Monday, 11 June 2018

Ramadhan tanpa Ayah

Bulan puasa begini sangat terasa berbeda sekali dengan suasananya dulu. Masa2 pendidikan seperti ini seringkali harus sahur dan berbuka sendiri. ya jadinya suka-suka dan seringnya saya lebih memilih bangun sahur hanya sekedar untuk minum air putih.
Dalam keluargaku sebelum menginjak masa-masa sekolah kami akan dilatih puasa. meski Ayah bukanlah sosok yang religius religius amat tapi kalau puasa beliau paling semangat. mamak lain lagi ia akan sangat marah jika kami tidak shalat atau pergi belajar ngaji, bisa-bisa dimasukkannya ke bak mandi :) , tau ajalahkan ya gmn mamak-makak Batak. dibalik Lembutnya seorang ibu tapi kalau masalah shalat dan ngaji dia akan jadi luar biasa menakutkannya ha ha ha.... pernah saya malam-malam dimandikannya dan diguyur langsung masih dengan baju-bajunya karena gak shalat ke Mesjid. ya Alhasil kelas 1 SD saya sudah lancar baca Quran dan sudah sering khatam....sombooong...ha ha ha...gak lah... ya begitulah kegigihannya mendidik kami 8 anaknya biar jangan terlalu buta Agama. kapan-kapan kalau ada waktu kita cerita tetang mamak superhero ini. berharap juga nanti suatu saat jika saya sudah tidak ada, cucu2nya bisa membaca kisah perjuangnnya mendidik 8 anaknya. jika saya sudah tak bisa lagi bercerita menjelang tidur anak-anakku nantinya mereka akan  bangga punya Opung ( nenek ) yang luar biasa.

kembali ke bulan Puasa. masalah puasa ayah akan mendidik kami bisa puasa full sebelum sekolah. dia gak peduli apa kamu shalat atau gak karena ayah juga waktu itu masih bolong-bolong shalatnya, sampai saya SMA di sekolah Islamic Boardimg School dan mengerti sedikit agama saat itulah perlahan ayah saya ajak untuk shalat. juga masalah merokok, meski ia perokok berat tapi kami anak-anaknya semua didiknya untuk tidak merokok. keras bos klo ketauan merokok, bisa kelar hidupmu dibuat bapak batak yang satu itu, dia gak akan pernah main pukul, tapi tatapan matanya bikin kamu takoncing koncing di celana ( minjam istilah UAS) .

menjelang magrib meja makan buat bersepuluh itu akan penuh dengan makanan berbuka yang penting anak-anaknya gak ada yang batalin puasa, dari ujung kampung ke ujung kampung akan beliau beli semua, belum lagi masakan-masakan mamak, kolak sebaskom, mie goreng, minuman dan lain lain. benar-benar kayak ajang balas dendam. sore-sore kalau kami sudah mulai merengek minta batalin puasa beliau akan bawa keliling keliling naik motor bahkan sampai ke kampung kampung sebelah, pulangnya dengan harta rampasan perang bawa bukaan lagi... kalau dipikir-pikir sangat boros sekali. ya tapi begitulah cara beliau melatih kami agar bisa penuh berpuasa.
" puasa itu ibadah yang tersembunyi, susah buat riya karena gak akan ada yang tau kalau kita puasa apa gak" itu katanya.

Meski seringkali mungkin kita tak se ide Ayah, tapi beberapa aku sangat mengagumimu.
meski mungki  Ayah sangat pemarah, tapi kami berdelapan tak pernah sama sekali engkau pukul bahkan cubit sekalipun, kamu latih kami untuk mandiri, kamu bebaskan kami memilih jalan hidup kami. jarang sekali ayah melarang " yang penting kamu bisa jaga diri".

Ramadhan kali ini tanpamu Ayah, meski tanpa menu buka puasa yang beragam lagi, meski tanpa kehebohan baju baru lebaran lagi. Doaku selalu untukmu dan tentunya untuk Umak. 
Ramdhan kali ini bisa juga Ramdahan yang terakhir untukku Ayah, semoga kita bisa berkumpul disana. salam rindu dari anakmu yang akan selalu mencintaimu.

3 comments: