Sunday, 11 December 2011

Membangun Soliditas dengan Kader Berkualitas

Oleh : Solikhin Abu Izzuddin

Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh. (q.s. Ash-Shaff: 4)


Dimulai dari kader berkualitas

“Setiap umat memiliki orang kepercayaan. Dan orang kepercayaan umat ini ialah Abu Ubaidah bin Al Jarrah.”

Sebuah soliditas adalah keniscayaan dalam jamaah dakwah. Kita memerlukan energy untuk terus membangkitkan semangat dan menghadirkan sosok-sosok pilihan yang mampu memaknai peran tanpa kehilangan jatidiri sebagai aktifis pergerakan. Kader yang senantiasa tegas dan lantang dalam menyuarakan perubahan demi perubahan. Seperti Abu Ubaidah ibnul Jarrah yang tetap teguh menjaga kepribadian. Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam pernah bersabda memuji Abu Ubaidah bin Al Jarrah, “Setiap umat memiliki orang kepercayaan. Dan orang kepercayaan umat ini ialah Abu Ubaidah bin Al Jarrah.”

Bagaimana sosok Abu Ubaidah hingga mendapat pujian sebagai orang kepercayaan? Inilah rahasia super murabbi yang hendak kami sajikan. Beberapa episode penting dalam kehidupannya menjadi inspirasi bagi para murabbi untuk terus menempa diri menghadirkan prestasi demi prestasi dalam setiap episode tarbawi dan dalam setiap mihwar da’awi alias orbit dakwah.

Pada suatu hari Abu Ubaidah dan beberapa tokoh kaum Quraisy lainnya pergi ke rumah keluarga Al Arqam untuk bertemu secara langsung dengan Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam. Oleh beliau, mereka ditawari masuk Islam, dan diperkenalkan syari’at-syari’atnya. Dengan tekun dan tenang Abu Ubaidah mendengarkan apa yang disampaikan oleh beliau. Diam-diam ia mencuri pandang wajah beliau yang nampak sangat rupawan dan bercahaya. Jenggot yang tipis menambah ketampanan beliau. Dan ketika mata Abu Ubaidah beradu pandang dengan mata beliau yang sejuk, seketika ia langsung menunduk dan merasa malu sendiri.

Begitu selesai mendengarkan apa yang disampaikan oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam, Abu Ubaidah dan kawan-kawannya segera menyatakan beriman dengan suka rela dan atas kesadaran sendiri, setelah Allah Ta’ala berkenan membukakan hati mereka menerima Islam. Maka dalam waktu yang sama, Abu Ubaidah dan kawan-kawannya sudah menjadi orang muslim.

Yang menarik dari pribadinya adalah sikap-sikap bijaknya dalam mengatasi konflik. Mampu menyelesaikan masalah-masalah pelik dengan strategi yang sangat cantik dan unik.

Berjiiwa Besar dalam Perang Badar

Dalam perang Badar menghadapi konflik batin yang sangat berat. Dia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri, banyak para sahabat Nabi syahid di tangan ayahnya sendiri. Terjadi konflik batin, antara membela sahabatnya atau memerangi ayahnya. Dia harus mengambil keputusan. Dia harus bersikap tegas mengatasi konflik itu, dia harus memerangi dan membunuh ayahnya yang musyrik. Dia memenangkan keputusannya. Membunuh ayahnya. Dengan tangannya. Sungguh sebuah medan konflik yang telah diselesaikan dengan cantik.

Dia segera bisa mengambil keputusan yang tegas. Ia lebih mementingkan membela imannya kepada Allah dan mengutamakan akidahnya yang murni daripada menuruti perasaannya sebagai seorang anak terhadap ayahnya. Tanpa ragu-ragu, dia mendekati ayahnya. Segera melancarkan serangan yang mematikan ke tubuh ayahnya, sebelum didahului oleh temannya sesama pasukan muslim. Dan seketika ayahnya tewas di tangannya.

Momentum dalam Perang Uhud

Dalam perang Uhud. Ketika pasukan orang-orang musyrik menyiarkan kabar bohong bahwa Nabi saw telah terbunuh. Pasukan muslimin guncang. Putus asa. Kendor semangatnya. Menyaksikan hal ini Abu Ubaidah segera menghampiri Nabi saw yang sedang mendapat serangan yang sangat gencar. Bibirnya Nabi terluka. Gigi depannya retak. Pelipisnya memar. Wajah berlumuran darah. Luka. Tepat ketika di dekat Nabi, Abu Ubaidah melihat darah mengalir deras dari wajahnya yang elok.

Berkali-kali dia segera berupaya menyeka darah yang terus mengalir. Dia menanggalkan salah satu gigi depan Nabi yang sudah retak dengan cara menggigit. Menggunakan giginya. Tanpa peduli, sekuat tenaga dia tarik gigi depan beliau sehingga akhirnya tanggal. Tentu saja hal ini menimbulkan rasa sakit yang luar biasa pada beliau. Tak ayal, darah pun mengucur deras dari mulut Nabi. Tetapi dia merasa senang karena bisa mengurangi rasa sakit yang dialami oleh beliau. Itulah sisi lain Abu Ubaidah, berani mengambil resiko terberat agar Rasulullah selamat.

Berhasil dalam Perang Dzatus Salasil

Ketika Rasulullah saw mengutus Amru bin Ash dalam perang Dzatus Salasil, bersama 300 prajurit kaum muslimin. Tatkala mereka mendekati kabilah-kabilah tersebut, ternyata jumlah pasukan musuh amatlah besar. Amru bin Ash kemudian meminta tambahan pasukan kepada Rasulullah saw untuk memperkuat skuad pasukan kaum muslimin.

Rasulullah saw pun mengutus Abu Ubaidah ibnul Jarrah bersama 200 pasukan tambahan. Di dalam pasukan terdapat Abu Bakar Ash-Shiddiq. Rasullah juga mengamanahkan panji kepemimpinan pasukan kepada Abu Ubaidah ibnul Jarrah dan memerintahkan segera menyusul pasukan Amru bin Ash seraya berpesan agar mereka bersatu padu dan tidak berselisih paham.

