Wednesday, 10 June 2015

Pak presiden dan Jajaran, Fokus saja masalah Ekonomi

Isu Agama memang mungkin adalah yang paling mudah untuk digoreng di Negara manapun, tak terkecuali di negeri kita tercinta ini. Terkadang saya sudah mulai bosan dengan berita-berita yang berseliweran di media sosial. Ntah itu beritanya benar atau hoax atau sedikit pelintiran, tapi jelas akan sangat merusak kerukunan ummat beragama di Negeri ini. 
Sengajakah situasi dibuat seperti ini oleh pemerintah untuk mengalihkan isu kenaikan BBM? rupiah yang semakin melemah? Aset2 Negara yang semakin dikuasai asing? . Ah entahlah, yang jelas negeri ini semakin amburadul.
kita mulai dari Isu pemimpin DKI Jakarta yang nota benenya seorang Non Muslim. So what? Dia terpilih secara demokratis, kenapa ketika pilkada yang lalu ummat Islam gak habis2an mengusung pemimpin yang Muslim, kenapa baru kebakaran jenggot sekatang setelah ia naik jadi Gubernur, nikmati saja bagi anda yang setuju dengan demokrasi. Bagi anda yang anti demokrasi, jelas2 ini negara demokrasi kenapa anda ngotot khilafah? Turun ke jalan teriak2 demokrasi sesat nggak akan ada gunanya, mana ada yang peduli dengan teriakan anda. Noh duduk di Parlemen sana ganti undang2nya dengan hukum2 yang anda yakini benar.
terus masalah ngaji yang berisik dari speaker2 mesjid, imbauan menghormati yang nggak Puasa, ibu2 berjilbab yang kena HIV. seakan akan semua jajaran mentri ngomongin agama. Kenapa gak fokus saja dengan rupiah yang semakin hancur.
begini, saya punya banyak teman2 Non Muslim, ada Kristen, Hindu dan Budha. Bahkan 3 tahun saya tinggal dan bekerja bersama orang2 yang mayoritas Kristen. Gak ada masalah, sebagai minoritas saya tau diri untuk tidak menuntut banyak dan sebagai mayoritas mereka juga menghormati apa yang saya yakini. 
Sewaktu PTT kami serumah dengan 8 beragama Kristen dan kami 4 orang Muslim, setiap jum'at mereka yang akan menghandle semua pekerjan di rumah sampai memasak, pulang jumatan semua sudah selesai, masakan sudah terhidang, begitu juga hari minggu gantian kami yang menghandle pekerjaan rumah ketika kawan2 pergi ke Gereja. Di rumah itu bukan hal yang aneh ketika mendapati ada yang tilawah dan ada yang baca Injil atau nyanyi rohani.
sering saya shalat di Mesjid ditunggu sama teman yang Kristen sampai selesai, begitu juga saat ada yang mau ke Gereja butuh tumpangan saya antar. Toh gak mungkin saya maksa dia ke Mesjid atau dia maksa saya ke Gereja.
diacara2 teman2 yang kristen mereka berdoa pakai cara kristen ya wajar mereka lebih banyak, kita juga ketika di daerah mayoritas Muslim biasanya seperti itu juga pakai berdoa dengan cara Islam. Gak ada masalah asal jangan ikutan berdoa dengan cara mereka. 
Masalah makan, ketika saya bilang jangan pernah bawa babi atau yang haram ke rumah teman2 Kristen menghargai, gak ada mereka bawa ke rumah. Klo kepengen mereka akan makan di luar.
ketika saya puasa mereka menghargai saat saya bilang saya puasa. Makanan di acara2 itupun akan mereka bungkuskan untuk dibawa pulang. 
Saat di rumah teman yang Kristen , ketika saya mau shalat dia sediakan kain yang bersih untuk saya gunakan sebagai sajadah dan saya shalat mereka gak ada hang menghalangi saya. jadi gak ada masalah.
akan tetapi memang oknum 1 atau beberapa orang memang ada yang diskriminatif tapi itu bagian kecil tidak semua beroikiran seperti itu. Sama juga ketika di daerah kita yang mayoritas Muslim, 1 atau beberapa orang pasti ada yang berprilaku diskriminatif tapi itu bukanlah ajaran yang dicontohkan Rasulullah.
Rasulullah sangat baik kepada tetangganya yang Yahudi maupun Nasrani, tidak pernah beliau menganggu meraka bahkan dengan perkataannya sekalipun. 
belajarlah jadi mayoritas dan belajarlah jadi minoritas dan belajarlah kalau di Negeri ini kita bukan satu suku, bukan satu agama, bukan satu bahasa, kita hidup dalam keberagaman.
jadi sebaiknya janganlah masalah agama yang sebenarnya tidak perlu membesar menjadi diperbesar oleh komentar2 bapak2 pejabat kita. Fokus saja dengan ekonomi kita yang semakin morat marit, semakin banyaknya pengangguran. 

Bukan setahun atau 2 tahun kita hidup berdampingan di Negeri ini, kenapa sekarang ini jadi kacau balau kayak gini. 

Salam Damai

Thursday, 25 December 2014

Barakallah Sahabat-Sahabatku

Desember ini penuh dengan kejutan ( pura2 terkejut githu... :) ).... pura-puranya baru tau, what? kok bisa? gak nyangka ya.... ha ha ha....
tapi Bahagia ini gak ada kepura-puraan sobat, senangnya ketika kalian akhirnya menggenapkan separuh Din, melaksanakan sunnah Rasul, cuma sedihnya gak bisa lagi membully jomblo2, selama ini enak benar klo mencari sasaran membully... ada apa2 langsung skak mat.... he he he
2 pasangan sahabat terbaik menggenapkan Din di bulan ini....
masih ingat kegilaan yang sering kita lakukan dulu sewaktu muda kawan? sekarang sih masih tetep muda kan ya, lu aja yang kelihatan menua , wajar sih kelamaaan mencari pasangan yang cocok, akhirnya dirimu jadi semakin tua tergerus waktu, makin usang, tapi alhamdulillah masih ada akhwat yang mau samamu.... ha ha ha. beberapa proses pencarianmu saya ikuti, ikutan juga mikirin akhwat mana lagi yang mau samamu, beberapa kali proposalmu mereka campakkan ke tong sampah tanpa dibaca ( ha ha ha.... tidak semua yang lu dengar itu benar :)). ah tapi sudahlah itu rahasia kita berdua saja, yang penting sekarang sudah sah dan sudah ada yang akan setia mendampingimu, terkadang sih mikir juga, tuh akhwat semoga sabar menemani kegilaanmu ya.
dr. Eldi Sauma dan dr. Cyntia barakallah ya.
awal ketemu makhluk yang satu ini di kampus FK Unand, saya mikirnya aneh. kenapa ada makhluk kayak gini. tapi itulah skenario Allah untuk mempertemukan ya. bayangkan saja, klo ngumpul atau jalan-jalan atau bikin group kok temen2nya pada cewek semua.....wkwkwwwk.... lebih gilanya dipraktikum pertama periksa darah, dia pingsan lihat darah.... ha ha ha... ini ngapain dia masuk FK klo liat darah aja dia pingsan. masih belum percaya sih kok kami bisa dekat. :D
begini ceritanya akhirnya bisa jadi temen ( masih belum percaya sih...), pada waktu itu lagi ghiroh-ghirohnya di dakwah kampus, gw punya target mendekati dia.... ha? gw yang kalem, mendekati dia? oh Tuhan .... ntar gw pula yang ketularan gilanya ni orang. sedikit banyaknya gw ikuti dulu gaya ni anak... SKSD lah yaww... maen ke kostannya yang bau, terus nanyain kabarnya, duduk deket2 pas lagi kuliah, say Hi, eh assalamualikum klo ketemu.... singkat cerita akhirnya bisa deket. masuk perangkap lu :p .... akhirnya mainnya sudah mulai k Mushalla, ikutan OR FSKI..... dia juga mulai sering main ke tempatku. ha ha ha
terakhirnya dia pula yang paling ghiroh d FSKI...kebanyakan dosisnya dikasih kayaknya :) .
tapi kegilaan-kegilaan kita apalagi sewaktu koas, masih sering bikin gw ngakak um.... sedih ketawa kita lalui bersama dijaman2 kita ditindas, memang sih koas kasta paling rendah tapi menikmatinya sesuatu ya... bahkan musuh kitapun sama, yang Residen Pato itu....udahlah ya, maafkan saja dirinya mungkin dia khilaf menjadikan kita musuhnya. semoga dia tenang disisiNYA...eh... :D
udahlah ya um, gw nulis ini masih ngakak-ngakak dan senyum2 sendiri ( minum CPZ dulu)... sudah berapa kali ECT? lihat di kulit status pasiennya.... eleeeeee..... ha ha ha ha ( teringat kawan yang dengan lugunya melihat di kulit pasien) wkwkwkwk.... kaluaaaaaaa ang ....masuk WC .... udah ah.... jaman2 itu memang ngangenin ya.
selamat berbahagia ya kawan. rindu ini tak terkata, maaf tak bisa hadir di saat-saat bahagiamu. Doaku selalu tercurah untukmu. selamat mencetak generasi-generasi Rabbani. Meski jarak jauh, tapi di setiap Rabitah yang terlantun hati-hati kita tetap menyatu.
buat Cyntia bersabar ya mendampingi sahabatku ini. klo dia sok sok jaim itu hanya pencitraan, klo dia gila memang itulah dirinya yang sebenarnya ...... wkwkwkwkwkwk 

untuk pasangan kedua di ujung barat sana yang juga lagi berbahagia, dr. Putra dan dr. Ira... Put jangan grogi ya, ingat-ingat lapal akadnya. gak usah tremor anggap aja yang datang itu gak ada.... saya juga pernah mengalaminya. pengen sering2 ke toilet itu manusiawi.... :D . kalianlah sahabat2 terbaik seperjuangan di Wamena ini. suka-duka kita lalui, bahkan bebukitanpun kita daki wkwkwkwk.... akhirnya berhasil juga mencomblangi kalian :p. misi berhasil ha ha ha....
put pesan ira jangan suka marah-marah ha ha ha....dia takut katanya
Put selamat juga buat keterimanya PPDS Anestesi di UNPAD, ingat satu hal yang membuat kita bisa bertahan disini. ada banyak hal yang belum kita selesaikan. Doa-doa kita terkabul mungkin saja karena niat kita yang dulu pernah terucap ketika kita memutuskan untuk disini.
selamat berbahagia kawan-kawan.......

Wamena, 26 Desember 2014

Monday, 7 April 2014

Pikirkan Kembali Semuanya

Masih terngiang kata-kata Ustdz Aidil Heryana, seorang Caleg DPR RI dari PKS untuk Dapil Papua dipertemuan singkat malam itu.
"akhi, saya tahu perjuangan disini berat, seandainya ada 50 saja suara untuk kita di Pegungan Tengah ini dan suara yang 50 itupun juga dihilangkan maka nanti dihadapanNYA kita sudah ada jawaban untuk mempertanggungjawabkan usaha kita dalam memilih pemimpin yang baik."

Papua merupakan termasuk daerah yang rawan kecurangan dalam pemilu, jadi bukan hal yang aneh jika suara-suara bisa dimanipulasi dengan seenaknya. bisa dalam 1 TPS 100% kertas suara tercoblos atau bahkan yang mencoblos lebih banyak dari jumlah DPT yang ada dan disini itu suatu hal yang lumrah.

Terkadang saya juga berpikir untuk apa ikut mencoblos, untuk apa ikut DS jika halnya seperti itu. tapi mengingat taujih singkat ustd Aidil saya tetap berusaha semaksimal yang saya bisa bantu.

hari sabtu kemarin saya bertemu dengan pak Haji yang sering bertemu di Mesjid, saya salami beliau. kesempatan untuk sekalian DS pikirku.
"pak Haji ntar milihkan?.
"insyallah pak dokter, siapa kira-kira yang bagus?.
"saya ada rekomendasi nih pak Haji, nanti saya antar profilenya ke rumah ya pak."
"ah gak usah pak dokter, saya ikut pilihan pak dokter saja. apa yang menurut pak dokter baik, insyallah itu baik. meski sedikit kecewa dengan kasus yang menimpa PKS kemarin tapi saya masih lebih percaya PKS.' ujar beliau

alhamdulillah ternyata penilaian orang-orang yang saya temui masih kebanyakan berpikir postif dan punya harapan yang baik pada partai yang sering dibully media ini.

