegas memuat platform dan visi PAS untuk menerapkan Islam dalam hukum positif di negara jiran itu. Sebaliknya, partai AKP di Turki bisa menggapai kemenangan besar di sana dan menguasai 100% kabinet pemerintahan dengan “perngorbanan” merelakan sebagian nilai-nilai sekuler tetap bersemi dan saling berebut posisi dengan nilai Islam di tengah masyarakatnya.

Keempat, menyiapkan SDM yang mumpuni untuk mengelola negara. Sudah bukan rahasia lagi kalau PKS dihuni oleh kader-kader muda yang berpendidikan dan punya latar belakang sebagai aktivis mahasiswa di kampusnya. Ini membuat idealisme dan cita-cita mereka menemukan muara yang tepat. Hal seperti inilah yang perlu terus dimatangkan oleh PKS agar ketika kelak masyarakat memberikan kesempatan dan kepercayaan kepada PKS, tidak ada lagi keterkejutan. Mengelola negara bukanlah pekerjaan sepele yang semudah membalikkan telapak tangan. Sebab untuk menyusun kembali puing reruntuhan yang terserak ini tak cuma dibutuhkan orang shalih dan jujur, namun juga harus cakap dan kapabel.

Akhirnya, kita harus terus berikhtiar, berdo’a dan memupuk harapan itu agar mindset masyarakat tak lagi berbunyi, “Ah, buat apa nyontreng, siapapun yang terpilih, tetap juganya awak hidup susah.” Alangkah indahnya kalau kemudian yang terdengar dari mereka adalah optimisme menyongsong kebangkitan kembali kejayaan zamrud khatulistiwa ini bersama PKS. Semoga.

Tulisan ini memenangkan Juara Pertama dalam Lomba Penulisan Opini Muswil ke-2 PKS Sumut 2010

Sunday, 24 October 2010

Suara-suara Minoritas

sore itu,selepas ku tunaikan kewajibanku shalat Ashar. saya langsung mencari teman2 dan menunggu Ustad H. Yos Sariadi untuk melihat seorang pasien kurang mampu di kabupaten 50 Kota. lelahku sehabis dinas di rumah sakit bukanlah penghalang untuk memberi sedikit apa yang ku bisa . apakah saya ikhlas? terlalu mudah kalau hanya sekedar bibirku yang berucap, biarlah masalah ikhlas atau tidak hanya saya dan Tuhan yang tahu, kamu tak perlu tahu akan hal yang menjadi sebuah privasi bagiku dan Rabbku.

kami susuri jalan2 kecil menuju sebuah desa di Mungka, kalau orang Minang lebih mengenalnya dengan sebutan Jorong, perjalanan yang cukup jauh hampir 45 menit dengan mobil reot Ustad H. Yos yang nota benenya adalah seorang anggota DPRD kab 50 kota. seringkali jalanan berlobang memperlambat laju mobil tua yang kami tumpangi. setelah perjalanan dengan mobil kemudian kami lanjutkan dengan berjalan kaki menapaki lereng bukit menuju rumah pasien. benar-benar melelahkan....

seorang ibu dengan kepala terikat menderita sakit kepala hebat sudah hampir 3 bulan ini, tak bisa ke rumah sakit dengan alasan biaya yang tidak ada. gurat2 wajahnya yang menahan sakit sungguh jelas terlihat meski senyumnya menyambut kedatangan kami. setelah dilakukan pemeriksaan, dengan gejala yang ada kemungkinan besar ada peningkatan tekanan intrakranial, namun untuk memastikan diagnosisnya harus di bawa ke rumah sakit. lagi-lagi pasien tak bisa mengiyakan anjuran ntuk ke rumah sakit... biar saya yang ngantar nanti dan menanggung biayanya jawab Ustad. alhamdulillah, ternyata masih ada orang yang peduli.