Ketika Abu Ubaidah tiba bersama pasukannya dan hendak mengimami seluruh pasukan tersebut —karena panji-panji kepemimpinan pasukan sebelumnya diserahkan oleh Rasulullah saw kepadanya—, Amru bin Ash berkata kepadanya, “Sesungguhnya engkau datang kemari untuk menambah pasukan yang aku pimpin. Dan aku adalah komandan pasukan di sini.”

Bagaimanakah sikap Abu Ubaidah?

Abu Ubaidah mematuhi apa yang dikatakan oleh Amru bin Ash yang akhirnya memimpin pasukan kaum Muslimin dan meraih kemenangan.

Saudaraku, Abu Ubaidah mampu memahami esensi pesan Nabi dan tetap menahan diri. “Hendaklah kalian semua bersatu padu dan tidak berselisih paham.” Padahal jelas, Rasulullah menyerahkan panji-panji kepemimpinan pasukan kepadanya, mengapa dia tidak merebut kepemimpinan itu?

Mengapa dia mengalah? Mengapa dia rela dipimpin oleh Amru bin Ash? Mengapa? Justeru di situlah keunggulan integritasnya. Pemimpin sejati adalah yang siap memimpin dirinya sendiri dan lebih mengutamakan soliditas dengan menjaga hubungan daripada memenangkan situasi.

Melejit dalam Berbagai Situasi Sulit

Ketika Rasulullah wafat, terjadi krisis kepemimpinan yang sangat sulit, menyulut konflik dan hampir-hampir memecah belah umat. Kaum muhajirin memilih Abu Bakar, kaum Anshar lebih memilih Sa’ad bin Mu’adz. Di tengah konflik inilah muncul nama Abu Ubaidah. Dia yang dipersaudarakan oleh Nabi dengan Sa’ad bin Mu’adz, tokoh puncak kaum Anshor. Sebenarnya ini sebuah pilihan yang tepat untuk perekat umat. Ini ‘kan kesempatan emas untuk berbuat, memberikan kontribusi penuh manfaat. Namun Abu Ubaidah melihat sesuatu yang oleh orang lain tidak terlihat. Dia bertindak cepat, lalu berseru dengan tawadhu,”Bagaimana kalian bisa mencalonkan aku, sementara di tengah-tengah kalian ada seseorang yang lebih hebat?”

Dia merasa Abu Bakar pilihan yang lebih tepat. Akhirnya Abu Ubaidah segera mengambil tangan Abu Bakar untuk berbaiat padanya, diikuti oleh Umar. Umat pun terselamatkan dari perpecahan. Terpilihlah Abu Bakar sebagai khalifah. Alhamdulillah.

Episode demi episode dilalui Abu Ubaidah penuh dengan pilihan-pilihan sulit. Saat berperang melawan Romawi di bawah pimpinan Heraklius, dalam kondisi terdesak dia mengutus kurir menemui sang khalifah Abu Bakar Ash Shiddiq di Madinah untuk meminta pertimbangan. Khalifah mengirimkan pasukan tambahan dalam jumlah yang sangat besar untuk membantu pasukan yang sudah ada, seraya menginstruksikan:

“Aku mengangkat Khalid bin Al Walid sebagai panglima untuk menghadapi pasukan Romawi di Syiria. Dan aku harap kamu jangan menentangnya. Tetapi ta’atilah dia, patuhilah perintahnya. Aku memang sengaja memilihnya sebagai panglima, meskipun aku tahu kamu lebih baik daripadanya. Tetapi aku yakin dia memiliki kelihaian perang yang tidak kamu miliki. Mudah-mudahan Allah selalu menunjukkan kita kepada jalan yang lurus.”

Abu Ubaidah menerima perintah khalifah dengan lapang dada. Rela sepenuhnya. Dia sambut Khalid bin Walid dengan suka cita. Dia serahkan tampuk kepemimpinan kepadanya dengan sikap hormat. Khalid tahu, Abu Ubaidah seorang komandan yang cerdas, berpengalaman, dan pemberani. Dia menunjuk Abu Ubaidah sebagai komandan pasukan kavaleri. Lalu pasukan berangkat. Mengepung Damaskus. Khalid bin Walid bergerak ke pintu gerbang kota sebelah timur, Abu Ubaidah bergerak ke pintu gerbang daerah Jabiyah. Komandan-komandan yang lain bergerak ke gerbang masing-masing.

Kekuatan pasukan kaum muslimin berhasil mengepung kota yang sangat kuat tersebut dari segala penjuru. Karena terus didesak, penduduk kota Damaskus berusaha melakukan perlawanan dengan sangat gigih untuk mempertahankan kota mereka yang tercinta. Di tengah keadaan yang sangat genting tersebut, ketika pasukan kaum muslimin bertempur habis-habisan dengan pasukan Romawi, Umar bin Khattab ra menemui Abu Ubaidah. Membawa kabar, Abu Bakar telah wafat. Umar juga hendak memecat panglima Khalid bin Al Walid, mengembalikan kepemimpinan kepada Abu Ubaidah.

Abu Ubaidah menyembunyikan berita duka agar tidak terdengar oleh pasukan kaum muslimin yang sedang gigih bertempur di bawah komando panglima Khalid bin Walid melawan pasukan Romawi. Dia khawatir berita kematian sang khalifah Abu Bakar membuat suasana gempar sehingga kekuatan jadi buyar. Bahkan surat Umar untuk pemecatan Khalid bin Al Walid dia tahan, mencari waktu yang tepat benar. Sebab, mereka tengah menghadapi pasukan yang sangat tangguh. Bahkan keadaan pasukan kaum muslimin sedang terdesak. Abu Ubaidah tetap tegar dan tidak mau menyerah. Dia terus berjuang habis-habisan. Dia merasa jika terus menerus mengepung kota Damaskus yang sangat kuat, bisa menguras kekuatan pasukan kaum muslimin, melemahkan semangat mereka, dan menimbulkan kebosanan. Akhirnya dia mencari jalan keluar. Menawarkan gencatan kepada penduduk kota Damaskus. Namun dalam waktu yang bersamaan Khalid bin Al Walid baru saja berhasil mendobrak pintu gerbang kota sebelah timur sehingga dapat memasuki kota tersebut dengan leluasa.

