Sunday, 13 May 2012
Sentani, Jayapura
Tuesday, 3 April 2012
PTT ke Yahukimo,Papua

"hah, iya bang abang ke Papua?".
"benar tu antum mau ke Papua?."
bahkan orang tua sendiri masih setengah kurang percaya mengenai kelulusan saya PTT di Kabupaten Yahukimo Papua. sewaktu minggu kemarin izin pamitan untuk berangkat, orang tua bilang " Padahal Ayah sudah do'ain biar gak lulus." he he he ^_^
setelah setahun bekerja di Rumah Sakit swasta dengan segala suka dukanya, saatnya saya melanjutkan mimpi saya untuk PTT ke daerah sangat terpencil. alhamdulillah pengumuman tanggal 17 Maret kemarin saya lulus dan diterima di Kabupaten Yahukimo Papua. hanya modal nekad, saya tidak mengenal daerah itu sama sekali, perjalanan saya yang paling jauh masih di sekitar pulau Sumatera. tapi memang saya sangat suka berpetualang dari dulu. bayangan di benak saya bisa mengajar dan berbagi ilmu dengan anak-anak di Pedalaman adalah sesuatu yang luar biasa. membantu dan memberikan pelayanan kesehatan bagi mereka yang susah untuk memperoleh pelayanan kesehatan adalah sebuah pengabdian yang harus saya jalani sebagai dokter .
insyallah tanggal 9 April nanti saya akan berangkat ke sana setelah sebelumnya di undur dari tanggal 2 yang seharusnya. semoga bisa memberikan yang terbaik untuk masyarakat di sana.
Friday, 17 February 2012
Bersama BSMR Ar-Risalah Lagi....
Untuk memantapkan terus pengetahuan anggota Bulan Sabit Merah Remaja (BSMR) sesuai dengan salah satu tujuan dari BSMR yaitu Membangun keberanian, kesadaran dan kepedulian remaja terhadap tugas-tugas kemanusiaan, maka hari ini kembali agenda rutin BSMR diangkatkan di Perguruan Ar-Risalah dengan 59 peserta Putri. Materi yang disampaikan kali ini adalah tentang Keajaiban Tubuh Manusia dengan pemateri dr. Nana Liana dan ditemani beberapa orang Relawan Medis lainnya dari BSMI Cabang Padang.
Antusias anggota BSMR sangat dirasakan sekali saat materi disampaikan, beberapa dari peserta pun bertanya tentang materi yang disampaikan. Pada pertemuan sebelumnya satu minggu yang lalu anggota BSMR diperkenalkan tentang keBSMRan, mengenal bagaimana tentang Bulan Sabit Merah Remaja, materi ini disampaikan lagi karena semakin banyaknya anggota baru yang bergabung dengan BSMR.
Di BSMR kita juga akan memberikan materi-materi tentang P3K agar anggota BSMR mampu melakukan pertolongan pertama baik di keluarga,di sekolah maupun dilingkungannya sendiri, ada juga materi tentang Manajemen Bencana Alam agar Anggota BSMR siap bila suatu saat diperlukan untuk membantu korban bencana alam, Materi seperti Survival , Jelajah, Navigasi dan keterampilan lainnya juga akan diberikan kepada anggota BSMR dan materi yang sangat spesial adalah tentang kedokteran Islam agar semangat adek-adek peserta BSMR semakin bertambah dan lebih mengenal tentang kedokteran Islam.
Ibnu sina Ibnu Sina Baru selamat berjuan. Salam Kemanusiaan
Wednesday, 15 February 2012
PELATIHAN RJP BULAN SABIT MERAH REMAJA
Para peserta sangat antusias untuk materi RJP ini, mereka juga diberikan kesempaan untuk mencobakan kepada teman masing-masing. Acara ini dilakukan dua sesi, sesi pertama untuk anggota BSMR Putra yaitu dari jam 10.00 WIB -12.30 WIB sedang kan bagi anggota BSMR Putra dilaksanakan di sesi kedua dari pukul 14.00 WIB- 16.00 WIB. Sehingga harapan kita dengan materi ini adek-adek BSMR nanti bisa menolong baik keluarga ataupun masyarakat ketika diperlukan.