saya akui memang buruknya citra anggota dewan di mata kita sudah tak bisa dipungkiri. jalan2 keluar negeri dengan alasan yang tidak tepat di saat rakyat banyak menderita kemiskinan, belajar etika seakan dinegeri ini tak ada yang bisa mengajarkan etika. menghabiskan uang rakyat untuk kepentingan pribadi. sehingga keprcayaan kita terhadap mereka perlahan mulai habis. tapi, tidak tepat juga kalau kita menghakimi mereka semua sama. semua busuk, semua menghabiskan uang rakyat. di saat yang lain melancong ke luar negeri ternyata masih ada satu dua orang yang melancong dari rumah ke rumah penduduk miskin menanyakan keadaannya, memeriksa kesehatannya. yakinlah suara-suara minoritas itu dengan lantang menyuarakan kepentingan rakyat di gedung DPR sana, suara2 minoritas yang seringkali diacuhkan, suara-suara minoritas yang seringkali dicemooh dengan kata-kata sok suci, sok bersih.
saya tetap yakin harapan itu masih ada untuk negeriku tercinta

Friday, 22 October 2010

Amanahku di Kota Himsh


“ ya Amirul Mukminin, Gubernur kami selalu datang di tempat tugas setelah matahari tinggi”.
Aku hanya terdiam, kubiarkan masyarakat menyampaikan apa yang mereka rasakan kepada khalifah Umar. Mungkin banyak ketidakpuasan mereka atas kepemimpinanku. Khalifah Umar menatapku, beliau seperti menginginkan jawabanku. Tak ingin rasanya aku menjawabnya, tapi ini harus dijelaskan agar tidak ada fitnah.
“wahai Sa’id, apakah benar apa yang disampaikan rakyatmu?”
Ku tegakkan kepalaku, ku pandangi Khalifah Umar, wajahnya yang begitu teduh tapi penuh wibawa, gurat-gurat di wajahnya sudah mulai menunjukkan usianya yang kian senja, Umar yang sangat ditakuti kaum Quraisy dulu saat Hijrah ke Madinah sudah tidak semuda saat itu lagi, tak ada satu pun makhluk yang berani menghalanginya….Amanah yang beliau pikul memanglah lebih besar dari amanahku yang hanya seorang Gubernur Himsh.
“ benar ya Amirul Mukmin, saya memang selalu datang saat matahari sudah tinggi. Di rumah saya tak memiliki seorang pembantupun untuk membantu istriku memasak. Saya harus menyiapkan roti buat keluarga saya, saya membuatnya sendiri kemudian saya menunggu dan memasaknya, setelah selesai saya mengambil wudhu saya melaksanakan shalat Dhuha”.
“Apalagi yang mau kalian laporkan?”. Lanjut Khalifah Umar
“sewaktu-waktu Gubernur sering menutup diri dan tak mau berbicara dengan kami, saat ada majlis beliau terkadang pergi begitu saja.”
Makin banyak rakyat mengadu dengan Khalifah, aku hanya menanggapi seperlunya karena memang ada alasanku untuk semua pertanyaan mereka.
Kembali Khalifah meminta jawabanku untuk pertanyaan itu. Ruangan kembali hening menunggu jawabanku, sikap kritis rakyatku kuterima dengan lapang dada. Tak terasa air mataku mulai terjatuh. Langsung teringat wajah Khubaib yang merintih kesakitan dipaku di kayu salib saat aku belum masuk Islam dulu.
“ seringkali aku merasa bersalah ya Amirul Mukminin, aku sering terbayang dengan Khubaib yang dibunuh oleh orang-orang Quraisy sedangkan aku tak bisa berbuat apapun kecuali menonton penyiksaan itu”.
