Sunday, 13 May 2012

Mummy (Wamena)

Sentani, Jayapura

Bandara Sentani, Senin, 16 April 2012
Ini adalah hari ke 6 saya di Jayapura bersama rombongan kawan –kawan dokter PTT Kab.Yahukimo , sebagian besar sudah menuju Kabupaten penempatan masing-masing. Sekarang yang tinggal di Mess Bapelkes adalah kawan2 rombongan yang ke Pegunungan Bintang dan Puncak Jaya. Jadwal keberangkatan pesawat Trigana Air sepertinya akan diundur hingga jam 14.00 WIT  hari ini, diundur beberapa jam dari yang tertulis di tiket pesawat 11;35 WIT.
Dekai, saya sendiri belum tahu kondisi disana apalagi Puskesmas dimana saya diletakkan nanti yaitu di Distrik Langda, tapi kemungkinan besar tidak akan ada listrik , tidak akan ada sinyal ,tapi saya yakin di sana akan ada Harapan untuk yang lebih baik. Saat ditanya kawan satu rombongan apakah menyesal memilih PTT ini, insyallah saya tidak pernah menyesal karena ini adalah pilihan saya, saya sudah mantap memilih disini, dari awal saya sudah tahu bakal ditempatkan di daerah yang sangat terpencil. Ada beberapa kawan dalam rombongan ini yang menyesal telah memilih disini, saya sarankan untuk menikmati saja, setahun itu bukanlah waktu yang lama, berikan yang terbaik untuk masyarakat disana. Mana tau kedatangan kita ini adalah hasil dari Do’a2 masyarakat di sana yang terkabul, bayangkan betapa beruntungnya ketika kitalah yang terpilih dalam Do’a itu.
Sungguh saya sangat bersyukur bisa menginjakkan kaki di tanah Papua, hal yang saya cita-citakan dari dulu, berarti satu lagi cita2 saya terealisasi dan akan saya coret dari beberapa deretan target ke depan. Allah begitu memudahkan jalan bagi saya.
Kehangatan sambutan kawan-kawan ikhwah Jayapura,sangat berkesan sekali dan sangat bahagia bisa mengenal antum semua, terimakasih sudah banyak membantu selama di Jayapura. Di tempat minoritas ini ternyata banyak saudara-saudara saya yang begitu semangat di Jayapura ini , di tanah Papua ini.
Bisa jadi ini adalah terakhir saya dalam setahun ke depan menginjakkan Bandara Sentani, atau bisa jadi tak pernah lagi. Saya ikhlas insyaallah. Niat ini semoga tetap lurus untuk membantu mereka di pedalaman sana. Salam semangat dari saya .
Terakhir terimakasih banyak buat keluarga saya, seorang Ayah yang telah mengikhlaskan saya dalam pengabdian ini, saya yakin memang ini sesuatu yang sangat berat .semoga suatu saat kita bisa berkumpul kembali. Miss u dad and my big Family

Tuesday, 3 April 2012

PTT ke Yahukimo,Papua


Banyak yang tidak percaya kalau saya benar-benar akan ke Papua.
"hah, iya bang abang ke Papua?".
"benar tu antum mau ke Papua?."
bahkan orang tua sendiri masih setengah kurang percaya mengenai kelulusan saya PTT di Kabupaten Yahukimo Papua. sewaktu minggu kemarin izin pamitan untuk berangkat, orang tua bilang " Padahal Ayah sudah do'ain biar gak lulus." he he he ^_^
setelah setahun bekerja di Rumah Sakit swasta dengan segala suka dukanya, saatnya saya melanjutkan mimpi saya untuk PTT ke daerah sangat terpencil. alhamdulillah pengumuman tanggal 17 Maret kemarin saya lulus dan diterima di Kabupaten Yahukimo Papua. hanya modal nekad, saya tidak mengenal daerah itu sama sekali, perjalanan saya yang paling jauh masih di sekitar pulau Sumatera. tapi memang saya sangat suka berpetualang dari dulu. bayangan di benak saya bisa mengajar dan berbagi ilmu dengan anak-anak di Pedalaman adalah sesuatu yang luar biasa. membantu dan memberikan pelayanan kesehatan bagi mereka yang susah untuk memperoleh pelayanan kesehatan adalah sebuah pengabdian yang harus saya jalani sebagai dokter .
insyallah tanggal 9 April nanti saya akan berangkat ke sana setelah sebelumnya di undur dari tanggal 2 yang seharusnya. semoga bisa memberikan yang terbaik untuk masyarakat di sana.