Adapun pelatihan BSMR di Sekolah SMP IT Insan Cendikia Payakumbuh ini telah rutin dilaksanakan sekali dalam sebulan . adapun materi2 yang telah diberikan adalah materi tentang kebulansabitmerahan, materi P3K,materi Kepemimpinan, Tanggap Darurat bencana, Kedokteran Islam, dan beberapa materi lain yang dibutuhkan. Semoga dengan BSMR ini anggota semakin terasah kepeduliannya terhadap sesama. Care for life !!!
Monday, 12 December 2011
Bersama BSMR (Bulan Sabit Merah Remaja)
Minggu 11 Desember 2011,Kembali saya berdiri di depan kelas ini setelah sekian lama tak bertatap muka dengan mereka, berbagi sedikit ilmu yang saya miliki untuk adek-adek BSMR SMP IT Cendikia. antusias mereka dalam mengikuti kegiatan sungguh luar biasa. hari ini saya harus mengisi di kelas Putra dan kelas Putri. berkegiatan2 baksos bisa sering kami angkatkan sampai ke pelosok-pelosok, bisa sedikit ringan dengan seorang pembina di kelas putra dan satu pembina lagi di kelas putri. sendiri seperti ini dengan terpaksa harus mengulang materi yang sama di kelas yang berbeda. ah, tapi gak apalah semua ini harus dinikmati, bertemu dengan wajah-wajah mereka saja sudah menghilangkan penat. keceriaan mereka terlihat saat saya datang......." dokter datang..dokter datang..." sambil menyalam dan mencium tangan. " pak dokter kok lama gak datang mengisi BSMR..."...hayoo..jadi bingung jawabnya..., insyaallah ke depannya kita akan ak


Sunday, 11 December 2011
Doa Rabithah: Doa di Sepanjang Mihwar Dakwah
Sembari mengikuti tausiyah beliau, ingatan saya menerawang jauh ke belakang.....
Suatu masa, di era 1980-an.....
Tigapuluh tahun yang lalu, beberapa orang aktivis dakwah, tidak banyak, hanya beberapa orang saja, duduk melingkar dalam sebuah majelis. Di ruangan yang sempit, diterangi lampu temaram, duduk bersila di atas tikar tua, khusyu’, khidmat, tawadhu’.
Tidak banyak, hanya beberapa orang saja. Berbincang membelah kesunyian, pelan-pelan, tidak berisik. Semua datang dengan berjalan kaki, naik sepeda tua, atau naik kendaraan umum saja. Pakaian mereka sangat sederhana, apa adanya, bersahaja. Hati mereka sangat mulia.
Duapuluh tahun yang lalu, beberapa orang itu bercita-cita tentang kejayaan sebuah peradaban. Cita-cita besar, mengubah keadaan, menciptakan peradaban mulia. Wajah mereka tampak teduh, air wudhu telah membersihkan jiwa dan dada mereka. Tidak ada yang berbicara tentang fasilitas, materi, jabatan dan kekuasaan.
Mengakhiri majelis, mereka menundukkan wajah. Tunduk dalam kekhusyukan, larut dalam kehangatan persaudaraan, hanyut dalam samudera kecintaah. Doa Rabithah mereka lantunkan. Syahdu, menusuk kalbu.
Air mata berlinang, bercucuran. Akankah segelintir orang ini akan bisa mengubah keadaan ? Akan beberapa orang ini akan mampu menciptakan perubahan ? Hanya Allah yang mengetahui jawaban semua pertanyaan. Doa telah dimunajatkan, dari hati yang paling dalam :
“Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui bahwa hati-hati ini telah berhimpun dalam cinta pada-Mu, telah berjumpa dalam ketaatan kepada-Mu, telah bersatu dalam dakwah kepada-Mu, telah berpadu dalam membela syari’at-Mu”.