Saat itu aku masih remaja, dengan semangat yang begitu membara saya berlari ke Tan’im sebuah tempat di luar Kota Makkah yang dijadikan tempat penyiksaan para pengikut Muhammad. Terik padang pasir tak bisa menyurutkan keinginanku menuju kesana saat kudengar ada seseorang yang akan disalib dan disiksa oleh petinggi Quraisy. Muhammad saat itu sudah pergi ke Madinah beserta beberapa pengikutnya, akan tetapi selalu saja satu dua orang masih ada pengikutnya yang kian bertambah di Kota Mekkah, aku tak habis pikir apa yang menyebabkan mereka kian bertambah dari hari ke hari, bahkan dengan berbagai penyiksaan mereka tanggung untuk seorang Muhammad. Dan cara-cara mempertontonkan penyiksaan seperti ini Quraisy beranggapan akan membuat jera penduduk Mekkah yang lain. Tubuhku yang kecil saat itu mencoba menerobos kerumunan orang, teriakan dimana-mana, aku harus melihat siapa kali ini yang berada di tiang salib itu.
“ bunuh…bunuh …bunuh…” seakan panasnya padang pasir semakin membuat garang petinggi2 Quraisy…
Ku saksikan di sana ada Abu sofyan bin Harb, Safwan bin Ummayyah dan petinggi lainnya. Cambukan beberapa kali sudah menghujani tubuh Khubaib…
“ izin kan saya shalat dua rakaat sebelum kalian bunuh….” Kata-kata itu mengalir begitu saja dari lidah Khubaib tanpa rasa takut sedikitpun.
Kemudian khubaib pun melaksanakan shalatnya sampai selesai…
“ sudikah engkau jikalau Muhammad menggantikanmu, dan kamu kami bebaskan”. Tawaran beberapa petinggi Quraisy.
“ saya tak ingin bersenang-senang dengan istri dan anak2 saya, sedangkan Muhammad tertusuk duri…” jawabnya dengan lantang.
Merinding saat aku mendengar jawaban itu, keyakinan yang luar biasa besar. Garangnya gurun pasir tak sedikitpun menggoyahkan keyakiannnya, puluhan paku yang satu persatu mulai tertancap tak menyurutkan imannya, puluhan tombak tertancap hingga khubaib menghembuskan nafasnya di kayu salib…..
Lama aku tak bisa melupakan kejadian penyiksaan itu, wajah khubaib yang dipaku di kayu salib seakan membayang-bayangiku. sEringkali bahkan aku bermimpi bertemu dengan Khubaib dan melihatnya melakukan shalat 2 rakaat persis seperti saat beliau mau dibunuh….setelah kejadian itu akupun memutuskan untuk berangkat ke Madinah menemui Rasulullah dan akupun masuk Islam. Tapi bayang2 Khubaib selalu tak bisa aku hilangkan, sesalku yang tak bisa berbuat apa2 saat itu sangat besar.
“ Terimakasih Sa’id, engkau tidaklah mengecewakanku”kata Umar mengakhiri penjelasanku
Amiril Mukminin kembali ke Madinah, tak ada lagi rasa curiga dari rakyatku, mereka semua sudah tau alasan yang menjadi pertanyaan selama ini.
Tidak berapa lama setelah kunjungannya ke Himsh, Umar mengirimiku beberapa Dinar. Ku mintai pendapat istriku.
“ bersyukurlah Sa’id, kita akan membeli makanan dan pembantu untuk meringankan kerja kita.” Jawab istriku. Ku pandangi pundi2 dinar yang masih di tanganku.
“ wahai Istriku adakah usulan yang lebih baik dari itu”.
Wajah istriku bingung dengan pertanyaanku. “ bagaimana menurutmu sendiri wahai Sa’id?”. Istriku balik bertanya.
“ bagaimana kalau kepingan-kepingan dinar ini kita bagikan saja kepada fakir miskin di Kota ini, kita tidak lebih butuh dibanding mereka. Kita menabung untuk akhirat.” Jawabku
“kalau itu memang lebih baik, laksanakan wahai Sa’id”. Ku pandangi istriku, tak ada sesal di wajahnya dengan keputusanku. Dia selalu mendukungku di jalan ini.
Senja mulai menghilang di langit kota Himsh, malam pun mulai datang menyelimuti Kota ini. Saatnya aku bercengkrama dengan Rabbku, menghabiskan malam-malam yang panjang bersamaNYA, mengadukan segala permasalahan rakyatku. Semoga besok saat matalu terbuka kedamaian selalu menyelimuti kota ini.