Abu Ubaidah dan Khalid bin Al Walid lalu bertemu. Mereka terlibat perdebatan sengit tentang apa yang harus dilakukan terhadap kota Damaskus, apakah ditaklukkan dengan kekerasan atau memilih jalan damai, gencatan senjata?

Abu Ubaidah bersikukuh menempuh jalan damai dengan penduduk Damaskus, sehingga Khalid bin Walid pun luluh. Mengalah demi menghormati Abu Ubaidah yang terlanjur telah mengadakan perjanjian damai dengan penduduk Damaskus. Khalid bin Al Walid tunduk patuh kepada Abu Ubaidah setelah mengetahui bahwa dirinya sudah dipecat sebagai panglima oleh Umar bin Khattab, khalifah yang baru.

Belajar Keulungan dari Abu Ubaidah

Mari kita belajar dari salah seorang dari Sepuluh Orang yang Dijamin Surga, dialah Abu Ubaidah ibnul Jarrah. Seluruh mozaik kehidupannya perlu kita telisik dengan unik karena sosoknya mencerminkan kader pengokoh soliditas jamaah terutama di saat sulit, dalam berbagai medan konflik dapat dilalui dengan cantik. Kalau surga merindukannya tentunya ini pula yang menjadi obsesi kita.
  • Pertama, cepat merespon kebaikan demi kebaikan sejak pertama kali bergabung bersama Islam. Prestasi keislamannya dan berbagai peran unggulannya munculnya dari tarbiyah yang paripurna. “Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertaqwa dan orang-orang yang berbuat baik.” (q.s. An-Nahl: 128)
  • Kedua, memiliki visi yang kuat dalam berjamaah. Yakni keterikatan dia pada jamaah karena ikatan visi, ikatan aqidah, keimanan, dakwah dan ukhuwah bukan karena ikatan kepentingan berupa jabatan, gengsi popularitas maupun kenikmatan duniawi yang sesaat. Medan konflik peran dan konflik batin mampu dilalui dengan sangat manis karena orientasi rabbani benar-benar menghunjam dalam diri.
  • Ketiga, mampu mengelola perbedaan menjadi kekuatan dan mensinergikannya menjadi jalan kemenangan demi kemenangan meski kemenangan tersebut bukan diatas namakan pada dirinya. Dia mampu menahan diri untuk tidak begitu menyampaikan berita-berita penting di saat-saat genting agar tidak menimbulkan konflik yang meruncing. Seorang murabbi dan para pemimpin dakwah mesti memiliki kecerdasan praktis seperti ini. Yakni kecerdasan untuk mengetahui apa yang harus dikatakan kepada orang tertentu, mengetahui kapan mengatakannya, tahu bagaimana mengatakannya untuk mendapatkan hasil yang maksimal. (Robert Sternberg – dalam buku OUTLIERS Malcolm Gladwell)
  • Keempat, organisasi adalah system dan sarana bukan tujuan. Dalam menjaga soliditas jamaah dakwah Abu Ubaidah sangat peka merasakan betapa pentingnya menjaga soliditas team dan keberlangsungan system karena adanya tujuan-tujuan agung dakwah yang hendak diraih bersama.
  • Kelima, Selalu berorientasi memberi. Bila setiap kader memiliki jiwa seperti Abu Ubaidah kita akan merasakan atmosfer tarbiyah dan aura dakwah begitu melimpah ruah karena para ikhwah adalah barisan orang-orang yang sadar untuk memberikan kontribusi dalam perjuangan. Dan ini bisa dibangun dari lima pilar kesadaran berorganisasi atau berjamaah dalam kemenyeluruhan dakwah Islamiyah, yakni :

1. Individu bagian dari FUNGSI pencapaian TUJUAN.
2. Semangat MEMBERI mengalahkan semangat MENERIMA.
3. SIAP menjadi TENTARA KREATIF dalam bingkai KESETIAAN dan KETAATAN.
4. Berorientasi pada KARYA bukan POSISI
5. BEKERJASAMA walaupun BERBEDA
(M. Anis Matta, Dari GERAKAN ke NEGARA)


Bukan Menuntut tapi Memulai…

Soliditas itu dimulai dan dibangun dari dalam diri setiap kader dakwah, murabbi dan murabbiyah secara sadar. Sebab kebanyakan orang keluar dari organisasi --menurut Azim Premji Milyuner Muslim dari India—bukan karena tidak cinta kepada organisasinya namun karena manajemen yang buruk. Nah, kader-kader dakwah yang clear, care and competence mesti menjadi pelopor kebaikan dalam diri dengan mampu menjaga quwwatush shilah billah yang terimplementasi dalam ranah ukhuwah dari tataran dasar salamatush shadr hingga puncak itsar.

Inilah cara sehat untuk sehat. Kita sehat kalau berpikir untuk memberi manfaat kepada orang lain dan kita mudah lelah dan sakit bila hanya memikirkan kepentingan diri sendiri. Saat kita memberikan yang terbaik, sesungguhnya kebaikan itu akan kembali kepada kita juga.

Saudaraku, mari kita membentuk diri dengan spirit keulungan seorang murabbi sejati. Super murabbi didikan Rasulullah. Abu Ubaidah yang mampu mengelola konflik demi konflik dengan apik. Bukan untuk kebesaran dirinya tapi untuk kemenangan bersama. Kemenangan besar. Itulah yang mensurgakan perannya, yang mengangkat kebesaran jiwanya. Keunggulan dalam ketawadhu’an. Ketegasan dalam kesabaran.

Dibutuhkan kesabaran yang super seperti Abu Ubaidah untuk bisa meraih kemenangan yang besar. Kesabaran untuk kebesaran. Itulah cara mengelola sikap optimisme agar menjiwa, mendarahdaging, mensumsum tulang dalam berpikir menang. Kemenangan di alam jiwa, kemenangan di alam nyata.

Begitulah hidup. Lebih bermakna bila fokus pada kualitas tanpa meremehkan kuantitas. Adapun bila kualitas bergabung dengan kuantitas tentu akan menjadi kekuatan super dahsyat. Seperti kejeniusan pikiran seorang pemimpin, bersarang dalam hati yang ikhlas, tegak di atas fisik yang kuat, dan tampak dalam kemuliaan akhlak.

Semoga kita bisa mewujudkannya… dan itu dimulai dari dalam diri setiap ikhwah, kader-kader dakwah dan tarbiyah. Ya Ayyuhalladziinaa aamanuu intanshurullaha yanshurkum wa yutsabbit aqdamakum.

-----
Maraji’:
1. Sepuluh Orang yang Dijamin Masuk Surga -
2. Outliers – Malcolm Gladwell
3. Dari Gerakan ke Negara – Anis Matta
4. Happy Ending full Barokah – Solikhin
5. Azim Premji ‘Billgate Muslim’ dari India – Haris Priyatna


*posted by: Blog PKS PIYUNGAN - Bekerja Untuk Indonesia

Fenomena Kemenangan Islam Politik di Timur Tengah

Oleh: Jusman Dalle*
(Dimuat di Opini Detik.com Edisi 6 Desember 2011)

Terhadap relasi Islam dan politik kotemporer (demokrasi), terdapat dua kutub perspektif diantara para pengamat politik internasional maupun para orientalis. Francis Fukuyama (1992) dan Samuel P Huntington (1997) merupakan dua ahli politik internasional yang berada pada posisi melihat relasi negatif-destruktif antara Islam dan demokrasi. Bagi keduanya, tidak mungkin demokrasi yang lahir dari basis gagasan liberalisme dapat hidup berdampingan dengan Islam yang pada beberapa ajarannya sangat tegas (beberapa pihak menyebutnya konservatif).

Misalnya, dalam demokrasi berdirinya negara bangsa (nation state) merupakan keharusan. Sedangkan dalam pandangan Islam, gagasan persatuan ummat (ummah) merupakan kewajiban utnuk mencegah terjadinya polarisasi di intern umat. Menurut Huntington dan Fukuyama, konsep nation state tentu tidak kohenren dan tidak mungkin dikompromikan dengan ide ummah.

Berbeda dengan kedua rekan senegaranya, John L. Esposito (1996) dari Georgetown University yang puluhan tahun melakukan penelitian terhadap Islam, melihat bahwa Islam yang senafas dengan budaya politik demokratis memberi atmosfer bagi tumbuhnya demorkasi. Bagi Esposito, tradisi ijma atau konsensus bersama dan ijtihad yang diputuskan berdasarkan berbagai pertimbangan dan pandangan di dalam ajaran Islam, merupakan corak dari demokrasi. Senada dengan Esposito, Ahmad Moussalli (2001) yang juga Guru Besar Pemikiran Politik Islam dan Barat, melihat bahwa konsep syura (musyawarah) dan ikhtilaf (perbedaan pandangan) merupakan norma dan nilai demokrasi.

Mengamati kenyataan perkembangan politik di Timur Tengah yang bisa dikatakan sebagai representasi Islam politik, nampaknya pandangan Fukuyama dan Huntington telah dimentahkan. Fakta terakhir soal kemajuan demokrasi di Timur Tengah, adalah berlangsungnya pemilu demokratis di Mesir beberapa hari lalu. Dalam pemilu legislatif itu, kubu Islam politik menguasai 65 persen suara yang terbagi kepada kubu Al Hurriyah wa Al Adalah atau Partai Kebebasan dan Keadilan (FJP) yang berafiliasi ke Ikhwanul Muslimin, menguasai 36,6 persen suara dan 24,4 persen suara lainnya untuk kubu berhaluan Salafi, Partai Al-Nur. Kemenangan Islam politik di Mesir, membuktikan jika paham politik demokrasi masyarakat Mesir jauh dari apa yang dipostulatkan oleh Huntington maupun Fukuyama.

Kebangkitan Islam


Kenyataan politik di Mesir menjadi menarik kita telaah karena merupakan bagian dari rangkaian peristiwa Islam politik di Timur Tengah yang terjadi sejak akhir abad ke 20 yang lalu. Pada tahun 1989 berdiri partai Islam di Aljazair dengan nama FIS atau Front Islamic du Salut atau dalam bahasa Indonesia Front Keselamatan Islam. Pada pemilu 20 Juni 1991, FIS memenangi pemilu setelah meraup 54% suara. Namun karena pihak sekuler tidak menginginkan pemerintahan Islam, maka terjadi kudeta militer yang berakhir dengan pembubaran FIS.

Kenyataan tersebut menjadi pelajaran bagi partai politik Islam yang datang kemudian di berbagai belahan dunia. Diantaranya adalah Adelet ve Kalkinma Partisi (AKP, atau Partai Keadilan dan Pembangunan) di Turki. AKP yang didirikan oleh Recep Tayyip Erdoğan pada tanggal 14 Agustus 2001, sejak tahun pertama menjadi gerakan politik terbesar yang didukung publik di Turki. Pada pemilihan umum tahun 2002 AKP memenangkan dua pertiga kursi di parlemen sehingga berhak membentuk pemerintahan partai tunggal setelah 11 tahun.

AKP tidak secara frontal mengatakan diri sebagai partai Islam, walaupun dalam program-program dan kebijakan politik pemerintahan di bawah Erdogan merupakan artikulasii dari nilai-nilai Islam. Banyak yang meyebut-nyebut jika AKP merupakan representasi dari ideologi politik Ikhwanul Muslimin, mengingat dekatnya hubungan emosional dan spiritual pemimpin AKP dengan organisasi pergerakan Islam terbesar di dunia ini. Sejak kemenangan pada pemilu tahun 2002, AKP masih menjadi kekuatan utama politik di Turki yang juga merupakan negara benua Eropa dan menjadikan masuknya Turki dalam keanggotaan Uni Eropa sebagai agenda utama mereka.

Umat Islam di Palestina, negara yang bergolak akibat perang berkepanjangan dengan Israel, juga tak luput menjadi bagian dari proses gelombang yang disebut oleh Huntington sebagai demokratisasi gelombang ketiga. Adalah Harakah al-Muqawwamatul Islamiyyah atau (HAMAS) yang merupakan partai Islam, memenangi pemilu 2006 lalu. Praktis, kemenangan HAMAS menjadi pukulan telak bagi Barat (utamanya Israel) yang selama ini memback up Fatah yang lebih mudah mereka kendalikan. Tak heran, jika Israel dan AS tidak mengakui pemerintahan Hamas. Standar ganda demorkasi ala Barat.

Pasca Revolusi Arab

Awal tahun 2011, efek domino dari demam demokratisasi yang selama ini dikoar-koarkan oleh Barat, dan tekad untuk keluar dari keterpurukan multidimensi baik ekonomi maupun politik di bawah pemerintah otoriter di Timur Tengah, ibarat bola liar. Memantul ke mana-mana, menjadi irama revolusi. Dari Tunisia, disusul oleh Mesir, Libya dan kini Suriah, kekuatan Islam politik semakin menempati ruang sekaligus mengeliminir penguasa despotik yang menjadi kacung Amerika dan sekutunya.

Tunisia yang sebelumnya diperintah oleh rezim diktator dan koruptif Ben Ali, kini telah beralih ke pemerintahan baru yang Islami. Partai An Nahda menang dalam pemilu 23 Oktober lalu dengan 41,47 persen suara. Pun dengan Partai bentukan Ikhwan memenangi pemilu Mesir pada pemilihan umum tahap pertama di beberapa kota besar. Kemenangan tersebut disebabkan oleh beberapa hal.

Pertama, karena besarnya basis massa Ikhwan yang selama ini memegang posisi strategis pada organisasi kemasyarakatan yang berpengaruh di Mesir. Walaupun tidak beraktifitas politik praktis, akan tetapi Ikhwan tetap bergerak pada ruang-ruang sosial yang bersentuhan dengan masyarakat.

Kedua, tindakan represif (kedzaliman) yang dialami selama 32 tahun rezim diktator Husni Mubarak berkuasa, menyebabkan masyarakat bersimpatik secara emosional. Ini bisa dilihat dari partai Al Wafd yang merupakan partai pemerintah, hanya memperoleh 5 persen suara.

Ketiga, dalam kampanyenya, Al Hurriyah wa Al Adalah tidak menonjolkan simbol-simbol keislaman yang dengan muda dijadikan oleh lawan politiknya sebagai titik lemah dan mengundang resistensi terhadap Barat. Al Hurriyah wa Al Adalah, sepertinya hendak mengadopsi corak politik AKP yang juga diadopsi oleh An Nahda. Tidak menjadikan politik Islam sebagai politik Islamisasi an sich, tetapi melalui kebijakan yang persuasif dengan membuktikan kinerja mereka kepada rakyat. Konsep politik yang implementatif dan subtantif.

Suksesnya gerakan politik Islam menginfiltrasi Timur Tengah, membuat AS dan Israel meradang. Selama ini, keduanya berkepentingan besar di kawasan Timteng. Sebelum revolusi, Tunisia dan Mesir merupakan anak manis yang begitu mudah diatur. Sebagai gerbang yang menempati posisi kunci atas pengaruh AS dan Israel, tanda-tanda beralihnya Mesir ke pemerintahan Islami di bawah Al Hurriyah wa Al Adalah membuat Obama dan Benjamin Netanyahu berfikir keras untuk menjaga eksistensi hegemoninya di kawasan Timur Tengah.

Kekhawatiran AS dan Israel bukan tanpa alasan. Mesir merupakan kawasan strategis bagi resonansi hegemoni AS di Timur Tengah yang kaya akan sumber minyak. Mesir juga merupakan pemasok energi gas ke Israel dengan harga dibawah kesepakatan internasional dan tanpa pajak. Bagi AS, Mesir memiliki daya tawar yang tinggi karena sekitar 2 juta barel minyak mentah disalurkan melalui Terusan Suez yang dikuasai oleh pemerintah Mesir.

Dengan beralihnya kepemerintahan Islam, bisa saja terjadi nasionalisasi atau proyek-proyek bisnis tersebut disetop. Kebijakan yang tentunya akan berpengaruh signifikan terhadap roda perekonomian negara industri sekelas AS dan Israel yang sangat bergantung pada bahan bakar minyak dan gas.

Suksesnya gerakan Islam merebut kekuasaan di beberapa negara, termasuk di Mesir, akan menginspirasi gerakan Islam dibelahan dunia lainnya (khususnya negara-negara non-demokratis di Timur Tengah) untuk menggulirkan gerakan demokratisasi.

Di sisi lain, saat ini krisis masih menghantui Eropa dan Amerika. Efek ganda dari krisis akan terasa jika saja pemerintah baru yang muncul di Timur Tengah tidak lagi tunduk pada kemauan Barat. Alamat berkurangnya pundi-pundi keuangan, serta pasar produk AS dan Eropa sehingga semakin memperburuk keadaan di kedua wilayah tersebut. Akhirnya, pemilu Mesir menjadi tonggak monumenal dari rangkaian etape kebangkitan Islam politik.

Lalu Indonesia?

Pertanyaannya, sebagai negara dengan penduduk Islam terbesar, dan negara yang memiliki posisi strategis baik dari segi geopolitik maupun dari geoekonomi di kawasan Asia Pasifik dan juga di Asia Tenggara, kapan politik Islam bisa menata karut marut wajah negeri ini? Menjadikan nilai-nilai Islam sebagai penuntun dalam melahirkan Indonesia sebagai kekuatan utama ke 5 di dunia pada 2030 sebagaimana prediksi Goldman Sach Inc., maupun Ctandard Chartered Bank.