terimakasih buat teman-teman ikhwah yang sudah membantu DS, kita semua punya harapan yang sama agar Negeri ini dipimpin oleh orang-orang yang amanah, dipimpin oleh orang-orang soleh. kalau bukan itu untuk apa kita bersusah payah mengetuk pintu ke pintu, mengetuk hati-hati yang sudah kehilangan harapan, mengajak mereka berpikir kembali akan pilihan antara golput dan memilih. kalau bukan sebuah harapan akan Negeri Madani untuk apa kita sendiri merogoh kantong-kantong kita untuk memperbanyak profil sang caleg yang kita perjuangkan, membeli sendiri bensin kenderaan kita, toh kita buka tataran pengurus partai, toh kita bukan salah satu caleg yang berlaga, toh kita juga bukan sedang mengusung anggota keluarga kita untuk duduk di senayan. ya hanya satu harapan kita untuk hari esok yang lebih baik.

masih ada waktu untuk memikirkan kembali pilihan-pilihan kita, kita bukan memilih jajaran para malaikat untuk duduk di senayan sana dan bukan juga ajang pertarungan para iblis sehingga kita menjadi antipati dengan demokrasi. apapun keputusan kita antara memilih dan tidak, pastinya kursi kosong itu akan diisi, ntah itu yang duduk sebuah kebaikan atau sebuah keburukan. pilihan ditangan anda.

Bersama anak-anak Ingusan (bag 2)

Ciri khas anak-anak wamena memang sepertinya melekat dengan ingusan, tidak bersandal dan kudisan, apalagi mereka yang masih tinggal di Honai mudah sekali terserang ISPA karema ventilasi yang kurang ditambah banyaknya asap di dalam Honai yang memang sengaja untuk menghangatkan tubuh karena udara pegunungan yang dingin. ada 20an anak-anak muslim yang ikut TPA yang kami bina tak satupun memakai sandal, sepulang belajar wudhu saya sempat bilang ke mama alif.
"Kak, mereka gak punya sendal atau gak mau make sendal."
"mereka gak punya sendal dokter."
"iya sudah semoga kita nanti ada rejeki biar kita belikan sendal, agar gak kotor lagi klo mau shalat."
jarak antara mesjid dan sungai sangat memungkinkan menginjak kotoran Wam (Babi) klo tidak pakai sendal.
anak-anak Wamena juga trkenal dengan kepolosannya, kadang membuat kita tertawa tapi seringkali kita miris, bagaimana klo kita terlahir seperti mereka akankah kita bisa bertahan sekuat anak-anak ini.
suatu ketika saat saya masih kerja di salah satu Puskesmas Kabupaten Yahukimo, salah satu kabupaten pemekaran Jayawijaya, di sore menjelang magrib saya duduk bercerita dengan Hendrikus di teras rumah. anak ini paling rajin membantu saya selama tinggal disana, biasanya tiap hari dia menanyakan apakah air di bak mandi saya masih ada. klo bak mandi lagi kosong dia akan mengisinya sampai penuh, untunglah ada dia yang selalu bantu saya selama tinggal disana.
seperti biasa sore ini kami bercerita tentang Indonesia, tentang pulau-pulau yang membentang dari Sabang sampai Merauke, bercerita tentang benua-benua besar dan mencoba mengajaknya sejenak untuk keliling dunia.
" kaka dokter, Sumatera itu sebelah mananya Papua ya?.
" Klo Papua merupakan pulau yg paling Timur Indonesia, Sumatera itu Pulau yang paling Barat." jawabku. pengen sebenarnya ada peta klo lagi cerita-cerita seperti ini biar dia lebih mudah mengerti. kadang juga cerita kami gak nyambung, seringkali anak-anak Papua apalagi yang belum pernah keluar Papua merasa klo satu-satunya Negeri itu adalah Papua dan itulah tanah yang paling luas.
" Jakarta itu dimana dokter?.
" Jakarta itu di Pulau Jawa....." ya Allah anak sebesar ini malah belum tahu ibu kota Negaranya sendiri bagaimana mungkin sikap Nasionalisme mereka bisa tumbuh sedangkan Negeri sendiri belum mereka kenali.
saya terangkan pulau-pulau terbesar, sepertinya ia bingung. saya ambil beberapa benda kemudia meletakkannya di lantai...
" ini Sumatera, disebalhnya pulau Jawa...nah kita punya Jakarta disini, di atasnya Jawa ada Pulau Kalimantan, terus disebelahnya ada Sulawesi, terus papua disini deh." sambil saya meletakkan sebuah pena sebagai pulau Papua.
"klo dokter punya rumah?.
" klo dokter punya rumah disini." sambil saya menunjukkan kotak korek api yang saya jadikan Pulau Sumatera. sepertinya dia sedikit mengerti.
" dokter.....'
Hendrikus tiba-tiba memecah keheningan.
" Obama itu hebat ya, bisa jadi presiden Amerika."
" ho oh...presiden pertama kulit hitam." jawabku seadanya
" kok hebat ya dokter, orang Papua bisa jadi Presiden Amerika."
sontan saya terpingkal-pingkal.....
"hah? siapa yang bilang begitu?." perut saya terasa sakit menahan tawa
"kawan-kawan yang bilang dokter, katanya Obama lahir di Jayapura." jawabnya serius
" waduh...obama itu bukan orang Papua. jadi gini, orang kulit hitam itu bukan hanya dari Papua, ada yang dari Afrika, terus ada yang lahir juga di Amerika."
"Afrika itu dimananya Indonesia dokter?.
jadi panjang deh cerita.........
tapi saya senang sekali dengan keingintahuannya yang sangat tinggi. setiap malam biasanya dia datang ke rumah untuk belajar. membaca belum lancar apalagi menghitung padahal Hendrikus sudah SMP. disini memang sebuah pemandangan yang biasanya anak-anak SMA belum bisa baca hitung. mereka rajin ke sekolah, ntar pas pulang ditanyain belajar apa di sekolah.
"guru tidak datang dokter."
miris memang setiap kali mendengar klo guru tidak datang padahal mereka sudah berjam-jam menempuh perjalanan menuju sekolah dengan berjalan kaki tanpa alas kaki.
tidak mudah untuk menjadi mereka bertahan dalam banyak kekurangan, tapi di mata mereka selalu ada harapan.
tugas kitalah yang masih peduli untuk berbagi....