Friday, 17 February 2012

Bersama BSMR Ar-Risalah Lagi....


Untuk memantapkan terus pengetahuan anggota Bulan Sabit Merah Remaja (BSMR) sesuai dengan salah satu tujuan dari BSMR yaitu Membangun keberanian, kesadaran dan kepedulian remaja terhadap tugas-tugas kemanusiaan, maka hari ini kembali agenda rutin BSMR diangkatkan di Perguruan Ar-Risalah dengan 59 peserta Putri. Materi yang disampaikan kali ini adalah tentang Keajaiban Tubuh Manusia dengan pemateri dr. Nana Liana dan ditemani beberapa orang Relawan Medis lainnya dari BSMI Cabang Padang.

Antusias anggota BSMR sangat dirasakan sekali saat materi disampaikan, beberapa dari peserta pun bertanya tentang materi yang disampaikan. Pada pertemuan sebelumnya satu minggu yang lalu anggota BSMR diperkenalkan tentang keBSMRan, mengenal bagaimana tentang Bulan Sabit Merah Remaja, materi ini disampaikan lagi karena semakin banyaknya anggota baru yang bergabung dengan BSMR.

Di BSMR kita juga akan memberikan materi-materi tentang P3K agar anggota BSMR mampu melakukan pertolongan pertama baik di keluarga,di sekolah maupun dilingkungannya sendiri, ada juga materi tentang Manajemen Bencana Alam agar Anggota BSMR siap bila suatu saat diperlukan untuk membantu korban bencana alam, Materi seperti Survival , Jelajah, Navigasi dan keterampilan lainnya juga akan diberikan kepada anggota BSMR dan materi yang sangat spesial adalah tentang kedokteran Islam agar semangat adek-adek peserta BSMR semakin bertambah dan lebih mengenal tentang kedokteran Islam.

Ibnu sina Ibnu Sina Baru selamat berjuan. Salam Kemanusiaan

Wednesday, 15 February 2012

PELATIHAN RJP BULAN SABIT MERAH REMAJA


Minggu, 5 Februari 2012 kembali Bulan Sabit Merah Indonesia Cabang Padang memberikan pelatihan buat adek- adek Bulan Sabit Merah Remaja (BSMR). Peserta dari pelatihan ini sangat antusias menerima materi dari kakak- kakak Pembina BSMR. Adapun Pembina yang ikut pada pelatihan kali ini adalah dr.Mukri Nasution, dr. Eldi Sauma sekaligus sebagai coordinator BSMR Sumatera Barat dan Dokter Muda Benny Antama Syant. Sesuai dengan tujuan dari BSMR ini sendiri yaitu untuk Membangun keberanian, kesadaran dan kepedulian remaja terhadap tugas-tugas kemanusiaan, juga sebagai tempat untuk menambah wawasan remaja di bidang kesehatan . maka materi kali ini yang diberikan adalah materi bantuan hidup dasar yaitu resusitasi jantung paru . sudah selayaknya sejak dini kita ajarkan kepada generasi muda bagaimana cara-cara pertolongan pertama, sehingga nantinya ketika mereka bertemu dengan kasus seperti itu baik di rumah maupun dilingkungannya mereka bisa membantu. Karena kita ketehui sendiri Resusitasi Jantung paru adalah keterampilan yang seharusnya dimiliki siapapun baik medis maupun non medis.

Para peserta sangat antusias untuk materi RJP ini, mereka juga diberikan kesempaan untuk mencobakan kepada teman masing-masing. Acara ini dilakukan dua sesi, sesi pertama untuk anggota BSMR Putra yaitu dari jam 10.00 WIB -12.30 WIB sedang kan bagi anggota BSMR Putra dilaksanakan di sesi kedua dari pukul 14.00 WIB- 16.00 WIB. Sehingga harapan kita dengan materi ini adek-adek BSMR nanti bisa menolong baik keluarga ataupun masyarakat ketika diperlukan.