“Maka kokohkanlah ya Allah, ikatannya, kekalkanlah kasih sayangnya, tunjukilah jalan-jalannya, penuhilah hati-hati ini dengan cahaya-Mu yang tiada pernah pudar”.
“Lapangkanlah dada kami dengan limpahan keimanan kepada-Mu dan keindahan tawakkal kepada-Mu. Nyalakan hati kami dengan ma’rifat kepada-Mu, matikanlah kami dalam syahid di jalan-Mu”.
“Sesungguhnya Engkaulah sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong. Amin”.
Sejuk, menyusup sampai ke tulang, mengalir dalam darah. Meresap hingga ke sumsum dan seluruh sendi-sendi tubuh. Merekapun berdiri, berangkulan, bersalaman dengan erat. Masing-masing meninggalkan ruangan. Satu per satu. Hening, tenang. Tidak ada kegaduhan dan kebisingan.
Masa bergerak, ke era 1990-an
Sekumpulan aktivis dakwah, cukup banyak jumlahnya, berkumpul dalam sebuah ruangan yang cukup luas. Ruang itu milik sebuah Yayasan, yang disewa untuk kantor dan tempat beraktivitas. Mampu menampung hingga seratus orang. Semua duduk lesehan, di atas karpet. Lampu cukup terang untuk memberikan kecerahan ruang.
Sebuah Daurah Tarqiyah dilakukan. Para muwajih silih berganti datang memberikan arahan. Taujih para masyayikh di seputar urgensi bersosialisasi ke tengah kehidupan masyarakat, berinteraksi dengan tokoh-tokoh publik, memperluas jaringan kemasyarakatan dengan pendekatan personal dan kelembagaan. Semua aktivis diarahkan untuk membuka diri dan berkiprah secara luas di tengah masyarakat. Membangun jaringan sosial dan membentuk ketokohan sosial.
Sekumpulan aktivis dakwah, jumlahnya cukup banyak, datang dengan mengendarai sepeda motor, beberapa tampak mengendarai mobil Carry dan Kijang tua. Wajah mereka bersih, bersinar. Penampilan mereka tampak intelek, namun bersahaja. Sebagian berbaju batik, sebagian lainnya berpenampilan rapi dengan setelan kemeja dan celana yang serasi.
Acara berlangsung khidmat dan sederhana. Namun sangat sarat muatan makna. Sebuah keyakinan semakin terhujamkan dalam jiwa, bahwa kemenangan dekat waktunya. Kader dakwah terus bertambah, aktivitas dakwah semakin melimpah ruah. Semua optimis dengan perkembangan dakwah.
Usai acara ditutup dengan doa. Hati mereka khusyu’, jiwa mereka tawadhu’. Sekumpulan aktivis dakwah, cukup banyak jumlah mereka, menengadahkan tangan, sepenuh harapan dan keyakinan. Munajat sepenuh kesadaran :
“Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui bahwa hati-hati ini telah berhimpun dalam cinta pada-Mu, telah berjumpa dalam ketaatan kepada-Mu, telah bersatu dalam dakwah kepada-Mu, telah berpadu dalam membela syari’at-Mu”.
“Maka kokohkanlah ya Allah, ikatannya, kekalkanlah kasih sayangnya, tunjukilah jalan-jalannya, penuhilah hati-hati ini dengan cahaya-Mu yang tiada pernah pudar”.
“Lapangkanlah dada kami dengan limpahan keimanan kepada-Mu dan keindahan tawakkal kepada-Mu. Nyalakan hati kami dengan ma’rifat kepada-Mu, matikanlah kami dalam syahid di jalan-Mu”.
“Sesungguhnya Engkaulah sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong. Amin”.