Tuesday, 19 October 2010

Siapa Bilang Jadi dokter harus Mahal???




Maret 2004
“ ayah,…saya mau kuliah di kedokteran “. Tiba-tiba suasana meja makan malam itu menjadi sunyi, masing-masing melanjutkan makannya setelah beberapa saat berhenti dengan pertanyaanku, saya pandangi ibuku untuk meminta sedikit dukungannya….ah apalah yang bisa beliau bantu, ia hanya seorang istri yang sangat penurut apapun kata ayah. Ibu hanya mendukung keinginanku apabila dibelakang ayah.
“ kuliah di kedokteran? Darimana nak, ayah bisa dapat uang sebanyak itu…100 juta? Dikumpulin dari harta kakek ampe buyutmu aja gak bakal terkumpul sampe segitu….tak usah berpikir yang macam-macam.”
Kembali saya telan penolakan ayah dengan makanan yang serasa tersekat di kerongkonganku…
“ siapa bilang 100 juta yah?...”
“itu anak tetangga kita contohnya, bapaknya yang sekaya itu aja kewalahan bayar uang kuliahnya…”
“ Diakan kuliahnya di swasta yah….” saya masih terus meyakinkan orang tua.
“ sama aja gak jauh beda di Negeri sama swasta….kamu ambil Hukum saja”
Halah…mulai ayahku terobsesi lagi dengan anaknya seorang ahli hukum, pengen sekali beliau klu saya mengikuti jejak kakek semargaku Adnan Buyung Nasution mungkin….ha ha ha….nggak saya akan buktikan saya bisa. Ku bulatkan tekadku malam itu di meja makan.