Adapun pelatihan BSMR di Sekolah SMP IT Insan Cendikia Payakumbuh ini telah rutin dilaksanakan sekali dalam sebulan . adapun materi2 yang telah diberikan adalah materi tentang kebulansabitmerahan, materi P3K,materi Kepemimpinan, Tanggap Darurat bencana, Kedokteran Islam, dan beberapa materi lain yang dibutuhkan. Semoga dengan BSMR ini anggota semakin terasah kepeduliannya terhadap sesama. Care for life !!!



Monday, 12 December 2011

Bersama BSMR (Bulan Sabit Merah Remaja)

Minggu 11 Desember 2011,Kembali saya berdiri di depan kelas ini setelah sekian lama tak bertatap muka dengan mereka, berbagi sedikit ilmu yang saya miliki untuk adek-adek BSMR SMP IT Cendikia. antusias mereka dalam mengikuti kegiatan sungguh luar biasa. hari ini saya harus mengisi di kelas Putra dan kelas Putri. ber
beda mungkin dengan setahun yang lalu saat masih ada dr. Adi dan dr. Rio disini, juga

kegiatan2 baksos bisa sering kami angkatkan sampai ke pelosok-pelosok, bisa sedikit ringan dengan seorang pembina di kelas putra dan satu pembina lagi di kelas putri. sendiri seperti ini dengan terpaksa harus mengulang materi yang sama di kelas yang berbeda. ah, tapi gak apalah semua ini harus dinikmati, bertemu dengan wajah-wajah mereka saja sudah menghilangkan penat. keceriaan mereka terlihat saat saya datang......." dokter datang..dokter datang..." sambil menyalam dan mencium tangan. " pak dokter kok lama gak datang mengisi BSMR..."...hayoo..jadi bingung jawabnya..., insyaallah ke depannya kita akan ak
tifkan lagi acara ini.
mereka juga berebut bertanya saat dikasih kesempatan untuk diskusi tentang materi yang diberikan.
berharap ke depannya BSMI
bisa lebih banyak lagi masuk ke sekolah-sekolah umum,semoga kegagalan kita saat memasukkan proposal-proposal pendirian BSMR ke sekolah2 di kota Padang dengan berbagai macam penolakan yang kita terima tidak menyurutkan langkah kita untuk terus berusaha memasukkan BSMR ke
sekolah-sekolah umum. tak akan manis perjalanan ini jika tak ada rintangan yang kita hadapi, tak akan selalu mulus apa yang kita inginkan, yang terpenting semangat itu tidak pernah padam dari dalam diri kita ,semangat untuk sebuah perubahan. agar semakin tersosialisasikan lambang ini. mendidik generasi-generasi baru, membangkitkan semangat Avicena-Avicena baru dalam diri mereka.


keep spirit!!!

( Hayo..sapa yang mau gabung dalam pembinaan BSMR?? ^_^ )

Sunday, 11 December 2011

Doa Rabithah: Doa di Sepanjang Mihwar Dakwah

Oleh : Cahyadi Takariawan
Siang tadi (Sabtu 3 Desember 2011), saya mengikuti acara Tatsqif Kader Dakwah di Markaz Dakwah Gambiran, Yogyakarta. Ustadz Tulus Musthafa menyampaikan tausiyah yang sangat mengena. Penjagaan terhadap kader pada era dakwah di ranah publik harus semakin dikuatkan. Sarananya, kata beliau, telah terangkum dalam Doa Rabithah yang rutin kita baca setiap pagi dan petang.

Sembari mengikuti tausiyah beliau, ingatan saya menerawang jauh ke belakang.....

Suatu masa, di era 1980-an.....

Tigapuluh tahun yang lalu, beberapa orang aktivis dakwah, tidak banyak, hanya beberapa orang saja, duduk melingkar dalam sebuah majelis. Di ruangan yang sempit, diterangi lampu temaram, duduk bersila di atas tikar tua, khusyu’, khidmat, tawadhu’.

Tidak banyak, hanya beberapa orang saja. Berbincang membelah kesunyian, pelan-pelan, tidak berisik. Semua datang dengan berjalan kaki, naik sepeda tua, atau naik kendaraan umum saja. Pakaian mereka sangat sederhana, apa adanya, bersahaja. Hati mereka sangat mulia.