Mereka berdiri, berangkulan, bersalaman dengan erat dan hangat. Hati mereka tulus, bekerja di jalan kebenaran, pasti Allah akan memberikan jalan kemudahan. Doa Rabithah mengikat hati-hati mereka, semakin kuat, semakin erat.
Perlahan mereka meninggalkan ruangan, menuju tempat beraktivitas masing-masing. Khidmat, hening, namun tetap terpancar wajah yang cerah dan harapan yang terang benderang.
Masa terus mengalir, sampai ke era 2000-an....
Para aktivis dakwah berkumpul, jumlah mereka cukup banyak. Memenuhi ruangan ber-AC, sebuah gedung pertemuan yang disewa untuk kegiatan. Diterangi lampu terang benderang, dengan sound system yang memadai, dan tata ruang yang tampak formal namun indah. Tampak bendera berkibar dimana-mana, dan sejumlah spanduk ucapan selamat datang kepada peserta dipasang indah di berbagai ruas jalan hingga memasuki ruangan.
Sebuah kegiatan koordinasi digelar untuk mempersiapkan perhelatan politik tingkat nasional. Para aktivis datang dengan sepeda motor dan mobil-mobil yang tampak memadati tempat parkir. Mereka hadir dengan mengenakan kostum yang seragam, bertuliskan kalimat dan bergambarkan lambang partai. Di depan ruang, tampak beberapa aktivis berseragam khas, menjaga keamanan acara.
Para aktivis dakwah berkumpul, jumlah mereka cukup banyak. Mereka duduk berkursi, tampak rapi. Pakaian mereka formal dan bersih, sebagian tampak mengenakan jas dan dasi, bersepatu hitam mengkilap. Sebagian datang dengan protokoler, karena konsekuensi sebagai pejabat publik. Ada pengawal, ada ajudan, ada sopir, dan mobil dinas.
Para qiyadah hadir memberikan arahan dan taklimat, sesekali waktu disambut gegap gempita pekik takbir membahana. Rencana Strategis (Renstra) dicanangkan, program kerja digariskan, rancangan kegiatan telah diputuskan, para kader siap melaksanakan seluruh keputusan. Acara berlangsung meriah, diselingi hiburan grup nasyid yang tampil dengan penuh semangat.
Acara selesai, diakhiri dengan doa. Seorang petugas maju ke mimbar, memimpin doa, munajat kepada Allah dengan kerendahan hati dan sepenuh keyakinan akan dikabulkan. Doa pun diumandangkan :
“Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui bahwa hati-hati ini telah berhimpun dalam cinta pada-Mu, telah berjumpa dalam ketaatan kepada-Mu, telah bersatu dalam dakwah kepada-Mu, telah berpadu dalam membela syari’at-Mu”.
“Maka kokohkanlah ya Allah, ikatannya, kekalkanlah kasih sayangnya, tunjukilah jalan-jalannya, penuhilah hati-hati ini dengan cahaya-Mu yang tiada pernah pudar”.
“Lapangkanlah dada kami dengan limpahan keimanan kepada-Mu dan keindahan tawakkal kepada-Mu. Nyalakan hati kami dengan ma’rifat kepada-Mu, matikanlah kami dalam syahid di jalan-Mu”.
“Sesungguhnya Engkaulah sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong. Amin”.
Acara resmi ditutup. Para aktivis berdiri, berjabat tangan, meninggalkan ruangan dengan khidmat. Terdengar kebisingan suara sepeda motor dan mobil yang mesinnya dihidupkan. Sepeninggal mereka, tampak panitia sibuk membereskan ruangan.
Masa cepat bergulir, hingga di era 2010-an.....
Para aktivis dakwah berkumpul, jumlah mereka sangat banyak. Harus menyediakan ruangan yang sangat besar untuk menampung jumlah tersebut. Ruang kantor Yayasan sudah tidak bisa menampung, ruang pertemuan yang sepuluh tahun lalu digunakan, sekarang sudah tampak terlampau kecil. Harus menyewa gedung pertemuan yang memiliki hall besar agar menampung antusias para aktivis dari berbagai daerah untuk datang.