Sunday, 6 April 2014

Bersama anak-anak Ingusan

" bang kita jadi ke Hitigima ngajar ngaji anak-anak? dengar-dengar Wamena lagi tidak aman" sms dari dr.Dewi baru saja masuk di HPku. belum sempat saya balas smsnya kemudian BBM dan SMS dari dr.Ira hampir bernada sama juga masuk " bang, kita minggu depan saja ke Hitigima bang,Kata perawat lagi nggak aman."

" insyallah gak pa pa. kita tawakkal saja, segala sesuatunya Allah yang menentukan insyallah kita tetap berangkat."

terakhirnya saya balas lagi sms mereka. "klo begitu biar abang saja yang berangkat dengan Ghazali ke sana."

saya berpikir kasihan sekali anak-anak disana klo kita gak datang, mereka pasti sudah menunggu, pertemuan sekali seminggu itu adalah hal yang sangat mereka nantikan. ingat wajah-wajah lucu mereka saat melihat kita dengan mata yang berbinar menjadikan semua ketakutan tidak ada artinya.

mengajar anak-anak di Papua adalah niat yang sudah lama ingin saya kerjakan, pernah menawarkan kepada kawan2 tapi tanggapan mereka kurang begitu bersemangat, akhirnya bertemu dengan dr.Ira yang seide.
" ya sudah bang kita jalani saja dulu, biar kita ke sana. nanti klo sudah jalan insyallah kawan-kawan yang lain juga bakal tertarik untuk ikut." katanya menyemangati. memang benar sekarang ada dr.Ghazali dan dr.Dewi yang ikut mengajari anak-anak Papua di perkampungan Hitigima.

sekitar setengah jam perjalanan dengan motor melewati beberapa longsoran dan lumpur di jalanan akibat hujan deras akhirnya kami sampai di Hitigima. beberapa anak-anak sudah menunggu kami di pintu gerbang yang lain ternyata sudah pulang karena mungkin kami yang kelamaan datang, tapi jam ditanganku  masih menunjukkan pukul setengah tiga WIT.

anak-anak ingusan ini ( memang benar-benar ingusnya pada naik turun ^_^). mengerumini saya dan dr.Ghazali di Mesjid. ada yang ingusnya sudah mengering, ada yang bau pesing dan tak satupun yang memakai alas kaki. kaki mereka menebal akibat tak kemana-mana tidak pakai sendal. beberapa anak-anak bergelayut di tanganku, ada yang merapat. ( nih anak-anak pasti mau permen he he he...).
"Ustadz dokter, si Saron tidak datang, dia pemalas."
"dia sakit kah?." tanyaku
"lek, dia pemalas jadi."
"Akbar mana?."
" dong juga pemalas."
"ah tidak boleh malas-malas e."

sesuai rencana hari ini kita mengajarkan anak-anak untuk berwudhu, berhubung air ke Mesjid gak mengalir terpaksa kita harus berjalan ke sungai yang jaraknya sekitar 200 meter untuk belajar Wudhu.
anak-anak berlarian mendahului menuju sungai. Si Dani yang dari tadi mengejar-ngejar si Ali sudah jauh berada di depan kami. si Ali biasanya baru sekedar ikut-ikutan untuk belajar, seringnya tidak fokus karena mengganggu yang lain, wajar saja dia yang paling muda diantara yang lainnya masih sekitar 4 tahun. ingusnya naik turun, hampir jatuh ditariknya lagi kencang-kencang.

Mamanya alif sebagai penanggungjawab Muslim disini mengikuti kami di belakang sesekali ia meneriaki anak-anak yang kejar-kejaran.
tak seperti biasanya beberapa bapak-bapak berseragam berdiri di pinggir jalan yang kami lewati, tertulis "POLICE" di bajunya dan dilengannya seperti lambang bintang david. di dalam kompleks honai banyak orang yang berkumpul. saya perlambat langkah menunggu mamanya Alif.
"Kaka, ada duka kah?.
"ah tidak dok, itu anggota Papua Merdeka, mereka lagi ada perayaan."
"OPM?." tanyaku pelan
"iya dok."
saya sapa bapak-bapak berpakaian seragam tersebut. "sore bapa."
"soreee..." timpal mereka sambil membalas senyumku. padahal sebenarnya agak khawatir juga berjalan melewati kerumunan ini.
" Kaka, Muslimnya tidak pernah diganggukah." tanyaku
"tidak dok."
alhamdulillah kekhawatiran sedikit mulai berkurang, saya susul anak-anak memepercepat langkah menuju sungai.
sebagian yang sudah agak besar-besar dibimbing sama dr.Ghazali, yang masih kecil-kecil saya bimbing.
"Ali, buang ingusnya dulu." susah payah ia berusaha membuangnya, akhirnya saya relakan juga tangan ini untuk membantu membuang ingusnya dari hidungnya.