Adalah koreksi dan sekaligus kontemplasi bagi aktivis ragam partai politik yang menginginkan tegaknya nilai-nilai Islam di Indonesia. Tak ada salahnya belajar dari kemenangan partai-partai di Turki, Palestina, Tunisia dan Mesir. Tentang konsistensi mereka memegang prinsip sejak ditindas oleh rezim masa lalu, namun tidak bergeming walaupun ratusan aktifis ditangkap, dipenjara dan bahkan dibunuh. Partai-partai pemenang pemilu di Timur Tengah, juga secara persuasif mengartikulasikan kebijakan-kebijakan negara yang selaras dengan nilai Islam sehingga bisa mengeliminir resistensi dari masyarakat, sebagaimana dilakukan oleh pemerintahan Erdogan di Turki.

Karakter lain adalah ketulusan bekerja untuk seluruh lapisan masyarakat, walau tidak harus berada di dalam kekuasaan. Ketika masa Husni Mubarak misalnya, para aktivis ikhwan banyak bergerak pada ranah sosial, dan ini sekaligus sebagai modal yang dikemudian hari mereka panen hasilnya.

Dan terakhir, mereka tetap percaya diri dengan nilai-nilai perjuangan yang dibawa walaupun Barat berusaha mengintervensi secara eksternal melalui propaganda media dengan gelombnang stigmatisasi sebagai kelompok Islamis. Propaganda tersebut tak membuat mereka berubah warna menjadi partai tanpa identitas. Wallahu’alam





*)http://jusman-dalle.blogspot.com/2011/12/fenomena-kemenangan-islam-politik-di.html

Tuesday, 29 November 2011

Asuransi,Jangan Selalu Berharap Untung


Asuransi bukanlah sebuah hal yang aneh lagi kita dengar, meski mungkin jumlah masyarakat yang menggunakan jasa asuransi di Negara kita masih jauh di bandingkan Negara-negara maju. Salah satu ketertarikan seseorang ikut asuransi adalah untuk memberikan rasa aman bagi dirinya jika sewaktu-waktu terjadi hal yang diluar dugaannya, atau memang hal yang sudah pasti terjadi seperti hari tua, sakit,pensiun. Intinya menginginkan kemudahan disaat kesulitan datang, sebuah cara berpikir yang bagus menurut saya dalam menatap masa depan.

Namun, tak selamanya ikut asuransi harus untung dan harus mutlak mendapat keuntungan, klo niat sepeti itu bukan asuransi lagi namanya,berbisnis. Seperti di awal tadi, asuransi hanyalah sebagai pelindung ketika kita sewaktu-waktu mendapat hal yang diluar perkiraan kita. Ikut sebuah asuransi pasti kita sudah tau hal apa saja yang kita peroleh sebagai nasabah, tak mungkin seorang ikut asuransi menyetujuinya tanpa mengetahui apa yang akan ia dapakan dari asuransi tersebut.

Tapi memang dasarnya kita yang ingin selalu ingin diuntungkan, ternyata banyak nasabah mencari jalan pintas dengan menipu. berharap ingin selalu diuntungkan. jika seandainya semua nasabah Asuransi berpikiran ingin semua diuntungkan,rugi dong perusahaan asuransinya.

Seperti pagi ini, saya ditemui seorang pasien yang dirawat sekitar 3 hari yang lalu dengan diare dehidrasi sedang, hari ini datang lagi untuk meminta diisikan blanko klaim asuransinya. Sebelum saya mulai mengisi blanko tersebut ia meminta tolong agar saya membuat lama rawatannya seminggu, padahal saya hanya merawatnya selama satu hari.

“ maaf bu,saya gak bisa, berapa hari dirawat ya selama itu yang akan saya buat dalam blanko ini.”

“begini pak, masa saya Cuma dapat klaim kamar aja dari asuransi ini, berarti obat dan yang lain gak ditanggung mereka dong pak, saya kan rugi pak , sudah lebih saya setahun ikut asuransi ini, saya Cuma dapat 250 ribu.” Jelasnya

“gini bu, bukan saya gak mau bantu, tapi kalau sesuai dengan apa yang sebenarnya saya insyaallah akan tulis.”

“minta tolong bangaatlah pak, masa gak mau nolong saya pak, saya pikir mereka akan menanggung semua pembiayaan di rumah sakit ini, gak apa apa kok pak.”

“iya, menurut ibu gak apa-apa, menurut Tuhan saya?”

“gini ja bu, kalau ibu memang mau saya isikan blanko asuransinya biar saya isi,tapi sesuai dengan yang dirawat disini. Dan gak mungkin juga ibu gak tau peraturannya sebelum ikut asuransi ini kan?.”

“tolonglah pak,rugiloh saya pak”

“lebih rugi saya kalau saya isi bu,ibu dapat duitnya saya dapat dosanya.”

Akhirnya singkat cerita saya tetap tidak mau mengisi kalau menambahi hari rawatannya meski satu hari.

Asuransi memang bagus, tapi jangan berpikiran selamanya kita ingin di untungkan.

Saturday, 26 November 2011

Preman Juga Manusia


Tiap kali saya bersihkan lukanya , setiap itu juga ia berteriak "ampuuun maaaaak eee...ampuun mak eeeee', saya berrsihkan lukanya lagi......" apuni saya Tuhaaaaaaan,,,ampun ya Allahh...". mendengar nada suaranya yang meraung-raung seperti itu saya jadi sakit perut menahan tawa. padahal kemarin anak kecil berumur 10 tahun datang dengan fraktur femur kanan dan kirinya biasa aja, dia hanya menangis ketika kami memasang spalk.
Laki-laki 30 tahun ini ,masih saja meraung-raung di IGD minta ampun sama mak nya.."ampun mak e..ampun mak eeeeeeee.". Tato di dadanya sekilas menggambarkan ia sangat sangar sebelum kecelakaan motor tadi dan masuk ke IGD. Saya tanya laki-laki disebelahnya yang ternyata adeknya, adeknya juga senyum-senyum ketika abangnya teriak-teriak mak e....
"kerjaan abangmu apa?"
"Preman Pasar malam pak, kecelakaan ini kan karena dia baru pulang dari pasar malam tadi, dia keamanannya disana"
"ih..kok preman pasar malam cengeng kayak gini seh pak" celoteh saya
adeknya ikutan cekikikan....^_^
"rasailah..kau ni cengeng kali, orang sudah bantu kau masih teriak teriak ja"
perawat IGD kemudian mengolesi luka-luka lecet dengan salf antibiotik.
"pelan-pelaaan bu, sakiiiiittttt.....ampuuun mak eeee....ampuni saya Tuhann..O mak eeee..."
"Ih ..bapak neh, masa preman kayak gini" celoteh perawat
"Preman Juga manusia bu......"
ha ha ha ha.....sakit perut rasanya menahan ketawa di IGD

pernah juga dulu dapat pasien Asma di IGD, ternyata juga berprofesi sebagai preman pasar, bunyi nafasnya sabil diiringi ringisan minta tolong..Tolong Tuhaaann...Toloooong...
jadi berpikir, ternyata klo sudah situasi kayak gini baru ingat bener sama Tuhan...
tapi memang iya juga seh ada benarnya " Preman Juga Manusia...." he he he he ^_^

Friday, 25 November 2011

Buku Ahmadinejad Menggugat!

Buku Ahmadinejad Menggugat! merupakan buku yang sangat layak untuk dibaca, Buku terbitan Zahra Publishing House ini memiliki 346 halaman yang merupakan terjemahan langsung dari hasil diskusi antara Akademisi universitas Columbia dengan Ahmadinejad saat di undang ke Universitas Tersebut, serta berisikan surat-surat permintaan maaf dari warga Amerika kepada presiden Iran tersebut atas perlakuan kasar dan tidak terhormat yang dilakukan oleh rektor dan beberapa kalangan akademisi universitas Columbia.
diskusi yang sangat menarik dan sikap Ahmadinejad yang sangat tenang dalam menjawab beberapa lontaran pertanyaan pedas dari akademisi.

ini penggalan jawaban AD tentang pertanyaan seorang Akademisi di Univ.Columbia tentang masalah perempuan di Iran
Perempuan Iran terhalangi hak-hak dasar Manusiawinya,Kenapa demikian?
"Kebebasan di Iran adalah kebebasan hakiki, rakyat Iran hidup dalam kemerdekaan dan perempuan Iran berada pada level kebebasan tertinggi. Dua orang pembantu presiden adalah perempuan. Di level tinggi dewan ahli parlemen dan negara,diberbagai fakta di Universitas, para perempuan memiliki peran aktif.di Bidang Bioteknologi dan seluruh aktifitas teknologi,ratusan ilmuwan perempuan sibuk berkarya."
Mungkin anda kira perempuan itu adalah sebatas fisik, menjadi perempuan bukanlahbetuk fisik, perempuan adalah ciptaan terbaik Tuhan.Mereka adalah manifestasi kelembutan dan keindahan di mana Tuhan telah menganugrahkan itu kepada mereka, mereka di Iran sangat di Hormati. Di Iran,bila seorang dikaruniai seorang anak perempuan,10 kali lebih bahagia dari memiliki anak laki-laki.Mereka banyak menunaikan apa yang seharusnya menjadi tanggungjawab laki-laki. mereka adalah laki-laki masa depan,dalam kebudayaan kepahlawanan Iran,laki-laki dan perempuan senantiasa mencium tangan bunda mereka sebagai tanda penghormatan bagi kaum perempuan,dan kami bangga terhadap kebudayaan ini."

bagaimana jawaban2 AD atas pertanyaan-pertanyaan lainnya?, bagaimana isi surat-surat permintaan maaf dari warga Amerika kepada Ahmadinejad atas perlakuan sebagian pihak Universitas Columbia dan rektor Universitas Columbia?

buku yang layak anda baca....^_^

Thursday, 24 November 2011

Anak Zaman Sekarang.....


Kaki sudah mulai terasa pegal, bolak-balik sampai ke lantai dua sudah berapa kali pagi ini. belum lagi pasien yang baru masuk dan pasien yang masih menunggu di IGD. ditambah lagi pasien yang menangis2 buat minta digugurkan kandungan anaknya ( emang kita ni cowok apaan....) tapi untunglah visite sudah selesai.keluarga pasien masih sesenggukan di depan saya, mengemukakan berbagai alasan mereka untuk menggugukan janin tersebt, berkilah sampai berbusa pun ngomong ke saya,saya pribadi tak akan mau melakukannya, hasil USG menunjukkan janin tersebut sudah berumur 19 minggu dan terlihat sudah lengkap organnya.
"Tolonglah pak, kasihan anak saya pak dia masih kelas 3 SMA, kalau dia depresi ntar berpikir macam-macam, malah membunuh dia dan anaknya...."
" maaf ya bu, saya gak mungkin melakukan itu, ibu kasih nasehatlah anaknya biar dia menjaga janin tersebut"
"kami akan mendapat malu pak, bapak bayi itu ntah sudah kemana"
anaknya hanya sesenggukan menahan tangis disebelahnya. (dasar neh orang pas enaknya gak mikir klo kayak gini, ...)
" klo anak saya itu sudah 19 tahun saya besarkan saya pelihara, klo yang dikandungannya saya gak kenal dia, gugurkan aja pak"
egois bener neh orang.
" maaf ya bu, saya gak bisa ,mungkin ada dokter lain yang mau melakukan silahkan cari, tapi saran saya janinnya dipertahankan, anaknya dibesarkan dan didik, klo digugurkan sudahlah dapat dosa zina dapat lagi nanti dosa membunuh bu"
"kami jamin pak, gak bakal ada yang tau, resikonya kami yang nanggung semua"
emangnya dipikir mereka neh saya gak BerTuhan.....ckckckckck

kemudian mereka merengek2 lagi ke salah satu dokter spesialis yang meng USG kehamilan tersebut.....mantap dapat ceramah panjang lebar lagi neh orang....
"bayinya gak punya salah bu, itu semua salah yang melakukannya. orang tua juga sebenarnya berperan bu, klo gak orang tuanya yang salah didik dan pergaulannya gak diawasi, ya memang anaknya yang gak bisa diatur bu, sekarang sudah terima resiko aja."

ntah berapa lagi anak2 SMA di luar sana yang mengalami nasib yang sama, melakukan hubungan seks di luar nikah, hamil kemudian menggugurkan kandungannya. prihatin sekali dengan kondisi seperti ini.

memang anak-anak zaman sekarang......ckckckckck

Wednesday, 23 November 2011

Hati2 Dukun Malpraktek!!!