Para aktivis dakwah berkumpul, jumlah mereka sangat banyak. Mereka datang naik pesawat, berasal dari Aceh hingga Papua. Berseragam rapi, semua mengenakan atribut dan jas berlambang partai. Peserta yang datang dari wilayah setempat datang dengan mobil atau taksi. Semua tampak rapi dan bersih.
Ruangan yang besar itu penuh diisi para aktivis dakwah yang datang dari seluruh pelosok wilayah. Dakwah telah tersebar hingga ke seluruh penjuru tanah air. Sebagian telah menempati posisi strategis sebagai pejabat pemerintahan, baik di pusat maupun daerah, baik di eksekutif maupun legislatif. Hadir dengan sepenuh keyakinan dan harapan akan adanya perubahan menuju pencerahan.
Berbagai problem dan persoalan diutarakan. Berbagai ketidakpuasan disampaikan. Banyak kritik dilontarkan. Banyak saran dan masukan diungkapkan. Semua berbicara, mengevaluasi diri, mengaca kelemahan dan kekurangan, memetakan arah tujuan, namun tetap dalam bingkai kecintaan dan kasih sayang. Para aktivis sadar bahwa masih sangat banyak kekurangan dan kelemahan yang harus terus menerus diperbaiki dan dikuatkan. Semua bertekad untuk terus berusaha menyempurnakan.
Sang Qiyadah memberikan taujih dengan sepenuh kehadiran jiwa, “Nabi telah berpesan, bahwa sesungguhnya kalian dimenangkan karena orang-orang lemah di antara kalian. Maka tugas kita adalah selalu memberikan perhatian terhadap masyarakat, terlebih lagi kelompok dhuafa. Termasuk dhuafa di antara kader dakwah. Jangan pernah melupakan kerja para kader yang telah berjuang di pelosok-pelosok daerah. Lantaran kerja merekalah kita diberikan kemenangan oleh Allah”.
Lugas, tuntas. Arahan telah sangat jelas. Acara pun berakhir, ditutup dengan doa. Seorang petugas maju ke mimbar, mengajak semua peserta menghadirkan hati dan jiwa, dengan khusyu’ munajat kepadaNya agar senantiasa diberikan pertolongan dan kekuatan. Doapun dilantunkan :
“Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui bahwa hati-hati ini telah berhimpun dalam cinta pada-Mu, telah berjumpa dalam ketaatan kepada-Mu, telah bersatu dalam dakwah kepada-Mu, telah berpadu dalam membela syari’at-Mu”.
“Maka kokohkanlah ya Allah, ikatannya, kekalkanlah kasih sayangnya, tunjukilah jalan-jalannya, penuhilah hati-hati ini dengan cahaya-Mu yang tiada pernah pudar”.
“Lapangkanlah dada kami dengan limpahan keimanan kepada-Mu dan keindahan tawakkal kepada-Mu. Nyalakan hati kami dengan ma’rifat kepada-Mu, matikanlah kami dalam syahid di jalan-Mu”.
“Sesungguhnya Engkaulah sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong. Amin”.
Ternyata, doa Rabithah telah menghiasi perjalanan panjang kami. Bergerak melintasi zaman, dengan beragam tantangan, dengan aneka persoalan. Para aktivis selalu setia dengan arah tujuan, bergerak pasti menuju ridha Ilahi. Doa Rabithah tidak pernah lupa dimunajatkan, di waktu pagi dan malam hari.
Kesetiaan telah teruji pada garis waktu yang terus bergerak. Lintasan mihwar membawa para aktivis menuju kesadaran, bahwa kejayaan adalah keniscayaan, selama isi Doa Rabithah diamalkan, bukan sekedar diucapkan.....
Kabulkan permohonan kami, Ya Allah....
*posted by: Blog PKS PIYUNGAN - Bekerja Untuk Indonesia