Duapuluh tahun yang lalu, beberapa orang itu bercita-cita tentang kejayaan sebuah peradaban. Cita-cita besar, mengubah keadaan, menciptakan peradaban mulia. Wajah mereka tampak teduh, air wudhu telah membersihkan jiwa dan dada mereka. Tidak ada yang berbicara tentang fasilitas, materi, jabatan dan kekuasaan.

Mengakhiri majelis, mereka menundukkan wajah. Tunduk dalam kekhusyukan, larut dalam kehangatan persaudaraan, hanyut dalam samudera kecintaah. Doa Rabithah mereka lantunkan. Syahdu, menusuk kalbu.

Air mata berlinang, bercucuran. Akankah segelintir orang ini akan bisa mengubah keadaan ? Akan beberapa orang ini akan mampu menciptakan perubahan ? Hanya Allah yang mengetahui jawaban semua pertanyaan. Doa telah dimunajatkan, dari hati yang paling dalam :

“Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui bahwa hati-hati ini telah berhimpun dalam cinta pada-Mu, telah berjumpa dalam ketaatan kepada-Mu, telah bersatu dalam dakwah kepada-Mu, telah berpadu dalam membela syari’at-Mu”.

“Maka kokohkanlah ya Allah, ikatannya, kekalkanlah kasih sayangnya, tunjukilah jalan-jalannya, penuhilah hati-hati ini dengan cahaya-Mu yang tiada pernah pudar”.

“Lapangkanlah dada kami dengan limpahan keimanan kepada-Mu dan keindahan tawakkal kepada-Mu. Nyalakan hati kami dengan ma’rifat kepada-Mu, matikanlah kami dalam syahid di jalan-Mu”.

“Sesungguhnya Engkaulah sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong. Amin”.


Sejuk, menyusup sampai ke tulang, mengalir dalam darah. Meresap hingga ke sumsum dan seluruh sendi-sendi tubuh. Merekapun berdiri, berangkulan, bersalaman dengan erat. Masing-masing meninggalkan ruangan. Satu per satu. Hening, tenang. Tidak ada kegaduhan dan kebisingan.

Masa bergerak, ke era 1990-an

Sekumpulan aktivis dakwah, cukup banyak jumlahnya, berkumpul dalam sebuah ruangan yang cukup luas. Ruang itu milik sebuah Yayasan, yang disewa untuk kantor dan tempat beraktivitas. Mampu menampung hingga seratus orang. Semua duduk lesehan, di atas karpet. Lampu cukup terang untuk memberikan kecerahan ruang.

Sebuah Daurah Tarqiyah dilakukan. Para muwajih silih berganti datang memberikan arahan. Taujih para masyayikh di seputar urgensi bersosialisasi ke tengah kehidupan masyarakat, berinteraksi dengan tokoh-tokoh publik, memperluas jaringan kemasyarakatan dengan pendekatan personal dan kelembagaan. Semua aktivis diarahkan untuk membuka diri dan berkiprah secara luas di tengah masyarakat. Membangun jaringan sosial dan membentuk ketokohan sosial.

Sekumpulan aktivis dakwah, jumlahnya cukup banyak, datang dengan mengendarai sepeda motor, beberapa tampak mengendarai mobil Carry dan Kijang tua. Wajah mereka bersih, bersinar. Penampilan mereka tampak intelek, namun bersahaja. Sebagian berbaju batik, sebagian lainnya berpenampilan rapi dengan setelan kemeja dan celana yang serasi.

Acara berlangsung khidmat dan sederhana. Namun sangat sarat muatan makna. Sebuah keyakinan semakin terhujamkan dalam jiwa, bahwa kemenangan dekat waktunya. Kader dakwah terus bertambah, aktivitas dakwah semakin melimpah ruah. Semua optimis dengan perkembangan dakwah.

Usai acara ditutup dengan doa. Hati mereka khusyu’, jiwa mereka tawadhu’. Sekumpulan aktivis dakwah, cukup banyak jumlah mereka, menengadahkan tangan, sepenuh harapan dan keyakinan. Munajat sepenuh kesadaran :

“Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui bahwa hati-hati ini telah berhimpun dalam cinta pada-Mu, telah berjumpa dalam ketaatan kepada-Mu, telah bersatu dalam dakwah kepada-Mu, telah berpadu dalam membela syari’at-Mu”.