Banyaknya kasus dukun malpraktek sudah sangat sering ditemukan, namun tak satupun kasusnya yang diangkat ke permukaan. Saya sendiri belum pernah mendengar kasus kelurga pasien menuntut dukun gara-gara salah diagnosis, dukun salah obat, paling-paling yang sering dituntut adalah dukun cabul ^_^. mungkin memang karena tidak adanya undang-undang yang bisa menjerat mereka. ntahlah yang penting kasus-kasus malpraktek dukun sangat sering ditemui. misalnya pasien patah tulang akhirnya cacat permanen, atau pasien patah tulang terbuka akhirnya kaki membusuk dan diamputasi dan banyak lagi kasus lainnya.seperti kasus yang saya temui hari ini, begini ceritanya.....
Usianya 38 tahun, masuk IGD kemarin sore di temani suaminya beserta seorang perawat yang mengantar. tubuhnya terbaring lemah tak berdaya, anggota gerak sebelah kanan sama sekali tidak bisa lagi di gerakkan, sedangkan anggota gerak sebelah kiri masih bisa digerakkan sedikit. kesadarannya masih bagus, cuma ia tidak mampu membuka matanya karena merasa kepalanya sangat sakit sekali. saya menanyakan tentang riwayat penyakit ibu tersebut. ternyata dari hasil anamnesa sudah di diagnosis menderita tumor otak di padang dan dianjurkan operasi.hasil scan 2 bulan yang lalu juga menerangkan bahwa ditemukannya massa di Lobus Intra temporal kiri dengan edema luas. yang namanya manusia dokter juga tidak mungkin bisa menjanjikan kesembuhan 100% kepada pasien ( saya jamin siapapun dokternya tidak akan bisa menjamin kesembuhan 100%), dan juga tidak bisa memastikan berhasil tidaknya operasi apalagi ini bukan operasi biasa. karena alasan tersebut keluarga akhirnya memutuskan untuk membawa keluar dari salah satu rumah sakit di padang dan akhirnya memilih ke jawa, beda sekali dengan iklan para dukun dan para normal "bisa menyembuhkan segala penyakit", " dijamin sembuh"..benar-benar kepedean jadi manusia. Di Jawa pasien di bawa berobat katanya ke seorang kiyai. dengan mantra dan jampi2 tak jelas setelah beberapa minggu berobat ke sang Kyai, kesimpulannya kata kyai tersebut bahwa Tumor tersebut sudah ia angkat dan pasien hanya tinggal menunggu pemulihan saja ( kereeen kan...kalah Spesialis Bedah Syaraf....^_^). Mungkin beginilah orang awam, dengan kesimpulan dari kyai tersebut keluarga pasienpun langsung percaya bahwa tumor tersebut sudah diangkat. akhirnya dibawa kembali ke Sumatera.

Pasien pun saya konsulkan ke spesialis penyakit syaraf , tetap sama anjuran dokter tersebut bahwa jalan satu satunya adalah operasi. tapi keluarga pasien tetap bersikeras kalau tumor tersebut sudah diangkat Kyai dan kondisi sekarang hanya tinggal pemulihan.
secara logika saja jika seandainya tumor tersebut sudah benar2 hilang dan diangkat oleh Kyai tersebut, tidak mungkin kondisinya bertambah buruk, pasti pasiennya sudah membaik.
keluarga akhirnya minta di scan ulang untuk memastikan. spesialis syaraf tetap menyarankan agar langsung saja di bawa kembali ke Padang dan tidak usah scan ulang, karena pasti hasilnya sama saja dan malah mungkin bisa jadi makin parah. tetap keluarga minta di scan lagi.
singkat cerita hasil scan keluar dan hasilnya malah Tumor bertambah besar dan edema bertambah luas.

Saya mulai berpikir, klo kayak gini bisa gak sang kyai dituntut malpraktek? coba saja seandainya yang melakukan itu adalah dokter pasti media massa sudah heboh.padahal disini jelas pasien sudah dirugikan dan sudah dibodohi, mana mungkin dengan jampi2 tumor bisa hilang sekejap. kalau ada dukun seperti itu, betapa banyak pasien tumor dan kanker di Negeri ini yang sudah terbantu dan tidak perlu lagi mengeluarkan biaya besar untuk operasi. Beban Negara berkurang.
Sebagai awam kita juga seharusnya memainkan logika kita, jangan menelan mentah-mentah apa yang dikatakan baik itu oleh dokter atau dukun atau pun kyai.
tapi bukan Indonesia kalau masyarakatnya gak percaya Dukun. lihat saja pasien yang berobat ke Ponari, mereka rela antrian panjang demi mendapat air bekas celupan tangannya, ntah si Ponari sudah cebok apa belum, air itu pula yang diminumkan ke pasien.
Tapi pasien tidak juga bisa kita salahkan kenapa harus membawa ke dukun, terkadang mereka terkendala biaya berobat ke petugas kesehatan, berobat ke dukun cukup infak seikhlasnya ya langsung dapat pelayanan, sedangkan berobat ke petugas medis , sudahlah ribet, bayar mahal lagi. mereka tak juga bisa kita salahkan kenapa terlalu percaya dengan pendapat dukun, memang pendidikan mereka sendiri banyak yang tidak tamat Sekolah Dasar bahkan banyak yang tak pernah sekolah. pernah saya minta tanda tangan dari keluarga pasien, ia menjawab" saya bodoh pak,saya gak pernah sekolah, tak bisa tantangan pak" miriskan mendengarnya?.
Hayo ini tanggung jawab siapa???
Mana program wajib belajar 9 Tahunnya? Mana program berobat gratisnya? ^_^

Tapi Tetap hati-hati jika Dukun Malpraktek !!!!