Saya terlahir sebagai anak ke 6 dari 8 bersaudara, ayah seorang wiraswasta berdagang kecil-kecilan, klu saya melihatnya ayah lebih sering ruginya dari pada untungnya, ntahlah ya mungkin jiwa bisnisnya sangat kurang sekali. Ibu seorang tukang jahit biasa, penghasilan beliau Cuma cukup buat kebutuhan kami sehari-hari. Meski setengah mati menelusuri garis silsilah keluarga tak bisa saya temukan kalau saya berdarah biru, memang ternyata saya hanya makhluk berdarah merah..he he he…tak juga keturunan raja-raja di tanah Batak, dipaksa-paksakan pun jadi cucunya Sisinga Mangaraja atau Willem Iskandar tetap gak bisa….ah ya sudahlah saya harus menerima takdir sebagai anak dari keluarga biasa-biasa aja. Tak ada “vertebre” yang bisa menyokong untuk berdiri. Seperti kata seorang kawan kami hanyalah Molluska yang bertekad untuk menjadi tingkatan yang lebih tinggi.
Syukurlah Tuhan memang adil menciptakan kita ke dunia ini, ada kekurangan dan ada juga kelebihan yang diberikan kepada kita. Singkat cerita saya masuk di salah satu sekolah bagus di Kota Padangsidempuan, saya masuk di salah satu sekolah swasta yang menerapkan system boarding school alias asrama. Di saat orang lain yang sederajat dengan kami berpikir seribu kali untuk masuk SMA swasta karena biaya yang super mahal, Alhamdulillah saya tetap mendaftar ke SMA swasta untuk test di sana. Islamic Boarding School SMP-SMA Nurul ‘Ilmi salah satu sekolah islam terpadu syukurlah saya diterima di sana diantara ratusan siswa yang ikut test. Seperti sangkaan kebanyakan orang SMA swasta mahal, ternyata tidaklah demikian. 3 tahun sekolah dan diasramakan di sana, semuanya saya menikmatinya gratis tanpa biaya apapun, mulai biaya sekolah, biaya makan, biaya asrama, hanya 500 ribu sumbangan untuk pustaka sekolah dan itupun bisa dicicil selama 3 tahun. Sekolah yang luar biasa menurut saya, meski gratisan sekolahnya kwalitasnya tetap bagus, sehingga di atas 80% kami lulus di perguruan tinggi negeri.
Tamat dari SMA bukanlah hal mudah untuk saat ini, masuk kedokteran katanya harus butuh duit ratusan juta, punya orang tua konglomerat atau minimallah punya orang tua seorang dokter. Percakapan beberapa bulan yang lalu di meja makan dengan ayahku masih terngiang-ngiang saat lembaran SPMB ini mau di isi. Ah…semua rezeki dah ada yang ngatur pikirku, Allah takkan menyianyiakan keninginan saya. Akhirnya saya bulati pilihan FK Universitas Andalas sebagai pilihan pertama saya. Orang tua juga tak tahu apa sebenarnya yang saya pilih saat itu, mereka lebih memilih untuk tidak ikut campur lagi. Baru setelah keluar pengumuman di Koran saya kasih tau sama orang tua, bukan wajah gembira yang saya dapat dari orang tua saat mendengar kelulusanku di kedokteran, tapi wajah cemas memikirkan kemana mau dicari pinjaman ratusan juta.
Saat itu Cuma 3 juta uang yang saya bawa menuju kota Padang untuk daftar ulang, itulah semua simpanan orang tua saya. Di saat orang lain diantar orang tuanya untuk sekedar mendaftar, saya berangkat tanpa mereka untuk lebih menghemat biaya. Dengan bantuan beberapa orang senior, khirnya dalam satu hari urusan daftar ulangpun selesai, tak ada ratusan juta, tak ada yang ditakutkan orang tua saya, tak ada yang ditakutkan oleh semua orang. 1,6 juta total keseluruhan biaya daftar ulang saat itu, sudah termasuk biaya kuliah satu semester, biaya praktikum, baju almamater, biaya bakti, test Toefel, biaya bus kampus. Lebih mahal uang masuk anak SD swasta di sebelah kost saya, anaknya masuk SD saja sudah 2 juta saat itu. Mendengar kabar itu, terisak ibu saya di ujung telpon di seberang sana…..
Saya bukanlah seorang kutu buku apalagi kutu busuk..he he he..sehingga nyampe kampus rasanya gak betah Cuma jadi seorang mahasiswa yang taunya Cuma kost ama kampus, saya pun masuk ke salah satu UKM di FK saya memilih untuk aktif di Lembaga Dakwah Kampus, tak cukup dengan kegiatan itu di tahun ke 2 saya masuk kesalah satu Perhimpunan Relawan Bulan Sabit Merah Indonesia cabang Padang. Aktif diberbagai kegiatan kampus bukan berarti saya harus mengorbankan kuliah saya,kuliah nomor satu dan oraganisasi saya juga nomor satu. teman2 seangkatan saya lulus , alhamdulilah saya juga lulus. Mereka jadi dokter saya juga akhirnya jadi dokter dalam masa pendidikn 5 tahun 3 bulan dengan predikat sangat memuaskan. Desember 2009 kemarin akhirnya saya wisuda meski seorang ibu yang sangat saya cintai sudah tiada, beliau menghadapNya saat saya masih di tahun 3 di kampus. Tapi semangat juangnya masih mengalir di darah saya yang bukan berdarah biru ini.

Tulisan ini saya rangkai bukanlah untuk berbangga diri, hanya sekedar membuka sedikit mata kita dan cara berfikir yang jangan terlalu sempit. Memberikan semangat buat ibu-ibu yang memiliki harapan dan jiwa juang yang besar, menambah semangat buat adek-adek saya yang hendak merangkai mimpi kuliah di kedokteran. Bermimpilah…… jadi dokter itu tidak harus mahal….^_^