“Maka kokohkanlah ya Allah, ikatannya, kekalkanlah kasih sayangnya, tunjukilah jalan-jalannya, penuhilah hati-hati ini dengan cahaya-Mu yang tiada pernah pudar”.

“Lapangkanlah dada kami dengan limpahan keimanan kepada-Mu dan keindahan tawakkal kepada-Mu. Nyalakan hati kami dengan ma’rifat kepada-Mu, matikanlah kami dalam syahid di jalan-Mu”.

“Sesungguhnya Engkaulah sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong. Amin”.
Mereka berdiri, berangkulan, bersalaman dengan erat dan hangat. Hati mereka tulus, bekerja di jalan kebenaran, pasti Allah akan memberikan jalan kemudahan. Doa Rabithah mengikat hati-hati mereka, semakin kuat, semakin erat.

Perlahan mereka meninggalkan ruangan, menuju tempat beraktivitas masing-masing. Khidmat, hening, namun tetap terpancar wajah yang cerah dan harapan yang terang benderang.

Masa terus mengalir, sampai ke era 2000-an....

Para aktivis dakwah berkumpul, jumlah mereka cukup banyak. Memenuhi ruangan ber-AC, sebuah gedung pertemuan yang disewa untuk kegiatan. Diterangi lampu terang benderang, dengan sound system yang memadai, dan tata ruang yang tampak formal namun indah. Tampak bendera berkibar dimana-mana, dan sejumlah spanduk ucapan selamat datang kepada peserta dipasang indah di berbagai ruas jalan hingga memasuki ruangan.

Sebuah kegiatan koordinasi digelar untuk mempersiapkan perhelatan politik tingkat nasional. Para aktivis datang dengan sepeda motor dan mobil-mobil yang tampak memadati tempat parkir. Mereka hadir dengan mengenakan kostum yang seragam, bertuliskan kalimat dan bergambarkan lambang partai. Di depan ruang, tampak beberapa aktivis berseragam khas, menjaga keamanan acara.

Para aktivis dakwah berkumpul, jumlah mereka cukup banyak. Mereka duduk berkursi, tampak rapi. Pakaian mereka formal dan bersih, sebagian tampak mengenakan jas dan dasi, bersepatu hitam mengkilap. Sebagian datang dengan protokoler, karena konsekuensi sebagai pejabat publik. Ada pengawal, ada ajudan, ada sopir, dan mobil dinas.

Para qiyadah hadir memberikan arahan dan taklimat, sesekali waktu disambut gegap gempita pekik takbir membahana. Rencana Strategis (Renstra) dicanangkan, program kerja digariskan, rancangan kegiatan telah diputuskan, para kader siap melaksanakan seluruh keputusan. Acara berlangsung meriah, diselingi hiburan grup nasyid yang tampil dengan penuh semangat.

Acara selesai, diakhiri dengan doa. Seorang petugas maju ke mimbar, memimpin doa, munajat kepada Allah dengan kerendahan hati dan sepenuh keyakinan akan dikabulkan. Doa pun diumandangkan :

“Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui bahwa hati-hati ini telah berhimpun dalam cinta pada-Mu, telah berjumpa dalam ketaatan kepada-Mu, telah bersatu dalam dakwah kepada-Mu, telah berpadu dalam membela syari’at-Mu”.

“Maka kokohkanlah ya Allah, ikatannya, kekalkanlah kasih sayangnya, tunjukilah jalan-jalannya, penuhilah hati-hati ini dengan cahaya-Mu yang tiada pernah pudar”.

“Lapangkanlah dada kami dengan limpahan keimanan kepada-Mu dan keindahan tawakkal kepada-Mu. Nyalakan hati kami dengan ma’rifat kepada-Mu, matikanlah kami dalam syahid di jalan-Mu”.

“Sesungguhnya Engkaulah sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong. Amin”.

Acara resmi ditutup. Para aktivis berdiri, berjabat tangan, meninggalkan ruangan dengan khidmat. Terdengar kebisingan suara sepeda motor dan mobil yang mesinnya dihidupkan. Sepeninggal mereka, tampak panitia sibuk membereskan ruangan.

Masa cepat bergulir, hingga di era 2010-an.....