*bersambung ^_^

Monday, 30 December 2013

KETIKA JAMINAN KESEHATAN TETAP TIDAK MEMIHAK RAKYAT JELATA

Jika anda seorang pejabat atau keluarga pejabat tidak perlu lagi khawatir mengenai jaminan kesehatan anda di 2014 mendatang, karena premi asuransi untuk pejabat dan keluarganya mencapai 20jt/tahun. Dan luar biasanya lagi bisa berobat ke luar negeri dengan jaminan kesehatan yang ditanggung oleh negara, meski belakangan katanya presiden SBY kembali mencabut Perpres tentang berobat ke luar negeri bagi pejabat. Tapi hal itu tidak berlaku buat anda yang bukan siapa-siapa alias rakyat jelata. Negara hanya berani mengasuransikan kesehatan anda 19 ribuan dalam sebulan dan tentunya tidak ada berobat ke luar negeri. Betapa sangat terlihat sekali kesenjangan antara pejabat dan rakyat jelata. wajar saja Tere Liye dalam tulisannya menyebutkan istilah Negeri para Bedebah, julukan yang tepat sekali buat Negeri kita tercinta ini. Bagaimana bisa mereka membuat peraturan yang sama sekali tidak memihak kepada rakyat, malah menguntungkan pribadi mereka sendiri.
Di Era pencitraan ini dunia kesehatan menjadi barang empuk untuk dijadikan komoditi politik bagi politikus2 kita. Dengan tawaran berobat murah, berobat gratis, atau sebut saja Program Kartu Dewa Sehat salah seorang Gubernur di sebuah provinsi antah berantah . Akan tetapi tanpa dibarengi perbaikan mutu baik sarana dan prasarana kesehatan dan dengan anggaran kesehatan yang minim .
Kita dari kalangan medis bukan tidak menerima program-program kesehatan yang digulirkan oleh pemerintah. Baik itu gratis, murah,cuma-cuma. Ya kita juga berharap masyarakat bisa dilayani dengan baik di fasilitas2 kesehatan. Siapa dokter yang tidak berharap pasiennya bisa sembuh, dokter mana yang tidak menginginkan pasiennya satu2 bisa di layani dengan baik. Tapi ketika kita dihadapkan pada kurangnya fasilitas, minimnya anggaran untuk kesehatan, kita bisa berbuat apa. Malah kita semakin dituntut oleh pemerintah untuk profesional. Sebagai contoh di rumah sakit tempat saya pernah bekerja, pernah suatu kali saya dimarahi pasien ketika ia kembali dari apotek RS karena Paracetamol yang saya resepkan tidak ada " dok, masa rumah sakit ini tidak ada paracetamol" ia merepet sambil menyodorkan kertas resepnya, ya anda salah alamat jika menyalahkan tenaga kesehatannya. Atau pasien2 yang merasa ditelantarkan akibat ruang rawat penuh, atau bayi2 prematur yang hanya dipanaskan dengan lampu biasa karena tidak adanya inkubator.
Media juga tak mau kalah untuk menyalahkan tenaga medis yang katanya menelantarkan pasien-pasien miskin, berobat hanya untuk orang kaya. Apa mereka gak mikir dana operasional RS itu tidak pake duit, modal ikhlas aja mah gak bisa, obat itu dibeli pake duit, barang2 laboratorium itu dibeli pake duit, ratusan tenaga di rumah sakit itu juga dibayar pake duit. Coba saja telusuri berapa utang pemerintah kepada rumah sakit-rumah sakit, namun di satu sisi mereka mendengungkan untuk bekerja profesional.bagaimana mungkin anda pengen beli mobil,tapi ngasih duit yang pas buat beli sepeda.
Kesimpulan saya apapun istilahnya di 2014 mendatang jaminan kesehatan tetap tidak berpihak bagi rakyat miskin, tapi hanya segelintir bedebah2  di Negeri ini yang menikmatinya.
Jaminan kesehatan hanya berganti nama saja, pelakunya juga itu-itu juga yang mengelola. Jadi jangan terlalu berharap banyak.

Monday, 25 November 2013

Dokter bukan Tuhan, Stop kriminalisasi dokter !!!


Saya baru saja operan pasien di UGD dengan dokter jaga sore sebelumnya, ada beberapa pasien yang belum dipindahkan ke ruangan rawat karena ruangan penuh dan untuk sementara akan di rawat disini menunggu besok apabila ada pasien yang sudah diizinkan pulang dari ruang rawat inap. Tidak seperti sewaktu bertugas di Sumatera yang dengan mudahnya kita akan menyuruh pasien mencari rumah sakit lain apabila ruang rawat inap penuh dan meski seringkali keluarga pasien menuduh kita menolak pasien. Ketika persoalan seperti itu dihadapkan dengan kita disini, bagaimana mungkin kita menyuruh pasien mencari rumah sakit lain karena memang inilah rumah sakit rujukan satu-satunya di pegunungan tengah Papua ini dan merujuk ke rumah sakit provinsi bukanlah hal yang mudah karena akses satu-satunya melalui jalur udara. Tak jarang kita harus merawat pasien di atas brankar karena tempat tidur penuh.
2 pasien dalam kondisi kritis yang seharusnya di rawat ICU tampak sangat mengkhawatirkan, berhubung ruangan ICU dan dokter anastesi belum ada,pasien-pasien yang seharusnya di rawat di ICU terpaksa diinapkan di UGD agar dokter jaga bisa mengontrol kondisinya setiap saat. Ya tentu saja dengan berbagai kekurangan dalam sarana .Bakal menjadi malam yang sangat panjang untuk jaga UGD kali ini. Syukurlah spesialis yang menangani pasien ini kapanpun kita konsulkan beliau akan datang, meski itu tengah malam sekalipun. Saya sangat salut dengan beliau, perhatiannya yang sangat luar biasa kepada pasien, bahkan ketika obat dirumah sakit tidak ada beliau akan membelikan obat diluar jika keluarga pasien tidak sanggup beli.
Salah satu Pasien tiba-tiba kejang lagi, pasien ini sudah mengalami kejang dan henti nafas beberapa kali dalam sehari ini menurut catatan dokter sebelumnya. Selang beberapa menit setelah kejang teratasi dokter spesialis datang ke UGD untuk melihat kondisi pasien. Tiba-tiba keluarga pasien marah-marah gak jelas.
“ saya tidak terima diagnosis anak saya, saya akan tuntut dokter.” Dalam logat Papua suaranya meledak  tiba-tiba sambil tangannya menunjuk-nunjuk dokter spesialis.
“ ini penyakit buatan orang (maksudnya anaknya diguna-guna).” Kami diam saja menunggu ia menyelesaikan kemarahannya. Ternyata tidak berhenti sampai disitu.
“ saya tidak mau tau pokoknya anak saya harus hidup, dokter harus tanggungjawab, kalau anak saya mati dokter akan saya cari, saya orang terkenal di Wamena ini.”
“bapak kami bukan Tuhan yang bisa menjamin hidup mati seseorang,kami hanya bisa berusaha.” Dokter menjelaskan ke pasien dengan baik, suaranya bergetar menahan emosinya jangan sampai keluar.
“ saya tidak mau tau, anak saya harus hidup.”
“bapak ini bagaimana,kalau tidak bisa menerima penjelasan dari saya. Tadi juga saya suruh beli obatnya bapak tidak mau beli, dan terakhirnya saya beli obatnya langsung untuk anak bapak, itupun bapak tidak berterimakasih sama sekali. Bagaimana anak bapak mau sembuh, bapak tidak mau ambil obatnya.”
Akhirnya ia pergi keluar sambil ngedumel tidak jelas.
Bukan hal yang mudah ketika berhadapan dengan pasien dan keluarganya apalagi di Papua, salah-salah bicara bisa-bisa parang atau panah yang datang. Menghadapi watak mereka yang keras perlu kesabaran ekstra, kalau tidak, bisa-bisa dalam beberapa minggu kita akan memilih hengkang dari sini. Tak jarang dokter diancam pakai senjata tajam di UGD, dokter dipukul pasien sampai pingsan. Dan itu semua belum seberapa dibanding sejawat kami yang bertugas lebih di pedalaman lagi, tanpa listrik, tanpa sinyal, ketika bahan makanan habis terpaksa makan ubi, makan mie kadaluarsa, ancaman terkena penyakit menular. Tak jarang ancaman nyawa mereka hadapi, kisah sejawat dokter ketika sebuah parang menempel di lehernya karena alasan beliau tidak mau mengasih obat-obat puskesmas untuk disalahgunakan, dokter yang diperkosa, dokter-dokter yang terkena malaria dan bahkan ada yang sampai meninggal gara-gara malaria. Apa ada perhatian khusus dari pemerintah untuk pengabdian mereka?. Kami tidak mengeluh dengan kondisi pekerjaan yang kami hadapi, kami tidak mengharapkan puja puji dari siapapun, gembar-gembor media untuk tugas ini. Kami hanya butuh profesi kami dihargai bukan malah dikriminalisasi. Dan satu lagi kami bukan Tuhan dan tidak pernah terpikirkan mau jadi Tuhan J.
Do’a dan dukungan kami untuk sejawat kami dr. Ayu dan kawan-kawan, badai akan berlalu. Salam sejawat dari Pegunungan Tengah Papua. selamat berjuang buat teman-teman DIB. Stop kriminalisasi dokter!!!. Salam sejawat