Para aktivis dakwah berkumpul, jumlah mereka sangat banyak. Harus menyediakan ruangan yang sangat besar untuk menampung jumlah tersebut. Ruang kantor Yayasan sudah tidak bisa menampung, ruang pertemuan yang sepuluh tahun lalu digunakan, sekarang sudah tampak terlampau kecil. Harus menyewa gedung pertemuan yang memiliki hall besar agar menampung antusias para aktivis dari berbagai daerah untuk datang.

Para aktivis dakwah berkumpul, jumlah mereka sangat banyak. Mereka datang naik pesawat, berasal dari Aceh hingga Papua. Berseragam rapi, semua mengenakan atribut dan jas berlambang partai. Peserta yang datang dari wilayah setempat datang dengan mobil atau taksi. Semua tampak rapi dan bersih.

Ruangan yang besar itu penuh diisi para aktivis dakwah yang datang dari seluruh pelosok wilayah. Dakwah telah tersebar hingga ke seluruh penjuru tanah air. Sebagian telah menempati posisi strategis sebagai pejabat pemerintahan, baik di pusat maupun daerah, baik di eksekutif maupun legislatif. Hadir dengan sepenuh keyakinan dan harapan akan adanya perubahan menuju pencerahan.

Berbagai problem dan persoalan diutarakan. Berbagai ketidakpuasan disampaikan. Banyak kritik dilontarkan. Banyak saran dan masukan diungkapkan. Semua berbicara, mengevaluasi diri, mengaca kelemahan dan kekurangan, memetakan arah tujuan, namun tetap dalam bingkai kecintaan dan kasih sayang. Para aktivis sadar bahwa masih sangat banyak kekurangan dan kelemahan yang harus terus menerus diperbaiki dan dikuatkan. Semua bertekad untuk terus berusaha menyempurnakan.

Sang Qiyadah memberikan taujih dengan sepenuh kehadiran jiwa, “Nabi telah berpesan, bahwa sesungguhnya kalian dimenangkan karena orang-orang lemah di antara kalian. Maka tugas kita adalah selalu memberikan perhatian terhadap masyarakat, terlebih lagi kelompok dhuafa. Termasuk dhuafa di antara kader dakwah. Jangan pernah melupakan kerja para kader yang telah berjuang di pelosok-pelosok daerah. Lantaran kerja merekalah kita diberikan kemenangan oleh Allah”.

Lugas, tuntas. Arahan telah sangat jelas. Acara pun berakhir, ditutup dengan doa. Seorang petugas maju ke mimbar, mengajak semua peserta menghadirkan hati dan jiwa, dengan khusyu’ munajat kepadaNya agar senantiasa diberikan pertolongan dan kekuatan. Doapun dilantunkan :

“Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui bahwa hati-hati ini telah berhimpun dalam cinta pada-Mu, telah berjumpa dalam ketaatan kepada-Mu, telah bersatu dalam dakwah kepada-Mu, telah berpadu dalam membela syari’at-Mu”.

“Maka kokohkanlah ya Allah, ikatannya, kekalkanlah kasih sayangnya, tunjukilah jalan-jalannya, penuhilah hati-hati ini dengan cahaya-Mu yang tiada pernah pudar”.

“Lapangkanlah dada kami dengan limpahan keimanan kepada-Mu dan keindahan tawakkal kepada-Mu. Nyalakan hati kami dengan ma’rifat kepada-Mu, matikanlah kami dalam syahid di jalan-Mu”.

“Sesungguhnya Engkaulah sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong. Amin”.

Ternyata, doa Rabithah telah menghiasi perjalanan panjang kami. Bergerak melintasi zaman, dengan beragam tantangan, dengan aneka persoalan. Para aktivis selalu setia dengan arah tujuan, bergerak pasti menuju ridha Ilahi. Doa Rabithah tidak pernah lupa dimunajatkan, di waktu pagi dan malam hari.

Kesetiaan telah teruji pada garis waktu yang terus bergerak. Lintasan mihwar membawa para aktivis menuju kesadaran, bahwa kejayaan adalah keniscayaan, selama isi Doa Rabithah diamalkan, bukan sekedar diucapkan.....

Kabulkan permohonan kami, Ya Allah....



*posted by: Blog PKS PIYUNGAN - Bekerja Untuk Indonesia